Kenapa Suhu Jawa Lebih Dingin dari Biasanya? Begini Penjelasan BMKG

Bagikan :
Ada alasan kenapa suhu di Pulau Jawa kini terasa lebih dingin, berikut penjelasan BMKG, foto ilusrasi (Pexels// Pixabay)

jogjaberkabar – Belakangan ini, warga masyarakat di berbagai wilayah Pulau Jawa merasakan suhu udara yang jauh lebih rendah dibandingkan biasanya.

Cuaca sejuk yang menyelimuti sejak malam hingga pagi hari ini bahkan membuat sebagian orang mengira sedang berada di daerah dataran tinggi.

Padahal, mereka tinggal di kawasan dataran rendah. Adapun kondisi ini dikenal oleh masyarakat setempat sebagai bediding.

Lalu, apa sebenarnya penyebab dari udara dingin yang terasa hingga menusuk tulang ini?

Apakah ada kaitannya dengan fenomena luar angkasa seperti Aphelion? Berikut penjelasan lengkap dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Apa Itu Bediding?

Bediding merupakan istilah khas yang digunakan masyarakat Jawa untuk menggambarkan cuaca dingin yang menyelimuti pagi hingga malam hari, terutama saat jelang musim kemarau.

Fenomena ini bukanlah hal yang baru, dan bahkan dianggap sebagai siklus tahunan yang sudah biasa terjadi, terutama di wilayah-wilayah selatan garis khatulistiwa seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Biasanya, bediding mulai terasa di pertengahan tahun ketika Indonesia memasuki musim kemarau.

Suhu udara menjadi lebih sejuk karena beberapa faktor atmosfer yang terjadi secara alami dan berulang setiap tahun.

BMKG Jelaskan Cuaca Dingin Bukan karena Aphelion

Baru-baru ini sempat beredar di media sosial bahwa penyebab suhu dingin ini adalah Aphelion yang mana merupakan posisi Bumi berada pada jarak terjauh dari Matahari.

Akan tetapi, BMKG dengan tegas membantah klaim tersebut.

Menurut BMKG, Aphelion memang benar terjadi setiap tahun, biasanya pada awal bulan Juli, namun pengaruhnya terhadap suhu udara di Bumi sangat kecil dan tidak signifikan.

Suhu dingin yang kini dirasakan masyarakat lebih berkaitan dengan kondisi meteorologis di musim kemarau, bukan karena posisi Bumi terhadap Matahari.

Tiga Penyebab Suhu Dingin Menurut BMKG

Dalam pengumuman resminya, BMKG juga menyampaikan bahwa ada tiga faktor utama yang membuat udara terasa lebih dingin di sejumlah wilayah Indonesia, khususnya di Pulau Jawa dan sekitarnya, selama musim kemarau. Berikut beberapa diantaranya:

  • Mulai memasuki musim kemarau, yang ditandai dengan dominasi angin timuran (Monsoon Australia) yang bersifat kering dan dingin.
  • Langit cerah yang mempercepat pelepasan panas dari permukaan bumi ke atmosfer saat malam hari.
  • Hujan yang masih terjadi di beberapa wilayah turut menambah rasa dingin karena massa udara dingin dari awan ke permukaan dan menghalangi pemanasan sinar matahari

Suhu Dingin di Jawa sampai Kapan?

Menurut informasi dari BMKG, kondisi suhu dingin ini diprediksi masih akan terus berlangsung hingga berakhirnya musim kemarau, yakni sekitar akhir bulan September 2025.

Dengan demikian, masyarakat perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi dua bulan ke depan yang kemungkinan besar masih akan diselimuti cuaca sejuk, terutama saat malam hingga pagi hari.

Yang jelas, BMKG menegaskan bahwa fenomena suhu dingin ini merupakan hal yang lumrah serta menjadi bagian dari siklus iklim tahunan yang rutin terjadi di Indonesia.

“hal yang wajar dan terjadi setiap musim kemarau, yakni sekitar bulan Juli hingga September,” demikian keterangan BMKG melalui akun Instagram @infobmkg

Waspadai Cuaca Dingin, tapi Tidak Perlu Panik

Jadi kesimpulannya, alasan suhu Jawa lebih dingin dari biasanya karena adanya fenomena bediding.

Hal ini tersebut kini dirasakan oleh masyarakat di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Adapun fenomena ini juga merupakan bagian dari perubahan cuaca musiman yang rutin terjadi setiap tahunnya dan bukan berkaitan langsung dengan Aphelion

Sehingga, tidak ada yang perlu dikhawatirkan mengenainya.***

Berita Terkini