Ancaman Gempa M 8,7 di Yogyakarta Makin Nyata Seiring Siklus Megathrust Masuk 30 Tahun Terakhir

Bagikan :
Yogyakarta Diminta Tidak Lengah Hadapi Siklus Akhir Megathrust dengan Potensi Gempa Berkekuatan Besar

JOGJA BERKABAR – Yogyakarta kembali diingatkan soal ancaman gempa besar. Kali ini bukan sekadar isu biasa, tapi berkaitan dengan siklus megathrust di selatan Jawa yang disebut sudah masuk fase akhir.

Dalam 30 tahun ke depan, wilayah ini berpotensi mengalami gempa dengan kekuatan hingga magnitudo 8,7. Angkanya besar. Dampaknya juga tidak bisa dianggap ringan.

Peringatan ini disampaikan oleh Dwikorita Karnawati dalam sebuah seminar 20 tahun gempa Yogyakarta.

Ia mengacu pada hasil studi dari Institut Teknologi Bandung yang meneliti pola siklus gempa besar di wilayah selatan Jawa.

Intinya, energi di dalam bumi terus terkumpul dan suatu saat akan dilepaskan. Itulah yang perlu diantisipasi dari sekarang. Bukan untuk bikin takut. Tapi supaya lebih siap.

Masuk fase akhir siklus megathrust

Siklus gempa besar itu ada polanya. Sekarang, Yogyakarta dan sekitarnya sudah masuk 30 tahun terakhir sebelum potensi pelepasan energi besar. Artinya, risiko gempa kuat semakin dekat.

Potensi gempa bisa mencapai M 8,7

Ini bukan gempa kecil. Dengan magnitudo sebesar itu, dampaknya bisa luas, apalagi jika terjadi di zona padat penduduk.

Bandara YIA jadi contoh infrastruktur tahan bencana

Bandara Internasional Yogyakarta dirancang tahan gempa besar dan tsunami. Bahkan bisa menahan guncangan hingga magnitudo 8,7 dan gelombang tsunami setinggi 15 meter. Tidak cuma itu, area bandara juga bisa menampung sekitar 12.000 orang untuk evakuasi sementara.

Ancaman tidak hanya dari laut

Selain megathrust di selatan, ada juga ancaman dari darat. Salah satunya dari Sesar Opak yang pernah memicu gempa tahun 2006.

Sesar Opak ternyata lebih kompleks

Penelitian terbaru menunjukkan kalau sesar ini bukan satu garis patahan saja. Tapi bercabang dan tidak terlihat di permukaan. Ini disebut sebagai blind fault. Jadi, potensi bahayanya sering tidak terlihat jelas.

Energi gempa lama belum sepenuhnya lepas

Gempa 2006 dianggap belum mengeluarkan semua energi yang tersimpan. Artinya, masih ada potensi aktivitas di masa depan.

Wilayah tertentu punya risiko guncangan lebih besar

Ada zona yang bisa memperkuat getaran gempa. Di area seperti ini, pembangunan harus lebih diperhatikan dan tidak boleh sembarangan.

Pentingnya kesiapan dari sekarang

Bukan cuma pemerintah. Masyarakat juga perlu tahu langkah dasar saat gempa, jalur evakuasi, dan cara menyelamatkan diri.

Situasi ini menunjukkan kalau hidup di wilayah rawan gempa memang butuh kesiapan ekstra. Tidak bisa santai sepenuhnya. Tapi juga tidak perlu panik berlebihan.

Yogyakarta sendiri sebenarnya sudah mulai bergerak ke arah yang lebih siap. Pembangunan berbasis ilmu pengetahuan mulai diterapkan.

Teknologi peringatan dini juga terus dikembangkan. Ditambah lagi dengan kearifan lokal yang sudah lama jadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Ke depan, kombinasi antara teknologi dan kesadaran masyarakat jadi kunci. Semakin paham risiko, semakin besar peluang untuk selamat saat bencana terjadi.

Gempa memang tidak bisa dicegah. Tapi dampaknya bisa dikurangi kalau semua lebih siap dari sekarang.***

Berita Terkini