Strategi M. Nur Kholis Setiawan Menyikapi Sakit sebagai Pengingat Nikmat Al-Hikam

Bagikan :

Jogja Berkabar – Seringkali manusia baru menyadari betapa berharganya kesehatan ketika rasa sakit mulai menyerang. Fenomena psikologis dan spiritual ini dibahas secara mendalam oleh M. Nur Kholis Setiawan dalam kajian kitab Al-Hikam ke-100.

Profesor Nur Kholis menekankan bahwa dalam perspektif sufistik, peristiwa yang tidak menyenangkan seperti rasa sakit sebenarnya merupakan “piranti” atau alat pengingat dari Tuhan agar manusia menyadari anugerah-anugerah yang selama ini luput dari perhatian.

Kebutuhan Melekat dan Kelalaian Manusia

Dalam pemaparannya, M. Nur Kholis Setiawan menjelaskan konsep Faqatun Dzatiyah, yaitu kebutuhan yang bersifat esensial dan melekat erat pada diri manusia. Sejak diciptakan dari tiada menjadi ada, manusia telah dicukupi dengan berbagai fasilitas kehidupan yang bekerja secara otomatis. Karena sifatnya yang berjalan terus-menerus tanpa hambatan, manusia cenderung menganggapnya sebagai hal biasa atau taken for granted.

Profesor Nur Kholis memberikan contoh sederhana mengenai aktivitas bernapas. Manusia jarang sekali menghitung berapa liter oksigen yang dihirup setiap jamnya karena proses tersebut berlangsung begitu lancar. Demikian pula dengan kesehatan mata, telinga, dan organ tubuh lainnya yang berfungsi normal setiap saat tanpa perlu diatur secara manual oleh manusia.

“Kita ini bernafas kan enggak pernah berhitung berapa kali dalam sehari kita bernafas, kita menarik nafas dan kita mengeluarkan nafas. Itu adalah bagian dari sesuatu yang sama sekali tidak pernah kita sadari, tapi itu eksis, itu ada. Itulah anugerah Allah dalam kehidupan kita,” ungkap M. Nur Kholis Setiawan dalam sesi kajian tersebut.

“Wurudul Asbab”: Saat Sakit Menjadi Alarm Spiritual

Ketidaksadaran manusia akan nikmat yang melimpah ini sering kali membutuhkan “kejutan” agar kesadaran itu muncul kembali. Di sinilah M. Nur Kholis Setiawan memperkenalkan istilah Wurudul Asbab, yakni hadirnya sebab-sebab atau peristiwa tertentu yang dikirimkan Tuhan untuk membuka mata batin manusia akan nikmat yang selama ini tersembunyi (khofiya).

Peristiwa ini bisa berupa gangguan kesehatan ringan. Ketika seseorang mengalami flu atau hidung tersumbat, barulah ia merasakan betapa luar biasanya nikmat bernapas dengan lega yang selama ini ia abaikan. Begitu pula saat telinga kemasukan air atau mata mengalami gangguan, manusia baru benar-benar menghargai fungsi pendengaran dan penglihatan yang normal.

“Adanya peristiwa-peristiwa atau sebab-sebab yang mengitari kehidupan kita itu kemudian menjadi salah satu piranti kita menjadi ingat. Kita baru bisa merasakan betapa luar biasanya anugerah ketika kita enggak pilek pada saat kita lagi pilek,” jelas M. Nur Kholis Setiawan.

Memberikan Tafsir Positif Terhadap Ujian

Lebih lanjut, M. Nur Kholis Setiawan mengajak para pencari kebenaran (salik) untuk tidak terburu-buru mengeluh saat ditimpa kesulitan fisik. Sakit gigi, gangguan mata, hingga kondisi medis lainnya seharusnya disikapi dengan rasa syukur yang mendalam karena melalui rasa sakit itulah perbandingan akan nikmat kesehatan menjadi nyata.

Profesor Nur Kholis menegaskan bahwa kebutuhan dasar manusia yang dipenuhi oleh Tuhan tidak akan hilang hanya karena faktor eksternal atau gangguan sementara. Sakit hanyalah interupsi kecil untuk mengingatkan betapa besarnya pemenuhan kebutuhan yang Tuhan berikan secara kontinu. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk membangun persepsi positif atas segala kejadian.

“Seorang salik mesti harus mampu memberikan tafsir yang senantiasa positif apapun yang sedang kita hadapi meskipun mungkin menyesakkan dada. Percayalah bahwa itu ada sesuatu yang positif karena akan memberikan pengingat agar kita senantiasa bersyukur kepada Allah,” tegas M. Nur Kholis Setiawan.

Menjaga Hati dari Belenggu Duniawi

Sebagai penutup kajian, M. Nur Kholis Setiawan mengingatkan bahwa tujuan utama dari kesadaran akan nikmat melalui rasa sakit adalah agar hati manusia tetap bersinar dan tidak terbelenggu oleh urusan duniawi semata. Dunia dan segala isinya, termasuk kesehatan dan harta, seharusnya tidak menjadi penghalang yang membuat manusia lalai kepada Sang Pencipta.

Dengan mengembalikan segala peristiwa kepada kekuasaan Tuhan yang absolut (Adikodrati), manusia dapat menjalani kehidupan dengan lebih tenang. Upaya dan ikhtiar dalam mendekatkan diri kepada Tuhan akan berjalan lebih efektif ketika seseorang mampu melihat kasih sayang Tuhan, bahkan di tengah rasa sakit yang mendera. Kesadaran inilah yang diharapkan muncul melalui pemahaman mendalam terhadap hikmah-hikmah dalam kitab Al-Hikam.

Berita Terkini