Pengelolaan keuangan masih menjadi titik lemah para seniman yang ada di Yogyakarta. Meskipun seringkali membuat seniman harus berkarya tanpa memikirkan sisi keuangan ataupun pendapatan mereka selama ini.
Oleh karenanya, UOB Indonesia menggelar ArtFul Balance. Hajatan yang digelar di Museum Benteng Vredeburg, Kamis (27/6/2024) ini mengajak seniman dan pegiat seni di Jogja memahami pengelolaan keuangan.
Dalam acara tersebut para seniman diajak memahami lebih mengenai literasi keuangan yang akan membantu dalam pengelolaan finansial. Pasalnya pemahaman literasi pengelolaan keuangan saat ini masih merupakan persoalan fundamental untuk membangun budaya keuangan yang berorientasi menjaga kesehatan keuangan.
“Perencanaan keuangan dan perkiraan keuangan yang dibutuhkan memang masih lemah,” kata Head Of Strategic Communication and Brand Head UOB Indonesia Maya Rizano.
Masih rendahnya tingkat literasi dan inklusi keuangan menjadi salah satu kendala dan berdampak besar bagi masyarakat tak terkecuali bagi para seniman, yang saat ini populasi pekerja seni dan kreatif Indonesia tercatat sebesar 200 ribu lebih. Situasi inilah yang kemudian mendorong UOB Indonesia untuk aktif bergerak berkolaborasi membantu para seniman.
Dia menambahkan penerapan art management sangat penting sebagai pengetahuan dasar dalam pengelolaan seni. Sebagai pekerja seni dan kreatif haruslah bisa mengambil bagian dan bergerak dinamis, menghadapi perubahan serta lingkungan global.
“Kedepannya sebagai seniman, sangat perlu dalam mengoptimalkan potensi dan kinerja bidang kebudayaan serta penguatan di sektor keuangan,” tambahnya.
Vera Margaret, Head of Deposit & Wealth Management UOB Indonesia menambahkan edukasi terhadap pengetahuan pengelolaan keuangan bagi masyarakat sangat perlu dilakukan. Penjelasan terkait berbagai produk dengan risikonya secara jelas dan baik, agar dapat menikmati hasilnya secara nyata jadi tujuan akhir.
Sementara Heri Pemad, yang 17 tahun mengkreasi Artjog juga pendiri Pemat Art Management mengungkap bahwa literasi keuangan pada seniman sangat penting untuk dilakukan. Ia mengapresiasi UOB Indonesia yang peduli pada seniman bahkan sudah 14 tahun rutin menggelar UOB Painting of The Year.
“Kami dulu awalnya memang dari senang, dapat untung akhirnya menekuni. Rugi rupiah tak apa yang penting senang. Ini yang membuat galeri itu ada ruhnya,” tambahnya.
Pemad mengungkap, gerak seni yang dinamis ternyata bisa membawa dampak besar bagi masyarakat. Ia menceritakan dulu Artjog hanya digelar satu minggu, kemudian 15 hari, satu bulan, 1,5 bulan dan saat ini 2 bulan 5 hari.
“Banyak faktor, namun dengan dampak penyelenggaraan event begitu luar biasa maka banyak hal bisa dilakukan,” terusnya.
“Laporan multiplay effect Artjog ternyata besar. Omset di dalam itu bisa mencapai Rp 100 miliar dan selama dua bulan itu terlaporkan sampai Rp 1,2 Trilyun,” tandas Pemad.