UMKM Bandung Bertahan: Strategi Hadapi Krisis Ekonomi dan PHK Massal

Bagikan :

Ancaman resesi ekonomi global turut menekan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia. Banyak yang terpaksa berjuang keras untuk bertahan dan beradaptasi. Strategi yang diterapkan pun beragam, mulai dari efisiensi hingga diversifikasi produk dan kolaborasi.

Tiga UMKM di Kota Bandung, misalnya, menunjukkan beragam cara bertahan di tengah tantangan ekonomi. Mereka kompak menekankan pentingnya kolaborasi sebagai kunci keberhasilan menghadapi resesi. Beragam strategi inovatif diterapkan untuk tetap kompetitif dan menjaga bisnis mereka tetap berjalan.

Diversifikasi dan Keberlanjutan: Strategi Pala Nusantara

Pala Nusantara, produsen jam tangan kayu dan strap kulit, mengalami penurunan produksi signifikan dari 1.800-2.000 menjadi 800-1.000 buah per bulan. Sebagai respons, COO dan founder Pala Nusantara, Ilham Pinastiko, melakukan efisiensi dengan mengurangi jumlah pegawai sebanyak 9 orang.

Selain itu, Ilham menerapkan strategi diversifikasi produk. Ia tidak hanya fokus pada jam tangan, tetapi juga mengembangkan lini fashion yang terinspirasi dari koleksi jam tangannya. “Saat ini penjualannya mulai stabil. Sebanyak 50-60 pcs produk fashion mulai rutin keluar per bulannya,” ujarnya. Strategi keberlanjutan juga diterapkan dengan memanfaatkan limbah kayu dan kulit untuk membuat produk lain, seperti jam meja dan gantungan kunci.

Ilham menambahkan, “Cara lain adalah mulai masuk konsep sustainability atau keberlanjutan.” Konsep ini sudah dijalankan sejak 2019, namun baru menunjukkan hasil signifikan di tahun 2024. Pemanfaatan limbah ini terbukti meningkatkan profitabilitas dan mengurangi dampak lingkungan. Kolaborasi dengan pengusaha lokal Bandung yang memiliki visi serupa di bidang keberlanjutan juga menjadi kunci keberhasilannya.

Mempertahankan Stabilitas: Strategi Fit Fuel

Berbeda dengan Pala Nusantara, Fit Fuel, produsen healthy food populer di Bandung, memilih strategi konsolidasi. Founder Fit Fuel, Yoel Tristan, mengatakan, “Ambisi sebagai anak muda untuk ekspansi bisnis pasti ada. Tapi saya harus sadar dengan situasi dan kesanggupan saya mengelola bisnis. Dan saya putuskan untuk memantapkan tiga gerai yang sedang berjalan saat ini.”

Yoel mengakui dampak resesi terhadap bisnisnya, tetapi tetap optimistis. Dengan strategi tepat dan bimbingan para ahli, ia berhasil meningkatkan revenue dan profit hingga 50%. Meskipun menunda ekspansi, ia fokus pada optimalisasi kinerja gerai yang ada sebagai langkah strategis untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi.

Memberdayakan Sesama: Strategi Dama Kara

Nurdini Prihastiti, founder Dama Kara, memilih strategi pemberdayaan sosial untuk menghadapi tantangan ekonomi. Ia memberikan ruang bagi penyandang disabilitas untuk berkarya bersama melalui kelas menggambar. Karya-karya tersebut bahkan digunakan sebagai desain koleksi, dengan para penyandang disabilitas menerima royalti penjualan.

Strategi sociopreneur ini terbukti efektif. “Dibanding tahun sebelumnya, pada 2024 pertumbuhan kami meningkat pesat hingga 80%,” kata Dini. Ia meyakini bahwa keterlibatan para penyandang disabilitas berkontribusi besar pada keberhasilan bisnisnya dan sejalan dengan konsep keberlanjutan yang dianutnya.

Ketiga contoh UMKM di atas menunjukkan bahwa menghadapi resesi ekonomi membutuhkan kreativitas, strategi yang tepat, dan kolaborasi. Efisiensi, diversifikasi, konsolidasi, dan pemberdayaan sosial terbukti menjadi strategi yang efektif untuk tetap bertahan dan bahkan berkembang di tengah kondisi ekonomi yang menantang. Keberhasilan mereka menginspirasi UMKM lain untuk terus berinovasi dan beradaptasi dalam menghadapi tantangan global.

Berita Terkini