Tanda-Tanda Anak Mengalami Tekanan atau Kekerasan yang Sering Terlihat Tapi Tidak Disadari Orang Tua

Bagikan :
Jangan Dianggap Sepele, Ini Tanda-Tanda Anak Mengalami Tekanan atau Perlakuan Tidak Menyenangkan

JOGJA BERKABAR – Anak tidak selalu bisa cerita apa yang mereka rasakan. Apalagi kalau masih kecil dan belum lancar bicara.

Banyak hal yang akhirnya hanya dipendam, termasuk saat mereka mengalami tekanan atau bahkan kekerasan.

Sebagai orang tua, penting untuk lebih peka. Perubahan kecil pada sikap anak bisa jadi sinyal. Kasus seperti yang sempat terjadi di Little Aresha jadi pengingat kalau tanda-tanda ini sering terlihat, tapi tidak selalu disadari sejak awal.

Berikut beberapa tanda yang perlu diperhatikan:

Perubahan suasana hati yang drastis

Anak tiba-tiba jadi lebih sering menangis atau mudah marah. Hal kecil bisa bikin reaksinya berlebihan.

Takut pada orang atau tempat tertentu

Anak terlihat gelisah saat akan pergi ke suatu tempat, misalnya daycare. Bisa juga langsung diam saat bertemu orang tertentu.

Perubahan pola tidur

Tidur jadi tidak nyenyak. Sering terbangun atau bahkan mimpi buruk.

Nafsu makan berubah

Anak jadi makan sangat sedikit atau justru berlebihan. Ini bisa jadi respon dari tekanan yang dirasakan.

Lebih sering diam atau menarik diri

Anak yang biasanya aktif jadi pendiam. Tidak tertarik bermain seperti biasanya.

Muncul luka atau memar tanpa penjelasan jelas

Luka kecil memang wajar pada anak. Tapi kalau sering muncul tanpa alasan yang masuk akal, ini perlu diperhatikan.

Perilaku jadi lebih agresif atau sebaliknya terlalu pasif

Ada anak yang meluapkan emosi dengan marah atau memukul. Ada juga yang justru jadi sangat takut dan tidak berani bereaksi.

Sering bilang tidak mau ke suatu tempat

Penolakan yang terus berulang bisa jadi tanda ada sesuatu yang membuat anak tidak nyaman.

Perubahan dalam kebiasaan sehari-hari

Misalnya tiba-tiba mengompol lagi padahal sebelumnya sudah tidak, atau jadi lebih manja dari biasanya.

Sulit diajak komunikasi

Saat diajak bicara, anak menghindar atau tidak mau menjawab. Bisa jadi karena merasa takut atau bingung.

Tanda-tanda ini tidak selalu berarti anak mengalami kekerasan. Tapi tetap tidak boleh dianggap sepele. Lebih baik mencari tahu lebih dalam daripada menyesal belakangan.

Yang paling penting adalah membangun kedekatan dengan anak. Buat suasana yang nyaman supaya anak merasa aman untuk bercerita. Dengarkan tanpa menghakimi. Kadang anak hanya butuh didengar.***

Berita Terkini