Apa Gerakan Ayah Antar Anak Sekolah? Aturan Resmi Pemerintah dan Tujuan Utamanya

Bagikan :
Gerakan Ayah Antar Anak Sekolah. (Pixabay.com)

jogjaberkabar – Mengenal apa Gerakan Ayah Antar Anak Sekolah yang baru saja diresmikan Pemerintah. Pendidikan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab guru dan institusi pendidikan.

Orang tua, khususnya sosok ayah, memegang peranan penting dalam membentuk karakter, nilai, dan kepercayaan diri anak sejak dini.

Dalam upaya menumbuhkan peran ayah dalam proses pengasuhan anak, pemerintah melalui Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga atau Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Republik Indonesia (disingkat Kemendukbangga/BKKBN), menetapkan kebijakan baru bertajuk Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah.

Latar Belakang Gerakan Ayah Mengantar Anak Sekolah

Gerakan ini pertama kali diumumkan secara resmi melalui Surat Edaran Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Nomor 7 Tahun 2025, yang ditandatangani di Jakarta pada tanggal 10 Juli 2025.

Gerakan ini mulai diberlakukan pada hari pertama masuk sekolah yakni Senin, 14 Juli 2025, dan menyasar keterlibatan aktif para ayah, khususnya Aparatur Sipil Negara (ASN), dalam mendampingi anak ke sekolah di hari pertama.

Kebijakan ini tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian dari kampanye nasional yang lebih besar yaitu Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI).

Tujuannya tidak hanya meningkatkan kehadiran ayah dalam momen penting anak, tetapi juga membangun kembali keseimbangan peran antara ayah dan ibu dalam hal pengasuhan.

Apa Saja Aturan dalam Gerakan Ini?

Gerakan ini secara khusus mengimbau agar para ASN yang memiliki anak usia sekolah dapat mengantarkan anak-anak mereka ke sekolah pada hari pertama. Beberapa ketentuan teknis yang disampaikan melalui edaran tersebut antara lain:

  • ASN yang mengikuti gerakan ini diwajibkan melakukan presensi langsung (RL) di lokasi sekolah anak.
  • ASN diminta untuk menyertakan bukti pendukung, seperti surat resmi dari sekolah tentang hari pertama masuk atau tangkapan layar pengumuman sekolah.
  • Setelah mengantar anak, ASN harus kembali ke tempat kerja paling lambat pukul 12.00 siang waktu setempat.
  • ASN juga diwajibkan melapor kepada atasan langsung sebagai bentuk pertanggungjawaban keikutsertaan dalam program ini.

Meskipun awalnya ditujukan untuk ASN di lingkungan Kemendukbangga/BKKBN, gerakan ini membuka peluang untuk diterapkan secara lebih luas.

Pemerintah mendorong agar masyarakat umum, khususnya para ayah, dapat ikut serta dan menjadikan momen ini sebagai budaya tahunan dalam pendidikan anak.

Tujuan dan Manfaat Gerakan Ayah Antar Anak Sekolah

Gerakan ini diluncurkan bukan hanya sebagai simbol partisipasi ayah, tetapi sebagai upaya nyata mengatasi fenomena fatherless di Indonesia. Fatherless merujuk pada kondisi minimnya keterlibatan ayah dalam kehidupan anak, baik secara fisik maupun emosional.

Berdasarkan keterangan dari situs Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dan beberapa pemerintah daerah seperti Pemkab Kotabaru, tujuan dari gerakan ini meliputi:

1. Menguatkan Ikatan Emosional Ayah dan Anak

Saat ayah hadir di momen penting seperti hari pertama sekolah, anak akan merasa lebih dihargai dan didukung secara emosional.

2. Meningkatkan Kepercayaan Diri Anak

Kehadiran ayah secara fisik dapat membangun rasa aman dan percaya diri pada anak, terutama dalam lingkungan baru seperti sekolah.

3. Menumbuhkan Kesetaraan dalam Pengasuhan

Dengan terlibatnya ayah, pola asuh anak menjadi lebih seimbang dan tidak hanya bertumpu pada ibu, sehingga mendorong kolaborasi harmonis dalam keluarga.

4. Mendorong Ketahanan dan Kualitas Keluarga

Ayah yang terlibat aktif akan membantu menciptakan lingkungan keluarga yang sehat, mendukung tumbuh kembang anak, dan memperkuat ketahanan keluarga dalam jangka panjang.

Kolaborasi dengan Gerakan Ayah Sayang Anak dan Harganas di DIY

Sebagai bagian dari kampanye berkelanjutan, gerakan ini juga diperkuat oleh inisiatif yang telah lebih dulu berjalan, seperti Gerakan Ayah Sayang Anak (GASA) yang dilaksanakan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-32 yang berlangsung di Kabupaten Sleman pada 17 Juli 2025.

Mengutip dari akun Instagram resmi @humasjogja, dalam kegiatan ini, salah satu aksinya adalah mengantar anak ke sekolah, sebagai bentuk nyata peran ayah dalam mendukung pendidikan anak sejak usia dini.

GASA dan GATI menjadi tonggak utama dalam membentuk kesadaran masyarakat bahwa ayah bukan hanya pencari nafkah, melainkan juga pelindung, pendidik, dan sahabat anak dalam proses pertumbuhan mereka.

Gerakan Ayah Teladan Indonesia atau GATI adalah program nasional yang digagas BKKBN untuk menguatkan peran ayah dalam keluarga. GATI mengajak para ayah untuk lebih aktif dalam mendidik, melindungi, dan membimbing anak-anak mereka dalam berbagai aspek kehidupan.

Dalam laman resmi BKKBN dijelaskan bahwa GATI bertujuan membangun kesadaran bersama bahwa kehadiran ayah sangat penting bagi tumbuh kembang anak. Hal ini tidak hanya mendukung terciptanya keluarga harmonis, tetapi juga berkontribusi dalam membangun generasi masa depan yang lebih baik, berkualitas, dan berdaya saing.

GATI juga membawa pesan kuat melalui tagline-nya “Ayah bukan hanya kepala keluarga, tapi juga hati keluarga.”

Slogan ini menggambarkan bahwa tanggung jawab ayah jauh lebih luas dari sekadar memberikan nafkah. Ayah juga adalah sumber cinta, moral, dan nilai-nilai yang akan membentuk kepribadian anak-anaknya.

Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah bukan hanya sekadar imbauan formal dari pemerintah. Ini adalah langkah konkret untuk mengubah pola pikir dan budaya pengasuhan di Indonesia.

Ketika seorang ayah hadir dan menyempatkan waktu untuk hal-hal kecil namun bermakna seperti mengantar anak di hari pertama sekolah, hal tersebut bisa menjadi memori indah dan pelajaran berharga bagi sang anak.

Melalui regulasi resmi dan dukungan dari berbagai instansi, harapannya gerakan ini bisa menjadi awal dari peran ayah yang lebih aktif dalam kehidupan anak. Dengan keterlibatan yang setara antara ayah dan ibu, Indonesia bisa mencetak generasi yang lebih tangguh, berkarakter, dan berdaya saing tinggi di masa depan.

***

Berita Terkini