Rahasia Serangan B-2: Misi Siluman Hantam Nuklir Iran

Bagikan :

Pemerintah Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump mengklaim telah menyerang tiga fasilitas nuklir Iran pada Sabtu malam, 21 Juni. Klaim ini diiringi detail operasi yang cukup rinci dari pihak Pentagon, meskipun verifikasi independen masih sulit dilakukan.

Operasi yang diberi nama ‘Operation Midnight Hammer’ ini melibatkan strategi kompleks yang melibatkan pesawat siluman B-2, bom “penghancur bunker”, dan manuver pengalih perhatian di Samudra Pasifik. BBC Verify mencoba menggali lebih dalam kebenaran di balik klaim tersebut.

Operasi Rahasia di Atas Samudra Atlantik

Pentagon merilis kronologi serangan yang dimulai sekitar tengah malam waktu setempat. Pesawat siluman B-2 lepas landas dari Pangkalan Angkatan Udara Whiteman di Missouri.

Tujuh pesawat B-2, masing-masing berawak dua orang, terbang melintasi Samudra Atlantik menuju Iran. Pesawat ini membawa bom “penghancur bunker” yang sangat kuat, mampu menembus beton setebal lebih dari 18 meter.

Untuk mengelabui Iran dan dunia internasional, AS juga mengerahkan pesawat pengebom ke Guam, di Samudra Pasifik. Ini merupakan taktik pengecohan untuk mengalihkan perhatian dari serangan utama melalui Atlantik.

Pesawat B-2 terbang dengan kecepatan sedikit di bawah kecepatan suara, menjaga kerahasiaan misi. Ketiadaan jejak di situs pelacakan penerbangan membuat verifikasi independen menjadi sulit.

Serangan Terkoordinasi dari Udara dan Laut

Sekitar pukul 17.00 waktu Washington DC, armada AS di Timur Tengah mendapat dukungan pesawat pendukung. Pesawat-pesawat ini bertugas melindungi B-2 dan menetralisir ancaman.

Secara mengejutkan, jet tempur Iran tidak lepas landas dan sistem pertahanan udara mereka tidak menembakkan satu pun rudal. Dominasi Israel atas wilayah udara Iran membantu keberhasilan operasi ini.

Selain serangan udara, lebih dari dua lusin rudal jelajah Tomahawk diluncurkan dari kapal selam AS di Laut Arab, menyasar fasilitas nuklir dekat Isfahan.

Serangan udara dan laut ini terkoordinasi dengan sangat baik, sehingga dampaknya terjadi hampir bersamaan di berbagai lokasi. Ini menunjukkan kemampuan serangan kejutan AS yang canggih.

Dampak Serangan dan Perdebatan Versi

Pentagon mengklaim serangan itu sebagai keberhasilan besar, menghancurkan kemampuan nuklir Iran. Namun, Iran sendiri mengonfirmasi serangan, tetapi membantah tingkat kerusakan seperti yang diklaim AS.

Sekitar 14 bom MOP dijatuhkan di Fordo dan Natanz. Bom MOP, yang mampu menembus lapisan beton dan tanah yang dalam, digunakan untuk pertama kalinya dalam operasi tempur.

Meskipun Pentagon menyatakan misi berlangsung selama 18 jam, serangan utama hanya berlangsung sekitar 25 menit. Setelah misi, pesawat B-2 kembali ke AS.

Meskipun operasi ini secara taktis berhasil, belum ada kepastian apakah misi ini akan mampu menghentikan program nuklir Iran secara permanen. Verifikasi independen atas klaim AS membutuhkan waktu dan bukti lebih lanjut, seperti citra satelit terperinci.

Keberhasilan operasi ini juga memicu pertanyaan tentang implikasi geopolitik jangka panjang dan kemungkinan respons Iran. Perlu pengamatan lebih lanjut untuk menilai dampak penuh dari serangan ini terhadap program nuklir Iran dan stabilitas regional.

Berita Terkini