Jaga Ekosistem Penyu di Gunungkidul, Puluhan Tukik Dilepaskan ke Habitatnya

Bagikan :
Ilustrasi Pemkab Gunungkidul melepaskan puluhan tukik di Pantai Ngandong. (Pixabay.com)

jogjaberkabar – Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melakukan upaya pelestarian satwa laut langka. Pada Selasa, 22 Juli 2025, sebanyak 61 tukik atau anak penyu dilepasliarkan di Pantai Ngandong, Kalurahan Sidoarjo, Kapanewon Tepus, Kabupaten Gunungkidul.

Momen tersebut menjadi simbol komitmen kuat Pemerintah Kabupaten Gunungkidul dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut, khususnya perlindungan terhadap populasi penyu yang terancam punah.

Dalam suasana yang penuh harapan, petugas dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Gunungkidul melepas satu per satu tukik ke laut dengan sangat hati-hati. Tukik-tukik mungil itu diarahkan ke ombak, agar dapat berenang sendiri menuju habitat aslinya di laut lepas.

Proses ini dilakukan dengan penuh kehati-hatian, tidak hanya untuk memastikan keselamatan tukik, tetapi juga untuk membangun kembali naluri alami mereka dalam mengenali jalur migrasi dan lokasi pantai tempat mereka akan kembali suatu hari nanti.

Menurut penelitian, penyu memiliki kemampuan luar biasa untuk kembali ke tempat mereka menetas setelah dewasa, sekitar usia 10 hingga 20 tahun. Karena itu, pelepasan tukik ke pantai tempat penetasan memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan siklus hidup mereka.

“Pelepasliaran menjadi upaya penting untuk memastikan tukik yang berhasil menetas bisa kembali ke habitat alaminya di laut. Kami berkomitmen menjaga kawasan pantai sebagai habitat penyu agar proses peneluran di musim-musim berikutnya tetap berlangsung,” ujar Wahid sebagaimana dikutip dari TuguJogja.id.

Penyelamatan Telur Penyu dari Pantai Jungwok dan Nampu

Sebelumnya, petugas Dinas Kelautan dan Perikanan Gunungkidul melakukan penyelamatan telur-telur penyu dari dua lokasi berbeda, yakni Pantai Jungwok dan Pantai Nampu. Dari kedua pantai tersebut, berhasil dievakuasi 219 butir telur, dengan rincian 111 butir dari Pantai Jungwok dan 108 butir dari Pantai Nampu.

Proses pemantauan penetasan berlangsung selama tiga hari, mulai Jumat, 18 Juli 2025 hingga Minggu, 20 Juli 2025. Dari total telur yang diselamatkan, 61 ekor tukik berhasil ditetaskan dan dirawat hingga cukup kuat untuk dilepas ke alam.

Wahid Supriyadi, Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Gunungkidul, menjelaskan bahwa tingkat keberhasilan penetasan telur mencapai 75 persen.

Meski sebagian telur tidak menetas akibat kondisi yang tidak mendukung atau kematian sebelum penanganan, jumlah tukik yang berhasil diselamatkan sudah merupakan prestasi signifikan dalam konservasi penyu.

Gunungkidul: Rumah Bagi 12 Pantai Tempat Penyu Bertelur

Kabupaten Gunungkidul memang dikenal memiliki ekosistem pantai yang relatif masih terjaga. Tercatat ada 12 pantai yang menjadi lokasi pendaratan penyu untuk bertelur.

Pantai-pantai tersebut meliputi Pantai Kayu Arum, Pantai Porok, Pantai Sanglen, Pantai Wediombo, Pantai Ngrumput, Pantai Sruni, Pantai Watunene, Pantai Jungwok, Pantai Sedahan, Pantai Dadapan, Pantai Greweng, dan Pantai Ngrokoh.

Kondisi ini menurut Wahid menjadi indikator bahwa kualitas lingkungan laut di Gunungkidul masih sangat baik. Penyu hanya akan mendarat dan bertelur di pantai yang dianggap aman dan mendukung siklus reproduksinya, sehingga kehadiran penyu di pantai-pantai tersebut patut diapresiasi dan dijaga keberlanjutannya.

Harapan dan Seruan kepada Masyarakat

Sementara itu, Kepala Bidang Kelautan Pesisir dan Pengawasan Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta, Veronica Vony Rorong, mengungkapkan kekagumannya atas temuan telur penyu di pesisir Gunungkidul.

Ia menyebut bahwa kejadian ini adalah pertanda positif bahwa populasi penyu dan kualitas ekosistem laut di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta mengalami peningkatan signifikan.

Veronica juga menekankan pentingnya partisipasi aktif masyarakat dalam upaya konservasi. Ia mengajak masyarakat untuk segera melapor kepada petugas jika menemukan telur penyu di wilayah pesisir.

Hal ini penting agar telur dapat diselamatkan dan ditangani secara profesional demi kelangsungan hidup tukik-tukik tersebut.

“Harapan kami masyarakat tetap menjunjung tinggi nilai-nilai konservasi agar penyu-penyu yang mendarat di sekitar pantai Gunungkidul tetap lestari,” terang Veronica.

Komitmen Terus Dijaga untuk Generasi Mendatang

Langkah pelepasliaran tukik ke laut bukan hanya aksi simbolik, melainkan bentuk nyata dari tanggung jawab moral dan ekologis pemerintah daerah dalam menjaga keberlangsungan kehidupan penyu di alam liar.

Satwa ini telah masuk dalam kategori dilindungi, sehingga segala bentuk perlindungan mulai dari penyelamatan telur hingga pelepasliaran adalah bagian dari strategi jangka panjang dalam menjaga biodiversitas laut Indonesia.

Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dan dukungan kebijakan dari pemerintah daerah, diharapkan kawasan pesisir Gunungkidul dapat terus menjadi habitat yang ramah bagi penyu. Karena menjaga satu spesies berarti turut menjaga keseimbangan rantai kehidupan di laut, yang pada akhirnya akan berdampak pada keberlangsungan hidup manusia pula.

Langkah pelepasliaran 61 tukik di Pantai Ngandong menjadi catatan penting bagi perjalanan konservasi penyu di Gunungkidul.

Ini adalah hasil kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat yang memahami betapa pentingnya menjaga laut tetap lestari.

***

Berita Terkini