
jogjaberkabar – Contoh naskah khutbah Jumat pasca Idul Adha 2025. Umat Islam akan melaksanakan ibadah sholat Jumat, khususnya laki-laki.
Pada kesempatan ini, umat Islam akan mendengarkan khutbah Jumat. Berikut ini contoh khutbah yang dilansir dari NU Online.
Khutbah Pertama
الحمد لله الذي أنزل علينا سنة رسوله وكتابَه
Semua puji bagi Allah Subḥānāhu Wa Ta‘ālā, yang telah menurunkan kitab-Nya dan menegakkan sunnah Nabi Muhammad. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau, keluarga, dan sahabat beliau.
Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah, mari kita tingkatkan ketakwaan sebagai fondasi utama dalam kehidupan. Taqwa bukan hanya diwujudkan pada hari-hari tertentu, tetapi harus menjadi pegangan dalam semua aktivitas: di rumah, di kantor, di jalan—kemanapun kita berada. Ketakwaan membentuk karakter yang istiqamah dalam beribadah dan terus memperbaiki hubungan dengan Allah SWT serta sesama.
Kini, kita masih berada di bulan Dzulhijjah, momen luar biasa karena dua ibadah utama: kurban dan haji. Kedua ibadah ini bukan hanya ritual tahunan, tetapi merupakan bentuk pengukuhan iman dan solidaritas sosial. Spirit ini hendaknya tetap kita bawa ke setiap hari berikutnya, bukan hanya berhenti setelah hari Tasyrik.
1. Meneladani Kurban: Kepedulian dan Keikhlasan
Ritual kurban mengajarkan kita untuk menempatkan niat tulus kepada Allah, seperti teladan Nabi Ibrahim AS—sanggup mengorbankan apa yang paling dicintai semata-mata karena taat.
Daging hewan kurban dibagikan agar rasa cinta dan kepedulian terhadap sesama meningkat. Pasca Idul Adha, semangat ini harus diteruskan. Caranya bisa dengan:
- Melaksanakan sedekah rutin, terutama kepada kaum dhuafa.
- Mendirikan program beasiswa atau bantuan sosial.
- Menolong tetangga, mendampingi keluarga, dan peduli dengan mereka yang berada dalam kesulitan.
Allah SWT berfirman:
“Bersegeralah menuju ampunan Rabb-mu dan surga yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu mereka yang berinfaq di kala lapang dan sempit…” (Ali Imran: 133‑134)
Ayat tersebut mengingatkan kita bahwa kepedulian harus dilandasi ketakwaan dan kemurahan hati, bukan terbatas pada saat tertentu saja.
2. Memaknai Spirit Haji: Transformasi Diri & Disiplin
Bagi mereka yang melaksanakan ibadah haji, nilai spiritual dan fisik dari ihram, tawaf, sa‘i, hingga wukuf merupakan simbol pensucian jiwa. Semua itu harus berlanjut dalam kehidupan sehari-hari:
- Menjauhkan diri dari sifat buruk seperti riya’, iri hati, atau dendam.
- Konsisten dalam ibadah harian: salat berjamaah, tilawah Al-Qur’an, dzikir, dan ibadah lainnya.
- Menjadi agen perubahan yang menebar nilai-nilai kebaikan—di lingkungan keluarga, pekerjaan, dan masyarakat.
Rasulullah bersabda:
“Siapa yang berhaji atau berumrah, maka ia menjadi tanggungan Allah. Jika ia kembali, Allah memberinya pahala dan ghanimah…” (HR At-Thabrani)
Khutbah Kedua
Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat iman, ridha, dan kesehatan sehingga kita bisa hadir di hari Jumat penuh keberkahan ini. Semoga shalawat dan salam selalu tercurah kepada Nabi Muhammad, penutup para nabi.
Hadirin yang saya muliakan, mari kita sambung kesadaran bahwa Allah SWT memerintahkan kita untuk senantiasa menjaga etika beribadah dan akhlak mulia. Sebagaimana firman-Nya:
“Allah dan malaikat-Nya bershalawat atas Nabi. Hai orang-orang beriman, bershalawatlah kalian untuknya…” (Al-Ahzab: 56)
Dengan syukur yang besar kepada Allah, kita berdoa:
- Mohon pengampunan bagi seluruh kaum Muslimin.
- Memohon agar Allah menguatkan Islam dan kaum muslimin di seluruh dunia.
- Memohon keselamatan dari bencana, wabah, dan fitnah, terutama di negeri tercinta Indonesia.
Kita juga mohon agar Allah memperbaiki:
- Agama kita—pelindung urusan utama.
- Dunia kita—tempat penghidupan dan kerja keras.
- Akhirat kita—tempat kembali nanti.
Dan semoga Allah menjadikan kehidupan ini sebagai tambahan kebaikan dan kematian sebagai istirahat daripada segala keburukan.
Penutup dan Amal Solutif
Akhirnya, dengan semangat pasca Idul Adha, mari kita teguhkan:
- Ketakwaan sebagai landasan: bawa nilai-nilai kurban dan haji ke setiap detik kehidupan.
- Beramal sosial konsisten: jadikan sedekah, bakti sosial, dan kepedulian terhadap sesama sebagai gaya hidup.
- Disiplin spiritual harian: tetap taat dalam salat, tilawah, dzikir, dan akhlak yang mulia.
- Menjaga solidaritas: menguatkan ukhuwah Islamiyah dan gotong royong dalam keluarga serta lingkungan.
Dengan langkah ini, kita tidak hanya merayakan Idul Adha sekali setahun, tetapi menegakkan karakter ketakwaan, empati, dan kesungguhan ibadah dalam kehidupan harian. Semoga Allah memberi kekuatan untuk istiqamah dan kedamaian sejati. Amin.
“Segala puji bagi Allah atas Al-Qur’an yang agung. Aku ucapkan khutbah ini dan aku memohon ampunan Allah untukku dan untuk kalian.” Semoga kita selalu diluaskan rahmat-Nya.
***