
jogjaberkabar – Setiap tanggal 1 Suro, masyarakat Yogyakarta memperingati Tahun Baru Jawa.
Peringatan ini tak hanya dipandang sebagai pergantian tahun dalam hitungan kalender Jawa, tetapi juga sebagai momen yang tepat untuk memperdalam nilai-nilai spiritual, budaya, serta refleksi diri.
Tradisi menyambut 1 Suro di Jogja telah diwariskan secara turun-temurun dan tetap dijaga hingga kini, mencerminkan kekayaan budaya yang sangat berharga.
Malam 1 Suro selalu diiringi suasana syahdu dan penuh kekhusyukan.
Berbagai prosesi adat diselenggarakan, baik oleh pihak keraton, lembaga adat, maupun masyarakat luas.
Beragam ritual ini menjadi simbol penghormatan kepada leluhur, sarana permohonan keselamatan, dan wujud rasa syukur kepada Sang Pencipta atas berkah yang telah diberikan.
Berikut ini adalah macam-macam tradisi 1 Suro di Jogja yang setiap tahunnya masih dilestarikan.
1. Tapa Bisu Mubeng Beteng
Salah satu prosesi yang paling dikenal dalam rangkaian peringatan 1 Suro di Yogyakarta adalah Tapa Bisu atau sering disebut juga Mubeng Beteng.
Tradisi ini diselenggarakan oleh Keraton Yogyakarta dan terbuka bagi masyarakat umum serta abdi dalem yang ingin ikut serta.
Dalam prosesi ini, para peserta berjalan kaki mengelilingi benteng keraton sejauh kurang lebih lima kilometer tanpa berbicara sepatah kata pun sepanjang perjalanan.
Keheningan ini bukan sekadar simbol, melainkan menjadi sarana untuk mengendalikan diri, berintrospeksi, dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Tradisi Tapa Bisu menjadi kesempatan bagi setiap individu untuk menilik kembali perbuatan di masa lalu serta memohon petunjuk dalam menapaki hari-hari mendatang.
2. Jenang Suran
Tradisi lainnya yang juga masih dilestarikan adalah penyajian Jenang Suran.
Kegiatan ini umumnya digelar di kawasan Kotagede, tepatnya di Kompleks Makam Raja-Raja Mataram.
Prosesi diawali dengan arak-arakan makanan yang dibawa oleh abdi dalem dari Keraton Ngayogyakarta maupun Kasunanan Surakarta.
Jenang merah-putih menjadi sajian utama, melambangkan keberanian dan kesucian.
Hidangan ini biasanya dilengkapi dengan tumpeng nasi kuning, ingkung ayam kampung, serta sayur kubis.
Setelah prosesi doa dan tahlil bersama, seluruh hidangan dibagikan kepada masyarakat dengan harapan membawa keberkahan bagi yang menerimanya.
3. Lampah Ratri
Selain Keraton Yogyakarta, Kadipaten Pakualaman juga menggelar tradisi serupa yang dikenal dengan sebutan Lampah Ratri.
Seperti halnya Mubeng Beteng, prosesi ini dilaksanakan dengan berjalan kaki mengelilingi kawasan benteng Kadipaten tanpa berbicara sepatah kata pun.
Rute perjalanan Lampah Ratri melintasi jalan-jalan utama seperti Jalan Gajah Mada dan Jalan Harjowinatan dengan jarak tempuh sekitar enam kilometer.
Prosesi ini mengandung nilai spiritual yang mendalam, yakni sebagai bentuk laku prihatin dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
4. Jamasan Pusaka
Tradisi sakral lainnya yang turut dilaksanakan pada bulan Suro adalah Jamasan Pusaka.
Upacara ini menjadi wujud penghormatan terhadap benda-benda pusaka milik keraton, seperti keris, tombak, dan pedang.
Pembersihan pusaka dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan tata cara khusus, melambangkan pembersihan diri dari segala hal buruk serta memperkokoh ikatan batin dengan peninggalan leluhur.
5. Bubur Suran
Sebagai bagian dari tradisi 1 Suro, masyarakat Yogyakarta juga mengenal hidangan khas berupa Bubur Suran.
Bubur ini dibuat dari campuran santan, garam, jahe, dan serai, disajikan bersama opor ayam, sambal goreng, dan taburan tujuh jenis kacang.
Ketujuh kacang tersebut — kacang tanah, kacang mede, kedelai, kacang hijau, kacang tholo, kacang bogor, dan kacang merah.
Yang masing-masing melambangkan hari dalam satu pekan, sebagai simbol harmoni dalam menjalani kehidupan.
Jadi, kini diketahui bahwa ada banyak tradisi yang dilakukan masyarakat Jogja dalam menyambut Suro.
Tradisi-tradisi ini tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Yogyakarta, tetapi juga menjadi kekayaan budaya Nusantara yang patut dihargai dan dilestarikan.***