Tak Hanya di Drini, Ancaman Nyata Rip Current Ada di Semua Pantai Gunungkidul

Bagikan :

GUNUNGKIDUL – Rip Current atau arus balik bukan hanya ancaman di Pantai Drini, tetapi juga menjadi bahaya tersembunyi di seluruh pantai Gunungkidul. Tim SAR Satlinmas Rescue Istimewa Gunungkidul menegaskan bahwa setiap pantai di wilayah ini memiliki titik-titik rip current yang berpotensi membahayakan keselamatan wisatawan.

Peringatan ini semakin diperkuat menyusul tragedi memilukan yang menimpa siswa SMP N 7 Mojokerto pekan lalu. Belasan siswa terseret ombak di area rip current, dan empat di antaranya tewas. Insiden tersebut menjadi pengingat keras bahwa rip current adalah area terlarang untuk berenang.

Komandan SAR Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah II Pantai Baron, Marjono, mengungkapkan bahwa setiap pantai di Gunungkidul memiliki rip current. Bahkan, dalam satu pantai, bisa terdapat beberapa titik rip current yang harus diwaspadai oleh wisatawan.

“Semua pantai ada (rip current). Kalau orang dahulu menyebutnya ‘Telaganan,”ujar Marjono, Senin (3/2/2025).

Marjono menjelaskan bahwa karakteristik pantai berbatu di Gunungkidul membuat deteksi rip current sebenarnya cukup mudah, terutama saat air laut sedang surut. Rip current bisa dikenali sebagai jalur mirip sungai yang mengalir dari tepi pantai menuju ke tengah laut. Kedalaman jalur ini lebih besar dibandingkan area sekitarnya, dan meskipun air laut surut, rip current tetap tampak penuh air.

“Ketika air laut pasang, daya sedot rip current ini ke tengah laut menjadi sangat kuat. Kalau ada yang masuk ke rip current, biasanya langsung tenggelam dan kemungkinan hilang,” tambahnya.

Rip Current di Gunungkidul Tidak Berpindah-pindah

Berbeda dengan pantai berpasir di wilayah lain, di mana rip current dapat berpindah-pindah, lokasi rip current di pantai-pantai Gunungkidul cenderung tetap. Satu-satunya pengecualian adalah Pantai Baron, di mana rip current bisa berubah-ubah mengikuti aliran sungai bawah tanah.

“Kalau di Pantai Baron, rip current bisa berubah arah karena mengikuti aliran sungai bawah tanah, tapi di pantai lain posisinya tetap,” jelas Marjono.

Meskipun Tim SAR telah memasang rambu-rambu peringatan di setiap titik rip current, kendala tetap terjadi. Bendera bertuliskan Rip Current dan pelampung kerap kali rusak karena cuaca ekstrem atau hilang terbawa arus.

“Kalau bendera paling lama hanya bertahan dua bulan karena rusak faktor cuaca. Kalau pelampung hanya bertahan sebentar karena hilang terbawa arus,”ungkap Marjono.

Kondisi ini membuat Tim SAR harus merogoh kocek sendiri untuk membeli bendera baru dan memperbarui rambu-rambu penanda. Patungan antar anggota SAR menjadi solusi sementara agar peringatan tetap terlihat oleh wisatawan.

Tim SAR mengimbau wisatawan untuk lebih waspada saat beraktivitas di pantai. Menghindari area rip current, memperhatikan rambu peringatan, dan mengikuti arahan petugas SAR adalah langkah penting untuk mencegah kecelakaan serupa terjadi.

Berita Terkini