M. Nur Kholis Setiawan: Beribadah karena Pahala adalah Tanda Ketidakterpujian Spiritual

Bagikan :
Prof. Dr. M. Nur Kholis Setiawan bicara soal beribadah tak seharusnya mengharap imbalan, apa alasannya? foto: youtube

JOGJA BERKABAR – Dalam sebuah ulasan mendalam mengenai Kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah as-Sakandari, M. Nur Kholis Setiawan membedah esensi keikhlasan dalam beribadah yang seringkali masih terjebak dalam pola pikir transaksional. Menurutnya, banyak umat Muslim yang masih menempatkan ibadah sebagai sarana untuk mendapatkan pahala atau sebagai tameng penolak bala, padahal sikap tersebut justru menunjukkan kurangnya kedewasaan dalam beragama.

Melalui kanal resminya, Prof. Dr. M. Nur Kholis Setiawan menjelaskan Hikmah ke-94 yang memberikan peringatan keras bagi para hamba yang masih mengharapkan imbalan atas ketaatan mereka. Meskipun pada hikmah-hikmah sebelumnya (91-93) Allah menjamin adanya balasan kontan atas setiap kebaikan, hal tersebut bukan berarti seorang hamba boleh menjadikan balasan tersebut sebagai motivasi utama dalam menyembah Sang Pencipta.

Melampaui Mentalitas ‘Iming-iming’ dalam Beragama

Nur Kholis Setiawan menekankan bahwa mengharapkan pahala saat melakukan kebaikan sebenarnya mengindikasikan bahwa seorang hamba belum mampu menempatkan Allah sesuai dengan sifat-sifat keagungan-Nya. Ibadah yang dilandasi pamrih, baik itu berupa keinginan meraih surga maupun ketakutan akan siksa, dianggap sebagai bentuk ibadah yang belum mencapai tingkat kematangan spiritual yang diharapkan.

Dalam penjelasannya, ia mengutip sebuah kalimat krusial.

“Orang yang beribadah karena masih mengharapkan sesuatu, mengharapkan pahala dalam konteks ini atau menjadikan ibadah itu sebagai piranti untuk menolak bala, itu artinya dia tidak menempatkan Allah sesuai dengan sifat-sifat-Nya yang semestinya.”

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa kedewasaan seorang hamba diuji saat ia tetap teguh dalam ketaatan tanpa terpengaruh oleh bayang-bayang imbalan. “Kedewasaan kita di dalam beribadah atau kedewasaan kita di dalam beragama yakni ketika kita melakukan kebaikan, ketika kita mendekatkan diri kepada Allah… jangan sampai kita mengharapkan sesuatu,” tegas M. Nur Kholis Setiawan dalam ulasan tersebut.

Filosofi Keledai: Mengapa Berharap Balasan Membuat Kita Jalan di Tempat

Menariknya, M. Nur Kholis Setiawan juga mengaitkan pembahasan ini dengan Hikmah ke-43 yang memberikan ilustrasi cukup tajam. Hamba yang beribadah dengan pamrih diibaratkan seperti seekor keledai yang memutar alat penggiling gandum. Meski telah melangkah jauh dan merasa telah melakukan banyak hal, secara hakiki ia tidak pernah berpindah dari tempatnya semula karena hanya berputar-putar dalam lingkaran kepentingan dirinya sendiri.

Ia memaparkan kutipan filosofis dari video tersebut, “Kalau kita ibadahnya masih berharap sesuatu atau menjadikan ibadah ini sebagai penolak bala, maka kita itu seperti keledai yang menjadi alat untuk menggiling sesuatu; jalannya memutar, sehingga tempat berangkat sampai pulangnya tetap itu-itu saja.”

Analogi ini digunakan untuk menyindir mereka yang merasa sudah banyak beribadah namun tidak mengalami peningkatan kualitas batin. Hal ini terjadi karena fokus mereka bukan pada Allah, melainkan pada keuntungan pribadi yang ingin didapatkan dari ibadah tersebut, seperti perolehan pahala atau penghindaran dari malapetaka.

Menempatkan Allah pada Posisi yang Semestinya

Sebagai penutup, Prof. Dr. M. Nur Kholis Setiawan mengajak para penyimak untuk meredefinisi tujuan ibadah mereka. Ibadah yang ideal adalah ibadah yang dilakukan semata-mata karena Allah adalah Zat yang Maha Agung dan layak untuk disembah. Menghambakan diri harus dipandang sebagai kewajiban kodrati seorang hamba atas segala anugerah, kesehatan, dan kenikmatan yang telah diberikan tanpa batas oleh Sang Pencipta.

Ia memberikan pesan penutup yang sangat mendalam bagi siapa saja yang ingin memperbaiki kualitas spiritualnya.

“Lakukan ibadah kita, perbuatan baik kita, semata-mata karena Allah agar kita juga terhindar dari sindiran hikmah ke-43 yang menganggap kita sebagai keledai yang berjalan di tempat,” katanya.

Dengan memahami perspektif yang disampaikan oleh M. Nur Kholis Setiawan ini, diharapkan umat Islam dapat mulai membersihkan niat mereka dari segala bentuk ‘tertunggangi’ kepentingan duniawi maupun ukhrawi yang bersifat pamrih, sehingga mencapai derajat keikhlasan yang murni dalam setiap langkah pengabdian kepada Tuhan.

Berita Terkini