Viral Booking Area Camp di Gunung, Pemilik Tiga Dewa Adventure Dicari Netizen

Bagikan :
Ilustrasi viral siapa pemilik Tiga Dewa Adventure. (Pixabay.com)

jogjaberkabar – Fenomena mendaki gunung kini kembali jadi sorotan hangat di media sosial, setelah muncul kontroversi praktik booking area camp di sejumlah jalur pendakian populer di Indonesia.

Salah satu pihak yang terseret dalam pusaran kontroversi ini adalah komunitas pendakian Tiga Dewa Adventure, yang kini tengah diburu identitas pemiliknya oleh netizen.

Insiden ini mencuat pada awal Juni 2025 ketika akun TikTok @siputgunung.id mengunggah video yang memperlihatkan situasi janggal di area camp Gunung Merbabu.

Dalam video tersebut, terlihat sejumlah pendaki kesulitan mencari tempat mendirikan tenda karena area strategis telah “dibooking” oleh kelompok tertentu. Padahal, secara etika dan semangat kebersamaan, lahan di gunung seharusnya terbuka untuk siapa saja.

Tak lama berselang, kasus serupa terjadi di Pos 3 Gunung Sindoro, di mana seorang pendaki bahkan harus membongkar tendanya atas klaim sepihak dari rombongan open trip.

Kelompok tersebut mengaku telah “memesan” area tersebut melalui jasa yang diduga dikelola oleh Tiga Dewa Adventure.

Siapa Pemilik Tiga Dewa Adventure?

Setelah video tersebut viral, pertanyaan pun muncul: siapa pemilik Tiga Dewa Adventure? Sayangnya, hingga artikel ini ditulis, belum ada informasi resmi mengenai identitas pemilik komunitas pendakian asal Semarang ini.

Namun, banyak netizen yang berharap adanya klarifikasi tersebut serta tanggung jawab moral dari pengelola atau pemiliknya. Adapun akun Instagram Tiga Dewa Adventure adalah @tigadewaadventureindonesia.

Sementara itu, pemilik sekaligus pendiri Tiga Dewa Adventure diketahui bernama Muhammad Rifqi Maulana, lulusan Magister Ilmu Lingkungan dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

Reaksi Komunitas Pendaki dan Netizen

Respon dari komunitas pendaki pun sangat beragam, namun mayoritas mengecam praktik booking area camp.

Banyak yang berpendapat bahwa gunung adalah milik bersama dan tidak semestinya dimonopoli oleh kelompok tertentu, apalagi demi kepentingan komersial atau konten belaka.

Aktivis lingkungan dan pengelola basecamp gunung pun turut angkat bicara. Mereka menyayangkan tren mendaki hanya demi “eksistensi media sosial” yang justru mencederai nilai solidaritas, gotong royong, dan rasa hormat terhadap alam.

Kasus viral ini menjadi pengingat pentingnya menjaga etika dan semangat kebersamaan dalam mendaki gunung.

Praktik booking area camp tidak hanya mengganggu kenyamanan pendaki lain, tetapi juga berpotensi merusak citra komunitas pecinta alam yang seharusnya menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan hormat pada alam.

Sampai saat ini, misteri siapa pemilik Tiga Dewa Adventure masih terus dicari oleh netizen. Harapan publik kini tertuju pada adanya regulasi yang lebih tegas dari pengelola gunung dan kesadaran kolektif dari para pelaku wisata alam untuk tidak mengubah gunung menjadi ajang eksklusif bagi segelintir pihak.

***

Berita Terkini