Sebut Belum Buat Cuaca Buatan Imbas Kekeringan Parah di Wilayahnya, Bupati Gunungkidul Gandeng Baznas dan Skema BTT

Bagikan :

Memasuki musim kemarau panjang tahun 2026 yang datang lebih awal dari perkiraan, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul bergerak cepat mengantisipasi krisis air bersih. Tanggap darurat ini direspons langsung oleh Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, usai merebaknya kabar warga Kapanewon Rongkop yang terpaksa menjual hewan ternak demi membeli air tangki.

 

Untuk memastikan penanganan bencana tidak terlambat, jajaran Pemkab Gunungkidul menggandeng Forum Komunikasi Pemkab, Polres, Koramil, hingga tingkat Polsek untuk memetakan titik rawan dan menyalurkan air bersih (dropping air).

 

“Jadi masing-masing kapanewon kemarin sudah dapat koordinasi dengan Forkom Pemkab untuk sudah mengeluarkan anggaran dropping air. Hari ini beberapa penewu sudah melaporkan, bahkan Pak Kapolres juga sudah memberikan laporan bahwa Kapolsek dan Koramil, Penewu ini sudah mulai mengidentifikasi titik-titik rawan dengan di-dropping air bersih,” ujar Endah saat ditemui usai rapat koordinasi daerah triwulan dua di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Kamis (30/7/2026).

 

Menurutnya, skema penanganan ini merupakan tindak lanjut dari apel darurat hidrometeorologi yang telah digelar sejak akhir Juni lalu. Pemkab memperpanjang masa berlaku tanggap bencana agar alokasi dana dapat segera dieksekusi.

 

“Jadi merespon berita yang sudah muncul maka mulai minggu ini sesuai dengan surat yang sudah kita keluarkan untuk kebencanaan kita nanti sampai dengan tanggal 1 Agustus hingga kita perpanjang, karena 29 Juni kemarin kita sudah apel darurat hidrometeorologi,” jelas Endah.

 

Ia menegaskan pentingnya respons cepat dari jajaran pemerintah untuk bisa melaksanakan anggaran yang sudah ada.

 

“Jadi jangan sampai pemerintah kalah duluan dengan pihak-pihak lain dalam menangani kekeringan ini. Harapan kami seperti itu,” ucap Endah.

Gandeng Baznas Sebar Toren 5.000 Liter

Untuk memperluas jangkauan distribusi, Pemkab Gunungkidul mengalokasikan anggaran di tingkat kapanewon, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), hingga mengamankan alokasi Belanja Tidak Terduga (BTT).

 

“Jadi anggaran untuk dropping air bersih itu kami cantolkan di kecamatan atau kapanewon, Badan Penanggulangan Bencana, dan kami ada BTT juga,” terang Endah.

 

Selain itu, Pemkab juga menggandeng Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) untuk menyediakan tempat penampungan air berkapasitas besar di titik-titik strategis. Disebutnya, langkah ini menyasar warga yang tidak memiliki penampungan pribadi agar tak perlu berjalan jauh mencari air.

 

“Bahkan kemarin kita menggandeng pihak-pihak lain yang sah seperti Baznas membantu, ini untuk tahun pertama membantu penampungan air. Jadi di titik-titik tertentu ada 5.000 liter penampungan air sehingga nanti dropping-nya di penampungan itu supaya warga yang tidak punya penampungan itu bisa mengakses untuk tidak perlu mencari sumber-sumber air yang wilayahnya sangat sulit,” imbuh Endah.

Sumber PDAM dan Ladang Mulai Kering

Lanjut Endah mengungkapkan, kondisi kekeringan tahun ini dinilai lebih berat karena durasi kemarau yang bergeser lebih awal. Dampaknya tidak cuma dirasakan untuk kebutuhan harian warga, melainkan sudah memukul lahan pertanian serta debit air PDAM.

 

“Dan tidak hanya untuk air bersih tetapi juga untuk sumber airnya PDAM dan untuk ladang ini kami juga sudah mulai kering, karena kemarau di tahun ini berbeda dengan tahun lalu. Tahun lalu kami tidak seperti ini karena ini kemaraunya lebih awal sehingga lebih panjang. Nah, ini yang menjadi persoalan,” beber Endah.

 

Ekskalasi ancaman kekeringan ini, kata Endsh, juga telah disampaikan secara langsung kepada Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X (Ngarsa Dalem).

 

“Karena itu tadi kami sudah matur juga dengan Ngarsa Dalem kalau Gunungkidul sampai saat ini kekeringan. Insya Allah masih bisa tertangani, BTT masih utuh dan dana di badan penanganan bencana masih, akan kita dropping yang anggaran di masing-masing kapanewon,” ujar Endah.

Peta Wilayah Paling Parah

Terkait dukungan anggaran, BPBD Gunungkidul mengantongi dana hampir setengah miliar rupiah. Sementara itu, tiap kapanewon rawan disokong anggaran yang setara dengan lebih dari 100 tangki air bersih.

 

“Kalau di BPBD itu lebih dari hampir setengah miliar. Tapi kalau di kapanewon itu rata-rata lebih dari seratus lebih tangki untuk anggarannya. Kapanewon tertentu yang memang selama ini berpotensi kekeringan kayak Semin dan sebagainya tidak digunakan. Tetapi kalau yang Tepus, Rongkop, kemudian Panggang sudah menyampaikan,” jelasnya.

Endah menambahkan, sejumlah wilayah bahkan dilaporkan telah menyalurkan puluhan tangki air secara masif dalam beberapa hari terakhir.

 

“Contohnya yang di Ponjong ini tadi Ibu Penewu sudah melaporkan sudah dropping 50 tangki. Lalu Saptosari juga sudah lebih dari 50 tangki. Yang parah itu Tepus, kemudian Rongkop, Panggang itu parah,” kata Endah.

 

Disamping itu, ia menegaskan telah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak. Namun, saat disinggung akan mengambil opsi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau rekayasa hujan buatan dalam waktu dekat, ia menyatakan belum membuatnya.

 

“Belum, belum. Mohon doanya kita bisa tangani ini,” pungkas Endah.

Berita Terkini