
jogjaberkabar – Bulan Muharram dikenal sebagai salah satu bulan yang penuh kemuliaan dalam kalender Hijriah. Simak puasa 10 Muharram kapan dilaksanakan?
Tidak hanya menandai awal tahun baru Islam, bulan ini juga menyimpan banyak keberkahan dan kesempatan untuk meraih pahala yang melimpah.
Salah satu amalan yang sangat dianjurkan pada bulan ini adalah puasa sunah pada tanggal 10 Muharram, yang dikenal dengan sebutan puasa Asyura.
Makna Muharram dalam Islam
Muharram bukan sekadar bulan pertama dalam penanggalan Hijriah. Dalam Islam, Muharram termasuk dalam deretan empat bulan haram yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Bulan ini menjadi momen penting untuk memperbanyak amal saleh, menjauhi maksiat, dan meningkatkan keimanan.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda:
“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram. Dan salat yang paling utama setelah salat fardu adalah salat malam.”
(HR Muslim, dari Abu Hurairah RA)
Hadis ini menjelaskan betapa agungnya bulan Muharram, khususnya dalam pelaksanaan ibadah puasa sunah.
Kapan Puasa Asyura Dilaksanakan?
Tahun ini, puasa 10 Muharram 1447 H jatuh pada hari Minggu, 6 Juli 2025. Umat Islam sangat dianjurkan untuk melaksanakan ibadah puasa ini karena memiliki sejarah panjang dan pahala besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Selain tanggal 10, umat Islam juga dianjurkan untuk melaksanakan puasa Tasu’a pada tanggal 9 Muharram atau jatuh pada Sabtu, 5 Juli 2025).
Puasa pada dua hari ini dilakukan sebagai bentuk kesungguhan mengikuti ajaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang juga bertujuan untuk membedakan praktik puasa umat Islam dengan puasa yang dilakukan oleh Bani Israil.
Niat Puasa 10 Muharram (Puasa Asyura)
Puasa Asyura termasuk dalam kategori puasa sunah. Artinya, niat puasa ini tidak harus diucapkan sebelum fajar seperti pada puasa Ramadan. Niat masih bisa dilakukan setelah matahari terbit, selama belum makan, minum, atau melakukan hal-hal yang membatalkan puasa sejak fajar.
Dalam Kitab Minhajul Muslim karya Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri disebutkan bahwa umat Islam boleh berniat puasa sunah meski hari sudah siang, dengan syarat belum makan dan minum apapun sejak subuh.
Ini sebagaimana riwayat dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, ia berkata:
“Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah datang kepadaku dan bertanya, ‘Apakah ada makanan untuk sarapan?’ Aku menjawab, ‘Tidak ada.’ Maka beliau berkata, ‘Kalau begitu, aku berpuasa.'”
(HR Muslim)
Bacaan Niat Puasa Asyura
Berikut adalah lafaz niat puasa Asyura yang bisa diucapkan dalam hati maupun dengan lisan:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ ِعَا شُورَاء لِلهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i sunnati ‘Asyura lillahi ta‘ala
Artinya: Saya berniat puasa sunah Asyura karena Allah Ta‘ala.
Keutamaan Puasa 10 Muharram
Puasa Asyura tidak hanya mengandung nilai ibadah yang tinggi, tetapi juga memiliki sejumlah keutamaan luar biasa yang telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam berbagai hadis.
1. Menghapus Dosa Setahun yang Lalu
Salah satu keistimewaan utama puasa Asyura adalah janji Allah untuk mengampuni dosa-dosa kecil selama satu tahun sebelumnya.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Puasa pada hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapuskan dosa-dosa setahun sebelumnya.” (HR Muslim)
Hal ini menunjukkan betapa besar keutamaannya, menjadikan puasa ini salah satu kesempatan langka untuk meraih ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
2. Meningkatkan Ketakwaan dan Rasa Syukur
Puasa di hari Asyura juga merupakan momen spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah, meningkatkan ketakwaan, dan menumbuhkan rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan.
Bukan sekadar menahan lapar dan haus, puasa ini melatih pengendalian diri, kesabaran, dan kepedulian terhadap sesama.
3. Mengikuti Sunnah Nabi Muhammad SAW
Dengan berpuasa pada hari ke-10 Muharram, umat Islam telah meneladani sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Beliau tidak hanya melakukannya, tapi juga menganjurkan kepada umatnya untuk berpuasa di hari tersebut.
Diceritakan dalam berbagai riwayat bahwa Nabi berpuasa pada hari Asyura bahkan sebelum diwajibkannya puasa Ramadan. Setelah puasa Ramadan diwajibkan, puasa Asyura tetap menjadi amalan sunah yang dianjurkan.
Sejarah di Balik Hari Asyura
Hari Asyura juga memiliki makna historis yang kuat. Menurut riwayat, pada hari ini Nabi Musa ‘Alaihissalam diselamatkan oleh Allah dari kejaran Fir’aun bersama Bani Israil. Ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengetahui bahwa orang-orang Yahudi juga berpuasa pada hari itu, beliau bersabda:
“Kami lebih berhak terhadap Musa daripada mereka.” (HR Bukhari & Muslim)
Sejak itu, Rasulullah menganjurkan umat Islam untuk tidak hanya berpuasa di tanggal 10, tapi juga menambah puasa sehari sebelumnya (tanggal 9) agar berbeda dari kebiasaan kaum Yahudi.
Puasa 10 Muharram atau puasa Asyura bukan hanya rutinitas ibadah tahunan, tetapi juga momentum untuk memperbaiki diri dan meraih ampunan Allah.
Dengan berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram, umat Islam mendapatkan pahala besar, meneladani sunnah Nabi, dan menghidupkan kembali semangat spiritual di awal tahun Hijriah.
Jangan lewatkan kesempatan penuh berkah ini. Mari persiapkan diri untuk berpuasa di bulan Muharram dan menggapai keutamaan yang luar biasa dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
***