
jogjaberkabar – Setiap tahun, masyarakat Jawa memperingati satu malam yang dianggap sakral, penuh makna, dan menyimpan nilai sejarah yang mendalam Malam 1 Suro.
Meski terdengar seperti istilah mistis, sebenarnya malam ini menandai awal tahun baru dalam penanggalan Jawa. Lalu, apa sebenarnya makna malam 1 Suro? Bagaimana asal-usulnya, dan tradisi apa yang melekat padanya?
Perbedaan Kalender Jawa dan Islam: Satu Suro dan Satu Muharram
Secara umum, tanggal 1 Suro menandai permulaan tahun baru Jawa, sementara dalam Islam, 1 Muharram adalah awal tahun dalam kalender Hijriah.
Menariknya, dua tanggal ini sering kali diperingati bersamaan. Situs resmi Kementerian Agama RI pun menyebutkan bahwa tanggal 1 Suro kerap dianggap jatuh tepat pada tanggal 1 Muharram.
Pada tahun 2025, tanggal 1 Muharram jatuh pada 27 Juni, sehingga malam 1 Suro diperingati pada malam Kamis, 26 Juni 2025, dimulai seusai matahari terbenam.
Ini karena dalam tradisi Jawa dan Islam, hari baru dimulai saat matahari terbenam, bukan pukul 00.00 seperti dalam sistem kalender Masehi.
Sejarah dan Latar Belakang Malam 1 Suro
Jejak sejarah malam 1 Suro tak lepas dari peran penting para tokoh besar dalam sejarah Nusantara. Ada dua catatan penting yang sering dijadikan rujukan mengenai lahirnya 1 Suro dalam sistem penanggalan Jawa:
1. Penyesuaian Kalender oleh Sunan Giri II
Pada masa Kerajaan Demak, tepatnya sekitar tahun 1443 Jawa, Sunan Giri II disebut-sebut melakukan penyesuaian antara kalender Hijriah dan kalender Jawa.
Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya memperkenalkan ajaran Islam kepada masyarakat Jawa dengan cara yang lebih akrab dan mudah diterima.
Penyesuaian kalender ini juga bertujuan untuk menciptakan kesatuan antar berbagai kelompok kepercayaan yang hidup berdampingan saat itu.
2. Reformasi Kalender oleh Sultan Agung
Namun, peran paling menonjol dalam penetapan malam 1 Suro justru datang dari Sultan Agung Hanyokrokusumo, raja Mataram yang dikenal bijaksana dan visioner.
Pada tahun 1644 Masehi (atau 1555 dalam tahun Jawa), Sultan Agung secara resmi menggabungkan sistem kalender Saka yang berbasis Hindu-Buddha dengan kalender Hijriah Islam menjadi kalender Jawa.
Perubahan ini mulai diberlakukan pada hari Jumat Legi bulan Jumadil Akhir tahun 1555 Saka, bertepatan dengan 8 Juli 1633 Masehi.
Tujuan Sultan Agung kala itu bukan hanya untuk memperluas syiar Islam, tetapi juga untuk menyatukan rakyat Jawa baik kelompok santri maupun abangan agar bersatu melawan penjajahan Belanda di Batavia.
Salah satu bentuk kebijakan penyatuan itu adalah penetapan 1 Suro sebagai awal tahun dalam kalender Jawa.
Setiap hari Jumat Legi juga dijadikan momen penting untuk laporan pemerintahan yang diiringi pengajian dan dipimpin oleh para penghulu kabupaten.
Arti Penting Malam 1 Suro dalam Budaya Jawa
Bagi masyarakat Jawa, bulan Suro dianggap sebagai bulan yang sakral. Malam 1 Suro, khususnya, menjadi saat yang penuh kontemplasi dan penghormatan terhadap leluhur.
Di banyak daerah, malam ini bukan momen untuk pesta atau kegiatan duniawi lainnya. Justru, masyarakat lebih memilih untuk melakukan kegiatan spiritual, seperti ziarah kubur, pengajian, hingga haul atau peringatan wafat tokoh-tokoh penting.
Dalam buku Sejarah Indonesia karya Windriatu, dijelaskan bahwa masyarakat Jawa meyakini 1 Suro sebagai hari keramat.
Banyak orang menghindari kegiatan besar seperti pernikahan, pindah rumah, atau membuka usaha baru selama bulan ini karena dianggap bisa membawa sial. Ini tidak lepas dari kepercayaan leluhur yang masih kuat berakar hingga kini.
Di Jawa Barat, bulan ini dikenal dengan sebutan bulan Kapit atau Apit, karena terletak di antara dua perayaan besar umat Islam, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Masyarakat setempat juga pernah menganggap bulan ini sebagai masa yang kurang membawa keberuntungan, sejalan dengan anggapan masyarakat Jawa lainnya di bagian tengah dan timur.
Tradisi dan Ritual di Malam 1 Suro
Tradisi menyambut malam 1 Suro sangat beragam dan berbeda-beda di tiap daerah. Meski ada unsur mistis yang kental, tak sedikit pula yang menjadikan malam ini sebagai waktu introspeksi diri dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Beberapa tradisi yang masih lestari hingga kini di antaranya:
Tapa bisu: Berjalan mengelilingi benteng tanpa mengucap sepatah kata pun, seperti yang dilakukan di Yogyakarta.
Ruwatan dan bersih desa: Membersihkan kampung secara simbolik agar dijauhkan dari marabahaya.
Ziarah ke makam leluhur: Menjadi bentuk penghormatan kepada arwah para pendahulu.
Tirakatan dan doa bersama: Biasanya dilakukan di rumah atau masjid, dengan harapan mendapatkan keberkahan di tahun baru.
Meski seringkali dilingkupi berbagai mitos dan cerita mistis, malam 1 Suro sejatinya adalah bagian dari kearifan lokal masyarakat Jawa.
Suro mencerminkan bagaimana sejarah, agama, dan budaya bersatu dalam satu waktu yang sakral. Bagi banyak orang, malam ini bukan sekadar penanda tahun baru, tetapi juga momen untuk menenangkan diri, merefleksikan perjalanan hidup, dan memperkuat ikatan spiritual.
Dengan mengetahui sejarah dan makna di balik malam 1 Suro, kita bisa lebih menghargai tradisi leluhur sekaligus melihat bagaimana Islam berkembang secara harmonis dengan budaya lokal di Nusantara.
***