Larangan Rebo Wekasan: Mitos hingga Kepercayaan Masyarakat

Bagikan :
Ilustrasi larangan Rebo Wekasan yang dipercaya masyarakat. (Pixabay.com)

jogjaberkabar – Setiap bulan Safar dalam kalender Hijriah, masyarakat Jawa dan sebagian wilayah Nusantara mengenal sebuah tradisi bernama Rebo Wekasan.

Hari ini merujuk pada Rabu terakhir di bulan Safar yang dipercaya sebagai waktu turunnya bala atau malapetaka. Keyakinan tersebut masih bertahan hingga kini, meskipun generasi dan zaman terus berganti.

Tidak sedikit masyarakat yang kemudian menetapkan sejumlah pantangan atau larangan agar terhindar dari kesialan di hari itu.

Asal-usul Istilah Rebo Wekasan

Secara bahasa, istilah Rebo Wekasan berasal dari kata Jawa. “Rebo” berarti Rabu, sementara “Wekasan” berarti terakhir atau penghujung. Dengan demikian, Rebo Wekasan adalah hari Rabu terakhir. Namun yang dianggap berbahaya bukan sembarang Rabu, melainkan Rabu terakhir pada bulan Safar.

Pandangan mengenai adanya bala pada hari tersebut diuraikan dalam tulisan Umma Farida yang memuat pendapat KH Abdul Hamid dalam Kanz Al-Najah wa al-Surur. Keyakinan inilah yang melatarbelakangi munculnya berbagai larangan di tengah masyarakat.

Larangan yang Diyakini Saat Rebo Wekasan

Meski tidak semua orang percaya, sebagian masyarakat masih menjaga tradisi pantangan berikut karena dianggap sebagai warisan leluhur yang sudah mendarah daging.

1. Menikah pada Bulan Safar

Salah satu pantangan yang cukup populer adalah larangan menikah pada bulan Safar, termasuk pada Rebo Wekasan.

Dalam penelitian Abdulloh mengenai pandangan tokoh masyarakat Desa Suci, Manyar, Gresik, dijelaskan bahwa masyarakat meyakini pernikahan di bulan ini membawa risiko buruk. Mereka percaya, rumah tangga yang dibangun pada bulan Safar akan diliputi kesulitan, baik berupa masalah ekonomi maupun pertengkaran rumah tangga.

Walaupun tidak seluruh masyarakat memegang teguh keyakinan ini, tradisi tersebut tetap bertahan karena sudah diwariskan secara turun-temurun.

2. Melahirkan di Hari Rebo Wekasan

Berbeda dengan pernikahan, kelahiran jelas bukan sesuatu yang bisa diatur sesuka hati. Namun bagi masyarakat Desa Girijaya, Kecamatan Saketi, Pandeglang, Banten, bayi yang lahir pada Rebo Wekasan sering dikaitkan dengan kepribadian buruk.

Menurut penelitian Dede Nur Afiyah dari UIN Syarif Hidayatullah, anak yang lahir pada hari itu ditakutkan memiliki sifat pemarah atau nakal, yang dalam istilah Sunda disebut sasafaeun.

3. Membangun Rumah Baru

Masih dari masyarakat Desa Girijaya, ada keyakinan bahwa membangun rumah di bulan Safar adalah pantangan besar. Mereka percaya, rumah yang didirikan pada bulan ini bisa dihuni makhluk gaib. Hal ini membuat banyak warga menunda pembangunan hingga bulan lain yang dianggap lebih aman.

4. Melakukan Perjalanan Jauh

Pantangan berikutnya adalah bepergian jauh. Keyakinan ini muncul karena masyarakat percaya bahwa pada bulan Safar, emosi manusia lebih mudah tersulut sehingga rentan terjadi pertengkaran di perjalanan.

Selain itu, mereka juga meyakini pada bulan ini banyak ahli sihir yang melakukan ritual khusus sehingga kekuatan ilmu hitam meningkat. Karena itu, siapa saja yang terkena pengaruhnya akan sulit disembuhkan.

5. Melakukan Pekerjaan Berbahaya

Dalam catatan dari Digilib UIN Sunan Gunung Djati, masyarakat Cirebon menganggap Rebo Wekasan sebagai hari penuh marabahaya. Oleh karena itu, mereka menghindari pekerjaan berisiko, seperti aktivitas berat atau berbahaya.

Sebagai gantinya, masyarakat lebih banyak melakukan kegiatan sosial. Misalnya, bersedekah untuk anak yatim dan mempererat silaturahmi. Hal ini diyakini mampu menolak bala dan mendatangkan keberkahan.

Pandangan Islam terhadap Rebo Wekasan

Meski tradisi dan kepercayaan terkait Rebo Wekasan masih dijaga di banyak tempat, ajaran Islam menegaskan bahwa bulan Safar tidak berbeda dengan bulan lainnya. Tidak ada istilah hari sial atau bulan penuh bala.

Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid dalam karyanya 15 Faedah Terkait Bulan Safar menjelaskan bahwa anggapan sial terhadap bulan Safar sejatinya berasal dari kepercayaan jahiliah. Rasulullah SAW sendiri telah membantah keyakinan tersebut melalui sabdanya:

“Tidak ada ‘adwa (penularan penyakit tanpa takdir Allah), tidak ada thiyarah (menganggap sial sesuatu hingga mengurungkan amal), tidak ada hamah (kepercayaan jahiliah soal arwah burung hantu), dan tidak pula safar (menganggap bulan Safar sebagai bulan sial).” (HR. Bukhari No. 5705 dan Muslim No. 2220)

Dengan demikian, keyakinan bahwa bulan Safar, termasuk Rebo Wekasan, membawa kesialan adalah keliru. Ibnu Rajab al-Hanbali menegaskan, mengkhususkan suatu waktu sebagai pembawa sial sama sekali tidak benar, karena semua waktu adalah ciptaan Allah dan di dalamnya berlaku takdir-Nya.

Larangan-larangan pada Rebo Wekasan lahir dari keyakinan masyarakat akan datangnya bala pada hari Rabu terakhir di bulan Safar. Mulai dari pantangan menikah, melahirkan, membangun rumah, hingga bepergian jauh, semua diyakini berhubungan dengan nasib buruk.

Namun dari perspektif Islam, anggapan bulan Safar sebagai bulan sial tidak memiliki dasar. Justru, yang dianjurkan adalah memperbanyak doa, sedekah, dan amal kebaikan agar hati lebih tenang. Dengan begitu, kepercayaan turun-temurun bisa tetap dihargai sebagai bagian dari budaya, tanpa harus melupakan ajaran agama yang menuntun pada kebenaran.

***

Berita Terkini