“PKL Bersatu, Tak Bisa dikalahkan” “PKL Bersatu, tak Bisa dikalahkan”, begitulah gema aksi pedagang Teras Malioboro 2 (TM) yang tergabung dalam paguyuban pedagang Tri Dharma kembali melakukan aksi rencana relokasi jilid 2 oleh Pemda DIY.
Salah satu yang mereka soroti adalah pernyataan Gubernur tentang kebijakan relokasi PKL Malioboro yang disebutnya hanya mengundang individu untuk pembahasan relokasi tersebut.
Padahal mereka mengaku tak seorang pun dari mereka yang dilibatkan, meski katanya perorangan.
“Sangat disayangkan bapak Gubernur bilang katanya berunding perorangan dari kami tapi faktanya dari kami tidak ada yang kesana, entah siapa itu”, kata salah satu anggota Paguyuban Tri Dharma, Upik Supriyati saat berorasi.
“Apa kalian pernah menandatangani surat perjanjian dengan pemerintah?”, tanya Supriyati kepada rekan PKL.
“Tidak”, jawab serentak para pedagang.
Supriyati kembali menekankan bahwa PKL dan Malioboro merupakan dua sisi yang saling beriringan karena terbukti membantu roda perekonomian DIY.

“Saya sendiri generasi kedua dari bapak saya berjualan di depan toko sudah lebih dari 50 tahun. Jadi memang adalah PKL dan Malioboro memang tidak bisa dipisahkan”, tegas Supriyati.
Upik juga menyinggung terkait insiden/kericuhan yang menimpa para pedagang beberapa hari yang lalu dilokasi tersebut. Karena petugas yang berjaga dikawasan tersebut menutup akses pintu Teras Malioboro 2.
“Saat insiden kemarin kenapa malah petugas menutup akses selama 3 jam lebih kemudian juga ada pemadaman listrik, ada apa ini sebenarnya?”, tanyanya.
“Saya harap dengan adanya insiden kemarin jangan terulang lagi”, harapnya.
Disisi lain, dirinya menyinggung adanya rencana pemerintah terkait yang nantinya akan ada penambahan pedagang dari luar. Karena inilah mereka tak terima.
“Kemudian untuk lapak-lapak siluman yang dibilang oleh sekda bahwa akan ada penambahan pedagang-pedagang di luar dari pedagang atau ke luar PKL dari selasar Malioboro. Kita tak terima, makmurkan dulu kita”, tegasnya.

Diberitakan sebelumnya, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X telah angkat bicara kontroversi relokasi jilid 2 terhadap para pedagang Teras Malioboro 2 (TM2).
Menurut Sultan, komunikasi terkait rencana sudah clear per individu bukan paguyuban pedagang.
“Kita kan sudah bicara kalau disitu memang (TM 2) hanya dua tahun. Sudah tahu lah,” Tegas Sultan kepada wartawan, Selasa (16/7/2024).
“Tapi kalau soal Tri Dharma saya tidak mengenal. Yang jelas kontraknya sama Pemda kan individual, kita rembukannya juga sama individual, bukan koperasi,” lanjutnya.
Raja Keraton Yogyakarta menegaskan bahwa saat relokasi termasuk sejak relokasi jilid 1, komunikasi (kontrak) dilakukan per individu bukan atas nama kelompok.
“Koperasi itu kan PKL yang ada di selasar begitu masuk situ (TM2) kan termasuk individual ya jadi enggak ada organisasi. Artinya yang ngontrak individual, biar pun mungkin ya anggota Tri Dharma,” jelas Sultan.