Menembus Batas Usaha, M. Nur Kholis Setiawan Bedah Konsep Ikhtiar dan Takdir dalam Al-Hikam

Bagikan :
Mengacu pada masterpiece Ibnu Athoillah as-Sakandari, Kitab Al-Hikam, M. Nur Kholis Setiawan menjelaskan bagaimana seorang hamba seharusnya memposisikan diri di hadapan “dinding takdir” yang tidak tertembus, namun di sisi lain tetap memegang teguh kewajiban untuk berikhtiar secara maksimal. (Youtube/ Prof. Dr. M. Nur Kholis Setiawan Channel)

JogjaBerkabar.com – Dalam sebuah kajian mendalam mengenai spiritualitas Islam, Prof. Dr. M. Nur Kholis Setiawan kembali memberikan pencerahan mengenai dialektika antara usaha manusia dan ketetapan Tuhan. Mengacu pada masterpiece Ibnu Athoillah as-Sakandari, Kitab Al-Hikam, M. Nur Kholis Setiawan menjelaskan bagaimana seorang hamba seharusnya memposisikan diri di hadapan “dinding takdir” yang tidak tertembus, namun di sisi lain tetap memegang teguh kewajiban untuk berikhtiar secara maksimal.

Pembahasan ini menjadi krusial di tengah dinamika kehidupan modern yang seringkali menuntut hasil instan. M. Nur Kholis Setiawan menekankan bahwa memahami batasan antara wilayah manusia dan wilayah ketuhanan adalah kunci mencapai ketenangan batin. Melalui ulasan Hikmah ke-3 dan keterkaitannya dengan Hikmah ke-22, M. Nur Kholis Setiawan mengajak para penyimak untuk melihat bahwa setiap gerak-gerik manusia, termasuk tarikan napas, merupakan bagian dari skenario besar yang telah terukur.

Dinding Takdir yang Tak Terobek oleh Ambisi

Dalam salah satu sesi penjelasannya, M. Nur Kholis Setiawan mengutip salah satu bait fundamental dalam Al-Hikam, yaitu sawabiqul himam latahriku aswaral aqdar. Kalimat ini menegaskan bahwa sekuat apa pun ambisi atau cita-cita manusia, hal tersebut tidak akan mampu melampaui apa yang telah ditetapkan oleh Allah. Menurut M. Nur Kholis Setiawan, ada semacam “benteng” atau “dinding” takdir yang membatasi hasil dari setiap jerih payah makhluk.

M. Nur Kholis Setiawan secara tegas menyatakan dalam paparannya, “Kuatnya cita-cita, kuatnya kekuatan usaha begitu, itu tidak akan mampu menembus atau tidak akan mampu merobek dinding takdir.”

Pernyataan ini bukan dimaksudkan untuk melemahkan semangat manusia, melainkan untuk memberikan landasan teologis yang kokoh. M. Nur Kholis Setiawan menjelaskan bahwa landasan ini disebut sebagai theosofi tasawuf, di mana setiap aktivitas spiritual dilandasi oleh teologi yang sangat kokoh mengenai kemutlakan kekuasaan Allah.

Kewajiban Ikhtiar Total di Tengah Ketidaktahuan

Meskipun dinding takdir bersifat tetap dan tidak dapat ditembus oleh kekuatan usaha, M. Nur Kholis Setiawan memberikan catatan penting bagi setiap individu, khususnya bagi para pencari Tuhan (salik). Karena tidak ada satu pun makhluk yang memiliki pengetahuan tentang apa yang tertulis di balik dinding takdir tersebut, maka manusia secara syariat tetap dibebani kewajiban untuk berusaha semaksimal mungkin.

“Karena tidak seorang pun yang tahu takdir, tidak ada seorang pun makhluk yang tahu akan takdirnya, maka di dalam rangka mewujudkan takdir manusia atau kita, itu wajib memiliki ikhtiar atau wajib melakukan usaha-usaha,” tegas M. Nur Kholis Setiawan.

Ikhtiar yang dimaksud oleh M. Nur Kholis Setiawan bukanlah usaha yang setengah-setengah. Beliau, dalam konteks profesionalitas sebagai pendidik dan ulama, mendorong adanya “ikhtiar paripurna”. Hal ini merupakan bentuk penghormatan terhadap proses kehidupan yang sedang dijalani oleh setiap manusia.

Proposisi Proporsionalitas: Harmonisasi Usaha dan Penyerahan Diri

M. Nur Kholis Setiawan menawarkan sebuah konsep yang disebut sebagai “proposisi proporsionalitas”. Konsep ini menyeimbangkan antara kerja keras di dunia dengan kepasrahan total kepada Sang Pencipta. Dalam pandangan M. Nur Kholis Setiawan, keimanan seseorang diuji ketika ia mampu melakukan usaha yang luar biasa namun tetap menyimpan tawakal yang sama besarnya di dalam hati.

M. Nur Kholis Setiawan memberikan rumusan yang jelas terkait hal ini, “Kita wajib punya ikhtiar, punya usaha yang kuat dan paripurna yang total, lalu kemudian selebihnya adalah berserah diri juga secara total kepada Allah.”

Kaitan ini menjadi semakin nyata ketika dihubungkan dengan setiap tarikan napas manusia. M. Nur Kholis Setiawan menjelaskan bahwa dalam setiap napas yang keluar dan masuk, terdapat takdir yang sedang berjalan. Oleh karena itu, ikhtiar total bukan hanya soal hasil akhir, melainkan bagaimana manusia mengisi setiap detik atau “wadah” napasnya dengan ketaatan dan kesadaran akan kehadiran Tuhan.

Menemukan Kebahagiaan dalam Proses

Pada akhirnya, penjelasan M. Nur Kholis Setiawan mengenai Al-Hikam ini memberikan pesan bahwa manusia hanya bisa merencanakan, namun Allah-lah yang memastikan masa depan. Dengan menyadari bahwa setiap napas adalah kehidupan dan di dalamnya selalu ada takdir, maka kewajiban manusia adalah berikhtiar secara total dan menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Pemahaman yang komprehensif dari M. Nur Kholis Setiawan ini diharapkan mampu membawa masyarakat pada tingkat stabilitas psikologis dan kebahagiaan rohani yang lebih tinggi. Bahwa di balik dinding takdir yang misterius, terdapat kasih sayang Tuhan yang senantiasa menyertai setiap usaha dan napas para hamba-Nya.

Berita Terkini