
jogjaberkabar – Film Merah Putih One for All menjadi salah satu tontonan yang banyak dibicarakan warganet sejak dirilis di bioskop Indonesia pada 14 Agustus 2025.
Meski kehadirannya sempat menimbulkan pro dan kontra, karya sutradara Endiarto ini akhirnya resmi tayang di sejumlah jaringan bioskop nasional, termasuk di kawasan Jabodetabek hingga Surabaya.
Namun, perhatian besar di media sosial ternyata tidak sejalan dengan jumlah penonton yang hadir di layar bioskop. Sejak hari pertama tayang, film ini justru menunjukkan angka penjualan tiket yang sangat rendah.
Capaian Penonton Selama Lima Hari Tayang
Berdasarkan data yang dirilis akun X @cinepoint_, jumlah penonton film Merah Putih One for All masih jauh di bawah ekspektasi. Pada hari pertama penayangan, Kamis 14 Agustus 2025, film ini hanya mampu meraih 720 penonton. Hingga Sabtu, 16 Agustus 2025, total penontonnya baru mencapai 1.516 orang di seluruh Indonesia.
Situasi semakin kontras pada hari keempat, ketika film ini hanya mendapat jatah 17 showtime di berbagai bioskop. Padahal di saat bersamaan, film animasi Jepang Demon Slayer: Infinity Castle sukses menembus angka fantastis 1 juta penonton dalam tiga hari tayang.
Update terbaru per Senin, 18 Agustus 2025, tercatat jumlah penonton Merah Putih One for All baru menyentuh 2.276 orang. Dengan capaian ini, film tersebut berada di posisi terbawah daftar film yang sedang diputar di bioskop Indonesia.
Kontroversi Sejak Trailer hingga Penayangan
Sejak perilisan trailernya, Merah Putih One for All tidak lepas dari kritik. Banyak komentar negatif yang menilai film ini kurang layak tayang, bahkan sempat muncul kabar bahwa perilisannya akan dibatalkan. Meski demikian, film akhirnya tetap hadir di layar lebar.
Tudingan bahwa produksi film ini menggunakan dana pemerintah juga sempat beredar, tetapi isu tersebut kemudian dibantah. Endiarto menegaskan bahwa film ini murni lahir dari inisiatif dirinya dan tim produksi, dengan semangat menghadirkan karya yang berhubungan langsung dengan momen proklamasi kemerdekaan.
Visi Sang Sutradara: Satu Film Setiap 17 Agustus
Menariknya, meskipun jumlah penonton sangat kecil, Endiarto sudah memastikan akan melanjutkan proyek ini ke sekuel berikutnya. Ia berkomitmen setiap tanggal 17 Agustus akan selalu hadir film baru bertajuk Merah Putih One for All.
“Setiap tahun, 17 Agustus pasti muncul Merah Putih One for All,” ungkapnya saat hadir di podcast dr. Richard Lee.
Lebih jauh, ia juga mengaku ada pihak yang tertarik membawa film ini ke luar negeri. Seorang distributor Indonesia bahkan sudah mendekatinya untuk mengupayakan agar Merah Putih One for All bisa tayang di mancanegara.
Filosofi di Balik Film Merah Putih One for All
Endiarto menuturkan bahwa lahirnya film ini tidak lepas dari keprihatinannya terhadap minimnya karya layar lebar yang secara khusus mengangkat tema proklamasi dan bendera merah putih. Ia ingin memberikan tontonan yang bisa mengingatkan generasi muda tentang makna kemerdekaan Indonesia, meski hasil awalnya belum sesuai harapan.
Setelah lima hari tayang, jumlah penonton film Merah Putih One for All masih stagnan di kisaran ribuan dan berada di posisi terbawah film yang sedang beredar di bioskop.
Walau begitu, sutradara Endiarto tidak patah semangat. Ia justru menjadikan proyek ini sebagai tradisi tahunan setiap peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Film ini membuktikan bahwa semangat berkarya bisa terus hidup, meskipun capaian komersial belum memuaskan. Tinggal bagaimana publik akan menilai, apakah kelanjutan sekuelnya nanti mampu bangkit dan menarik lebih banyak penonton dibanding edisi perdananya.
***