
Ponjong — Rangkaian kegiatan Bersih Dusun Sambirejo, Kalurahan Sidorejo, Kapanewon Ponjong 2025 berlangsung meriah dan sukses menghadirkan kehangatan di tengah warga. Sejak 27 Juli lalu, halaman-halaman rumah dan balai dusun dipenuhi tawa, sorak, dan semangat gotong royong, menjadikan agenda tahunan ini lebih dari sekadar tradisi, tetapi juga momentum mempererat silaturahmi.
Tugiman Ketua Panitia Rasul menjelaskan bahwa Acara dibuka dengan lomba bola voli plastik putra putri yang digelar pada 27–30 Juli, dimulai setiap malam pukul 19.30 WIB hingga selesai. Warga tumpah ruah memenuhi lapangan, memberikan dukungan penuh kepada tim-tim yang bertanding dengan penuh sportivitas.
“Tidak kalah seru, pada 31 Juli hingga 1 Agustus, giliran lomba sepak bola sarung putri yang mencuri perhatian. Lomba unik ini selalu menjadi magnet karena memadukan aksi mengocok perut dengan keterampilan mengendalikan bola meski terbatasi sarung. ” ungkap Tugiman .
Puncak kehangatan terjadi pada 2 Agustus malam, ketika digelar laga persahabatan sepak bola sarung putri, menjadi ajang tawa sekaligus mempererat persaudaraan antarwarga.
Kemeriahan berlanjut pada 3 Agustus pagi, dengan lomba anak-anak yang diikuti antusias oleh peserta dari berbagai usia. Mulai dari balap kelereng, makan kerupuk, hingga tarik tambang, suasana riuh penuh sorakan orang tua dan penonton menjadi warna tersendiri.
Memasuki puncak acara, Senin (4/8/2025) malam, suasana berubah khidmat. Masjid Al-Ihsan Sambirejo menjadi pusat kegiatan pengajian akbar bersama Ustaz Junendra Rahmad dari Playen, Gunungkidul, yang menghadirkan pesan-pesan moral dan motivasi hidup. Usai pengajian, warga dihibur dengan campursari Islami yang menambah suasana hangat.
Esok harinya, Selasa (5/8/2025) siang, digelar pentas seni jathilan Sekar Kinasih dari Kapanewon Nglipar di depan rumah Alm. Mbah Adi Sumirat. Iringan musik tradisional dan gerakan dinamis para penari berhasil menyedot perhatian warga dan penonton dari luar dusun.
Sebagai penutup yang megah, malam harinya pukul 20.00 WIB, Balai Padukuhan Sambirejo dipenuhi warga untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit bersama dalang Ki Marsudi Kenyit, diiringi sinden kondang Mbah Waluyo Waluh dan Niken Sarintem. Lakon yang dibawakan tak hanya menghibur, tetapi juga menyampaikan pesan moral yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Panitia Bersih Dusun Sambirejo mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung, mulai dari lembaga dusun, karang taruna, hingga warga yang berpartisipasi aktif.
“Bersih Dusun ini bukan sekadar acara tahunan, tapi simbol kebersamaan dan warisan budaya yang akan terus kita jaga,” ungkap Dukuh Sambirejo Aris Nuriyanto.
“Dengan rangkaian kegiatan yang sukses dan penuh warna, Bersih Dusun Sambirejo 2025 membuktikan bahwa gotong royong dan kebersamaan adalah denyut nadi yang membuat tradisi ini tetap hidup dari generasi ke generasi.” imbuhnya .
Di tengah modernisasi dan derasnya arus budaya global, tradisi Rasulan di Gunungkidul tetap bertahan sebagai salah satu warisan budaya yang sarat makna. Tradisi yang juga dikenal sebagai Bersih Desa ini merupakan bentuk ungkapan syukur masyarakat kepada Tuhan atas hasil panen, keselamatan, dan keberkahan hidup.
Setiap tahunnya, Rasulan digelar di berbagai padukuhan, biasanya diawali doa bersama, kirab budaya, hingga pentas seni rakyat. Tak jarang, suasana dusun menjadi semarak dengan aneka lomba, pasar malam, hingga pertunjukan wayang kulit dan jathilan. Bagi masyarakat, Rasulan bukan hanya pesta rakyat, melainkan wujud gotong royong dan simbol persatuan.
R. M. Kukuh Hertriasning Cucu HB VIII , atau yang akrab disapa Ndoro Aning, menegaskan bahwa Rasulan adalah cermin jati diri Gunungkidul yang perlu dijaga keberlangsungannya.
“Rasulan itu bukan sekadar ritual. Di situ ada filosofi hidup, ada ajaran untuk selalu bersyukur, rukun, dan menghargai alam. Nilai-nilai ini harus terus diwariskan, bukan hanya kepada generasi tua tapi terutama kepada anak-anak muda,” ujarnya.
Ndoro Aning menambahkan, tantangan terbesar pelestarian Rasulan saat ini adalah bagaimana membuat generasi muda merasa memiliki dan terlibat aktif. Menurutnya, perlu ada inovasi dalam kemasan acara tanpa menghilangkan esensi. Misalnya, menggabungkan prosesi tradisional dengan festival kreatif, memanfaatkan media sosial untuk promosi, dan melibatkan komunitas seni lokal.
“Kalau kita hanya mengulang-ulang bentuk yang sama tanpa sentuhan kreatif, anak muda bisa merasa jauh. Tapi kalau kita bisa mengemasnya menarik, mereka bukan hanya menonton, tapi ikut menghidupkan tradisi. Itulah kunci pelestarian,” tutur Ndoro Aning.
Harapan besar juga disampaikan agar Rasulan tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi diakui dan dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya Gunungkidul. Bahkan, Ndoro Aning mendorong adanya payung kebijakan dari pemerintah daerah untuk mendukung pembiayaan dan promosi kegiatan ini, sehingga gaungnya tak hanya di tingkat lokal, tapi juga nasional.
Dengan semangat gotong royong dan kesadaran bersama, Rasulan diharapkan akan terus berkumandang dari dusun-dusun Gunungkidul, menjadi pengingat bahwa di tengah perubahan zaman, akar budaya tetaplah sumber kekuatan masyarakat.(Hari)