Didominasi Emak-Emak, Lebih dari 11 Ribu Orang Gunungkidul Pecahkan Rekor MURI ‘Nguleg Sambel’

Bagikan :

Ribuan warga dibeberapa Kabupaten Gunungkidul telah berhasil memecahkan rekor MURI budaya “Sambelan”.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), yang berlangsung di Fakultas Vokasi UNY Kampus Gunungkidul pada Selasa (28/5).

Kegiatan ini merupakan sesuatu yang baru dalam acara festival kuliner tahunan yang diselenggarakan para mahasiswa program studi Tata Boga.

Ketua Panitia, Dr. Minta Harsana mengatakan kriteria dari perlombaan tersebut meliputi 4 aspek yakni diantaranya kreatifitas penyajian sambel dan makanan pendamping seperti nasi dan juga lauk pauknya, kebersihan dan kerapihan, kekompakan tim dan rasa sambel serta cara menikmati sambelan.

“Kalau untuk proses pengulekannya dilakukan selama 50 detik. Cabai dalam cobek diulek secara bergiliran yang mana satu peserta memiliki waktu selama 10 detik dan dilakukan secara bergantian”, kata Dr.Minta Harsana, Selasa (28/5/2024).

Sedangkan platting atau penataan sambel beserta nasi dan lauk pauknya dilakukan selama 10 menit setelah pengulekan sambel.

Endar, salah satu peserta lomba dari Karangmojo merasa senang dapat mengikuti perlombaan ini karena dapat menambah pengetahuan utamanya tentang jenis-jenis sambal.

“Menu yang kita hidangkan kali ini adalah menu khas Gunungkidul. Sebagai pelengkap, kami memberikan lauk esktrem khas Gunungkidul yaitu belalang goreng,” ucap Endar.

Disamping itu, Sri Widayati selaku perwakilan dari rekor Muri mengungkapkan bahwa kegiatan ini menjadi prestasi yang luar biasa. Yang pada akhirnya, lomba mengulek sambal ini tercatat peserta terbanyak yakni 11.648.

“Karena itulah, kami dari Muri menganugerahkan piagam penghargaan kepada penyelenggara kepada Fakultas Vokasi UNY”, terang Sri Widayati.

Penghargaan Muri tersebut, merupakan rekor Muri ke delapan yang diraih UNY.

“Kegiatan ini tidak hanya untuk mencatat sejarah bagi UNY, namun juga melestarikan kebudayaan di Gunungkidul”, tandasnya.

Berita Terkini