
jogjaberkabar – Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menunjukkan langkah nyata dalam memerangi persoalan stunting yang masih menjadi tantangan serius di Indonesia.
Melalui peluncuran program bertajuk Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING), pemerintah daerah ini memberikan perhatian khusus kepada keluarga-keluarga yang tergolong rawan stunting, dengan cara yang unik namun berdampak langsung, yakni membagikan ayam kampung sebagai sumber pangan bergizi.
Awal Gerakan GENTING
Program GENTING secara resmi diluncurkan pada hari Selasa, 15 Juli 2025, di wilayah Kapanewon Playen.
Dalam kegiatan perdana ini, sebanyak 144 pasang ayam kampung yang terdiri dari ayam jantan dan betina dibagikan kepada keluarga yang telah teridentifikasi sebagai kelompok rentan stunting.
Bantuan ini tidak hanya berupa hewan ternak, tetapi juga merupakan simbol komitmen pemerintah dalam mengatasi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang paling mendasar.
Kehadiran Wakil Bupati Gunungkidul, Joko Parwoto, dalam kegiatan ini memberikan semangat tersendiri bagi para penerima manfaat.
Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Gunungkidul tidak akan membiarkan masa depan anak-anak terganggu oleh masalah stunting yang bisa dicegah sejak dini.
“Kami percaya bahwa kerja bersama antara pemerintah dan masyarakat bisa membawa perubahan nyata. Program GENTING ini menjadi bukti komitmen bahwa kita semua peduli terhadap pertumbuhan generasi mendatang. Kita tidak bisa membiarkan stunting merusak kualitas sumber daya manusia bangsa,” tegas Joko Parwoto, seperti dikutip dari kabarjawa.com.
Stunting: Bukan Sekadar Masalah Gizi
Lebih dari sekadar tinggi badan anak yang tidak sesuai usianya, stunting merupakan persoalan multidimensi.
Anak yang mengalami stunting berisiko mengalami gangguan kecerdasan, kesulitan mengelola emosi, dan rendahnya produktivitas saat dewasa nanti. Hal ini tentu akan berdampak pada masa depan bangsa jika tidak ditangani dengan serius.
Joko Parwoto menekankan pentingnya peran masyarakat sebagai orang tua asuh, yang artinya tidak harus secara biologis, melainkan siapa saja yang peduli dan mau berkontribusi terhadap pemenuhan gizi dan kasih sayang bagi anak-anak sekitar.
Ia pun mengajak masyarakat agar bersama-sama menjamin asupan gizi anak-anak. Orang tua tidak hanya mengandalkan bantuan dari pemerintah tetapi juga berupaya melakukan pengawasan serta perhatian untuk proses tumbuh kembang anak.
Masyarakat sebagai Pelaku Utama
Program GENTING tidak hanya sebatas kegiatan seremonial dan pemberian bantuan. Ia dirancang dengan pendekatan berbasis komunitas, di mana masyarakat didorong untuk berperan aktif sebagai motor perubahan.
Tujuan utama dari konsep ini adalah membangkitkan semangat gotong royong sebagai fondasi dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan anak secara sehat.
Dalam pelaksanaan program di Playen, para pejabat daerah tak sekadar hadir, tetapi juga turun langsung menyerahkan ayam kampung kepada warga secara simbolis.
Mereka memberikan motivasi dan edukasi agar bantuan ternak ini tidak hanya dipelihara, namun benar-benar dimanfaatkan untuk mendukung kecukupan gizi anak-anak di rumah.
Dukungan dari Pemerintah Kapanewon Playen
Panewu Playen, Agus Sumaryono, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari strategi besar dalam menurunkan angka stunting di wilayahnya.
Ia menyebutkan bahwa pemerintah setempat telah mendistribusikan 144 pasang ayam kampung kepada keluarga yang membutuhkan, serta menyalurkan bantuan jamban sehat kepada salah satu rumah tangga.
“Kami tidak berhenti di sini. Bantuan ini adalah awal dari gerakan besar yang membutuhkan kolaborasi jangka panjang. Kami ingin setiap rumah tangga yang rawan stunting memiliki akses terhadap sumber protein hewani yang terjangkau dan berkelanjutan,” terang Agus Sumaryono.
Telur Ayam Kampung: Solusi Gizi dari Halaman Sendiri
Salah satu alasan pemilihan ayam kampung sebagai bantuan dalam program ini adalah karena hewan ini bisa menjadi sumber protein hewani berkualitas tinggi. Telur ayam kampung mengandung zat gizi penting yang dibutuhkan untuk mendukung tumbuh kembang anak, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan.
Agus menjelaskan bahwa keluarga yang menerima ayam kampung diharapkan dapat memanfaatkan hasil ternak, terutama telur, untuk konsumsi sehari-hari anak-anak mereka. Dengan cara ini, keluarga bisa memiliki cadangan protein hewani tanpa harus membeli setiap hari.
“Kami sangat berharap masyarakat dapat memelihara ayam dengan baik. Jika dirawat dengan benar, ayam ini bisa bertelur secara rutin dan menjadi sumber gizi tambahan yang sangat berarti untuk anak-anak,” imbuh Agus.
Ia juga mengajak semua pihak baik perangkat desa, kader kesehatan, tokoh masyarakat, maupun warga umum untuk turut serta dalam menyukseskan gerakan ini.
GENTING bukanlah program instan yang bisa menunjukkan hasil dalam semalam. Namun dengan komitmen bersama, dukungan kolektif, dan kesinambungan kegiatan, hasilnya dapat menjadi solusi jangka panjang yang nyata.
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul percaya bahwa dengan semangat gotong royong dan partisipasi masyarakat, langkah kecil seperti membagikan ayam kampung bisa berdampak besar pada masa depan anak-anak.
Melalui program ini, Gunungkidul memberikan contoh bagaimana pendekatan inovatif, berbasis lokal, dan bersifat partisipatif dapat diadopsi oleh wilayah lain di Indonesia untuk melawan stunting.
Keberhasilan GENTING akan menjadi bukti bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari langkah-langkah kecil yang dijalankan secara konsisten.
***