
jogjaberkabar – Belakangan viral rombongan baju putih yang berada di Puncak Lawu. Video kegiatan sekelompok orang berpakaian putih ini mengundang rasa penasaran pendaki maupun warganet.
Puncak Gunung Lawu kembali menjadi sorotan publik setelah sebuah video menampilkan rombongan berpakaian serba putih yang melakukan aktivitas tak biasa di kawasan Hargo Dumilah.
Video tersebut mendadak viral di media sosial karena menampilkan adegan yang mengundang rasa penasaran sekaligus kontroversi.
Dalam rekaman berdurasi kurang dari satu menit itu, tampak sekelompok orang berpakaian putih bersila menghadap sebuah tugu yang dikenal sebagai Tugu Triangulasi.
Mereka menyanyikan lagu berbahasa Jawa yang berisi pujian kepada Tuhan dan utusan-Nya, menciptakan suasana mistis yang menyelimuti kawasan tertinggi di Gunung Lawu, Jawa Tengah.
Aktivitas Unik di Puncak: Mirip Tawaf
Selain video pertama yang memperlihatkan mereka duduk bersila, video kedua menampilkan kegiatan lain yang tidak kalah mencolok. Dalam video ini, rombongan berbaju putih tampak berjalan melingkari Tugu Triangulasi searah jarum jam.
Aktivitas ini mengingatkan pada prosesi tawaf yang dilakukan umat Islam di Ka’bah, sehingga menimbulkan berbagai spekulasi dari warganet.
Aksi rombongan ini terekam di kawasan Hargo Dumilah, titik tertinggi di Gunung Lawu, pada siang hari Jumat, 11 Juli 2025. Mereka diduga naik melalui jalur pendakian via Cemoro Sewu, yang berada di wilayah Magetan, Jawa Timur. Jalur ini memang kerap digunakan oleh para pendaki untuk mencapai puncak Lawu.
Respons dari Relawan dan Pihak Kehutanan
Menanggapi ramainya perbincangan publik, seorang relawan pendakian bernama Eko Sapardi Memora, dari Relawan Ceto (Reco), memberikan klarifikasi. Ia mengonfirmasi bahwa rombongan tersebut merupakan bagian dari sebuah kelompok aliran kepercayaan yang tengah menjalankan ritual spiritual di atas gunung.
Eko menyebut bahwa informasi tersebut ia peroleh dari kalangan relawan yang menyebar di sekitar jalur pendakian Lawu. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak memiliki unsur negatif dan merupakan bagian dari keyakinan yang dianut oleh kelompok tersebut.
Sementara itu, Kepala Asper Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Lawu Selatan, Mulyadi, juga memberikan penjelasan resmi. Ia memastikan bahwa aktivitas tersebut bukan bagian dari aliran menyimpang atau sesat, sebagaimana dikhawatirkan oleh sebagian masyarakat.
Bahkan, Mulyadi telah menghubungi pihak terkait dan berhasil memperoleh informasi mengenai identitas pemimpin rombongan tersebut. Mereka berasal dari kelompok Nahdlatul Ulama (NU) Purwodadi.
Menurut Mulyadi, kegiatan spiritual itu dipimpin oleh seseorang bernama Rohmat, warga Desa Sambungganggi, Kecamatan Sumber, Kabupaten Purwodadi. Kegiatan itu, sudah dilakukan setiap tahun untuk ziarah dan tawasul kepada Sunan Gunung Lawu.
Ritual di Puncak Lawu ini sudah dilakukan selama 14 tahun berturut-turut. Mereka melakukannya setiap hari Jumat setelah tanggal 11 Syuro. Mereka naik ke puncak sejak Kamis pagi dan bermalam di atas.
Kemudian, menjelang salat Jumat dilakukan doa bersama dan salat Jumat karena jumlah jamaah mencukupi.
Ia juga menegaskan bahwa pakaian serba putih yang dikenakan para peserta tidak digunakan sejak dari kaki gunung. Diduga, mereka mengenakan pakaian tersebut sesaat sebelum melakukan ritual di area puncak.
Gunung Lawu: Magnet Spiritualitas dan Budaya
Gunung Lawu memang bukan sekadar destinasi pendakian biasa. Sejak lama, gunung ini dikenal sebagai tempat yang sarat dengan nilai spiritual, mistik, dan budaya.
Tak jarang, orang-orang dari berbagai latar belakang keyakinan melakukan semedi atau ritual di kawasan puncak gunung ini. Banyak tokoh spiritual dan penganut kepercayaan menganggap Gunung Lawu sebagai tempat sakral yang memiliki energi spiritual tinggi.
Oleh karena itu, kemunculan rombongan berpakaian putih bukanlah hal yang sepenuhnya asing bagi para relawan atau warga sekitar.
Meski demikian, viralnya video ini menyoroti kembali pentingnya pemahaman lintas kepercayaan serta sikap toleransi terhadap praktik keagamaan dan spiritual yang berbeda.
Kejadian ini menjadi pengingat bahwa Indonesia adalah negara dengan keberagaman budaya dan keyakinan yang begitu luas. Puncak Lawu yang menjadi saksi kegiatan rombongan berbaju putih ini menegaskan bahwa ruang publik, termasuk alam bebas, tak jarang menjadi tempat bertemunya berbagai ekspresi spiritualitas.
Meski sempat menimbulkan tanda tanya di kalangan netizen, klarifikasi dari relawan dan pihak kehutanan membuktikan bahwa tidak ada hal yang melanggar hukum ataupun norma.
Kegiatan tersebut adalah bagian dari kepercayaan kelompok tertentu yang memilih mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa dengan cara mereka sendiri.
Dengan maraknya penyebaran informasi di media sosial, penting bagi masyarakat untuk tetap bijak dan tidak cepat mengambil kesimpulan sebelum mengetahui kebenaran di balik sebuah peristiwa.
Gunung Lawu tetaplah simbol alam yang menyimpan banyak cerita, baik mistis, spiritual, maupun sejarah yang hidup dalam budaya masyarakat sekitarnya.
***