Viral Pacu Jalur Mendunia, Event Tahunan Riau Ini Diklaim Punya Negara Tetangga

Bagikan :
Viral Pacu Jalur asal Riau yang mendunia tapi diklaim milik negara tetangga. (dok. Kemenparekraf)

jogjaberkabar – Tradisi Pacu Jalur dari Riau, Indonesia, kini menjadi sorotan dunia setelah aksi seorang bocah penari di haluan perahu dalam sebuah perlombaan terekam dan viral di media sosial.

Dalam video tersebut, seorang anak yang akrab dijuluki Anak Coki tampil menari dengan penuh semangat di ujung perahu panjang khas Pacu Jalur, sembari rekan-rekannya mendayung dengan irama yang kompak. Aksi ini tak hanya memukau penonton lokal, tetapi juga menginspirasi warganet dari berbagai negara.

Menariknya, tarian khas dalam momen Pacu Jalur tersebut bahkan ditiru oleh beberapa pemain dari klub sepak bola ternama, Paris Saint-Germain (PSG), dalam unggahan video mereka di media sosial.

Gerakan khas penari Pacu Jalur ini kemudian dikenal luas di jagat maya dengan sebutan “aura farming”, dan sontak menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Namun, keberhasilan ini dibarengi dengan sebuah ironi bahwa budaya asli Indonesia ini justru diklaim negara tetangga sebagai miliknya.

Asal Usul Pacu Jalur: Jejak Sejarah Sejak Abad ke-17

Pacu Jalur bukanlah sekadar perlombaan perahu biasa. Tradisi ini memiliki akar sejarah panjang dan mendalam di tengah masyarakat Kuantan Singingi, Riau.

Menurut catatan sejarah, tradisi ini telah ada sejak abad ke-17. Kala itu, perahu panjang disebut “jalur” merupakan alat transportasi utama yang digunakan oleh warga yang tinggal di sepanjang Sungai Kuantan.

Di masa ketika infrastruktur darat belum berkembang, masyarakat menggantungkan mobilitas mereka pada jalur air.

Perahu besar ini mampu memuat puluhan orang dan digunakan untuk berpindah dari satu kampung ke kampung lainnya. Seiring waktu, jalur tidak hanya berfungsi sebagai moda transportasi, tetapi juga memiliki nilai simbolis dan estetika.

Perahu-perahu ini dihias dengan ornamen kepala hewan seperti ular, buaya, hingga harimau, dilengkapi dengan payung, tiang bendera, dan kain selendang warna-warni. Keindahan dan kemegahan jalur kemudian menjadikannya simbol status sosial dan kebanggaan masyarakat.

Dari sinilah kemudian berkembang menjadi perlombaan budaya, yang dirayakan sebagai bagian dari hari-hari besar, termasuk Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Pacu Jalur: Event Budaya Riau yang Dinanti

Setiap bulan Agustus, Sungai Kuantan dipenuhi sorak-sorai masyarakat yang antusias menyambut Festival Pacu Jalur, yang kini menjadi agenda tahunan Pemerintah Provinsi Riau. Ajang ini tidak hanya menarik wisatawan lokal, tetapi juga mulai menarik perhatian wisatawan mancanegara.

Dalam setiap perlombaan, lebih dari 100 perahu panjang, masing-masing berisi 45 hingga 60 pendayung berlaga memperebutkan gelar juara. Setiap tim mendayung dengan penuh semangat, dipandu oleh penari yang berada di ujung perahu, mengatur ritme dan semangat tim.

Tradisi ini bahkan sudah dikenal sejak masa kolonial Belanda. Pada zaman penjajahan, Pacu Jalur kerap digelar untuk merayakan ulang tahun Ratu Belanda, Wilhelmina, setiap tanggal 31 Agustus. Saat itu, perlombaan bisa berlangsung dua hingga tiga hari, bergantung pada banyaknya peserta.

Kini, Pacu Jalur telah menjelma menjadi pesta budaya yang meriah. Dentuman meriam menandai dimulainya perlombaan, disusul teriakan semangat dan dukungan masyarakat di sepanjang sungai. Tak hanya perlombaan, festival ini juga diramaikan dengan berbagai pertunjukan seni, kuliner tradisional, serta pameran budaya.

Budaya yang Mendunia, Namun Dihadapkan pada Klaim Negara Tetangga

Sayangnya, ketika nama Pacu Jalur mulai dikenal dunia melalui media sosial, muncul sejumlah klaim dari warganet luar negeri yang menyebut bahwa tradisi ini bukan milik Indonesia.

Komentar-komentar seperti “It’s a Vietnamese trend,” “Pacu Jalur from Thailand,” hingga “Melayu Malaysia punya itu” menghiasi unggahan viral dari klub PSG yang menampilkan tarian ala Pacu Jalur.

Bahkan beberapa warganet dari Filipina dan Malaysia turut menyatakan bahwa perlombaan perahu panjang tersebut merupakan bagian dari budaya mereka.

Mereka menyisipkan tagar khas negara masing-masing dalam unggahan dan komentar, seolah ingin mengklaim budaya ini sebagai milik mereka.

Padahal, secara historis dan antropologis, Pacu Jalur adalah milik asli masyarakat Kuantan Singingi di Provinsi Riau, Indonesia, yang telah hidup dan berkembang sejak lebih dari tiga abad silam.

Simbol Jati Diri dan Warisan yang Harus Dijaga

Pacu Jalur tidak hanya mencerminkan semangat kompetisi. Lebih dari itu, ia adalah representasi nilai-nilai luhur masyarakat Riau gotong royong, kekompakan, dan kecintaan terhadap warisan leluhur.

Tradisi ini terus diwariskan dari generasi ke generasi. Anak-anak di Kuansing dilatih sejak dini untuk mengenal sejarah, ikut dalam tim pendayung, bahkan tampil sebagai penari di ujung perahu.

Keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga dan mempromosikan Pacu Jalur menjadi benteng pertahanan dari ancaman klaim budaya oleh negara lain.

Menanggapi fenomena klaim budaya ini, para tokoh adat dan pemerintah daerah menegaskan bahwa Pacu Jalur adalah warisan tak benda yang harus dilindungi.

Mereka mendorong pelestarian dan promosi melalui jalur hukum dan diplomasi budaya internasional.

Viralnya Pacu Jalur menjadi bukti bahwa budaya lokal memiliki potensi besar untuk dikenal secara global. Namun, hal ini juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga orisinalitas dan pengakuan terhadap tradisi sendiri.

Masyarakat Kuansing kini justru semakin bersemangat dalam melestarikan budaya ini. Generasi muda dilibatkan dalam setiap aspek penyelenggaraan, mulai dari pelatihan, pertunjukan seni, hingga dokumentasi digital agar jejak budaya ini tidak hilang atau diklaim pihak luar.

Di era digital dan globalisasi seperti sekarang, budaya lokal seperti Pacu Jalur bisa menjadi diplomasi budaya Indonesia yang efektif asal dikelola dan dipromosikan secara serius dan profesional.

Dari Sungai Kuantan untuk Dunia: Pacu Jalur Milik Indonesia

Pacu Jalur telah menempuh perjalanan panjang dari sungai-sungai di pedalaman Riau menuju panggung internasional. Video viral, gerakan penari, hingga sorotan klub sepak bola dunia hanyalah awal dari kebangkitan tradisi ini sebagai ikon budaya Indonesia.

Namun, agar tidak menjadi sekadar sensasi sesaat yang diambil alih negara lain, penting bagi semua pihak mulai dari pemerintah, masyarakat, hingga generasi muda untuk bersama-sama menjaga dan memperjuangkan Pacu Jalur sebagai warisan budaya milik Indonesia yang sah.

***

Berita Terkini