
Gunungkidul,(Jogjaberkabar) – Suasana penuh semangat mewarnai Dusun Siraman, Wonosari, Gunungkidul, Senin pagi (18/8). PT Paragon Technology and Innovation bersama Lembaga Manajemen Infaq (LMI) meresmikan Kampung Melon Siraman, sebuah program pemberdayaan petani berbasis zakat produktif yang kini memasuki masa panen perdana.
Acara peresmian yang dimulai sejak pukul 09.30 WIB itu berlangsung khidmat dengan rangkaian acara mulai dari pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya, hingga sambutan dari berbagai tokoh. Hadir dalam kesempatan tersebut, Lurah Siraman Bapak Damiyo, Ketua Pengurus Yayasan LMI Dr. Eric Kurniawan, perwakilan PT Paragon, serta Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama RI Prof. Dr. H. Waryono, S.Ag., M.Ag.
Setelah sambutan, acara dilanjutkan dengan pemotongan pita secara simbolis oleh Tim Paragon yang didampingi tamu undangan, peninjauan greenhouse, hingga kegiatan memetik melon bersama. Suasana semakin cair saat ramah tamah yang digelar seusai acara resmi.
Panen Perdana 1,3 Ton Melon
Direktur LMI, Yanuari Dwi Prianto, menjelaskan bahwa program ini melibatkan 20 penerima manfaat yang mulai menanam melon sejak April 2025 di greenhouse seluas 336 meter persegi. Tiga varietas melon unggulan ditanam, yaitu dalmation, kirin, dan kirani, dengan menggunakan teknologi light grow untuk mempercepat pertumbuhan.
“Total ada 1.024 batang melon yang ditanam. Dari jumlah itu, diperkirakan menghasilkan sekitar 920 buah melon dengan total panen 1,1 hingga 1,3 ton. Rata-rata berat per buah berkisar 1 hingga 2,3 kilogram,” jelas Yanuari.
Lebih menggembirakan lagi, hasil panen langsung diserap pasar ritel maupun konsumen akhir, sehingga para petani penerima manfaat bisa merasakan tambahan penghasilan secara nyata. “Ini bukti bahwa zakat tidak hanya untuk konsumtif, tapi bisa dikelola produktif, memberi nilai tambah, dan membawa berkah bagi masyarakat,” tambahnya.
Teknologi Hidroponik dan Pemasaran End User
Fahid Nur Arosyid, Ketua Pelaksana Program sekaligus pendamping kelompok petani, mengungkapkan bahwa sistem budidaya yang digunakan adalah hidroponik dengan metode Nutrient Film Technique (NFT). Sistem ini memungkinkan distribusi nutrisi secara merata menggunakan aliran air yang dipompa, lalu kembali ke tandon dengan memanfaatkan gravitasi.
“Untuk siklus tanam kali ini, penggunaan lampu grow light relatif sedikit karena musim kemarau. Tapi menjelang akhir tanam, lampu digunakan selang-seling untuk membantu pematangan buah agar lebih manis,” terang Fahid.
Ia menambahkan, tingkat keberhasilan tanam di greenhouse mencapai 90 persen, jauh lebih stabil dibandingkan budidaya di lahan terbuka. Dari sisi pemasaran, sebagian besar hasil panen langsung dijual ke end user melalui sistem petik melon di lahan. Namun, ke depan, pihaknya juga membuka peluang untuk bekerja sama dengan mitra ritel modern.
“End user kita tidak hanya dari sekitar Gunungkidul, tapi juga banyak yang datang dari luar daerah, bahkan sampai Tangerang. Ke depan kami menargetkan minimal enam mitra tetap untuk menjaga kontinuitas distribusi,” ujarnya.
Gunungkidul Jadi Role Model Zakat Produktif
Kepala Bidang Penerangan Agama Islam dan Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kanwil Kemenag DIY, Nurhuda, menegaskan bahwa Gunungkidul kini menjadi salah satu daerah terbaik dalam pengelolaan program wakaf dan zakat produktif.
“Gunungkidul selalu mendapat respons luar biasa setiap kali ada program. Data terakhir menunjukkan kabupaten ini menjadi salah satu pengelola terbaik program wakaf di Indonesia. Banyak praktik baik, mulai dari budidaya alpukat di Wunung, kampung zakat, hingga melon di Siraman,” ungkapnya.
Nurhuda menegaskan bahwa zakat tidak hanya tentang distribusi kepada mustahik, tetapi juga tentang pemberdayaan masyarakat untuk memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan.
Manis Berkah Zakat untuk Petani
Program Kampung Melon Siraman ini menjadi bukti nyata bahwa pengelolaan zakat secara produktif dapat menggerakkan ekonomi lokal. Dengan hasil panen perdana yang menggembirakan, para penerima manfaat kini bisa menikmati tambahan penghasilan sekaligus meningkatkan keterampilan mereka dalam budidaya modern.
Bagi masyarakat Gunungkidul, melon yang ditanam bukan hanya sekadar buah, melainkan simbol manisnya berkah zakat yang memberi harapan baru bagi para petani kecil.(Hari)