Benarkah Malam Rebo Wekasan Dipercaya sebagai Hari Turunnya Bala atau Musibah?

Bagikan :
Ilustrasi malam Rebo Wekasan. (Freepik.com)

jogjaberkabar – Setiap kali bulan Safar memasuki minggu terakhir, sebagian masyarakat Jawa mulai membicarakan malam Rebo Wekasan.

Tradisi ini diwariskan turun-temurun dan sering dihubungkan dengan keyakinan bahwa pada malam tersebut turun berbagai macam bala, terutama penyakit dan bencana. Namun, benarkah malam Rebo Wekasan memang menjadi hari turunnya musibah?

Asal Usul Keyakinan tentang Malam Rebo Wekasan

Istilah Rebo Wekasan berasal dari bahasa Jawa, yaitu Rebo berarti Rabu dan wekasan berarti terakhir. Jadi, Rebo Wekasan merujuk pada hari Rabu terakhir di bulan Safar dalam kalender Hijriah.

Sejak lama, masyarakat Jawa dan sebagian umat Islam Nusantara menganggap hari ini penuh dengan ujian dan bala, sehingga muncul tradisi mengadakan doa bersama, sedekah, hingga pengajian sebagai bentuk permohonan perlindungan kepada Allah.

Namun, jika ditelusuri dalam sumber Islam, tidak ada dalil yang menyebutkan bahwa Rabu terakhir Safar adalah hari khusus turunnya bala. Tidak ada hadis shahih maupun ayat Al-Qur’an yang menetapkan demikian. Artinya, keyakinan itu lebih dekat pada budaya lokal yang kemudian diberi nuansa keislaman.

Pandangan Islam tentang Musibah

Dalam ajaran Islam, bala atau musibah bisa datang kapan saja, tidak terikat pada hari tertentu. Semua itu merupakan ketetapan Allah. Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya:

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghabun: 11)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa musibah adalah bagian dari takdir Allah. Bahkan, bagi seorang mukmin, setiap ujian bisa menjadi jalan untuk meningkatkan keimanan dan kedekatan kepada-Nya. Dengan demikian, keyakinan bahwa bala hanya turun pada malam Rebo Wekasan tidak memiliki dasar syar’i.

Hikmah di Balik Tradisi Rebo Wekasan

Walaupun tidak ada dalil khusus, tradisi Rebo Wekasan memiliki sisi positif yang bisa diambil hikmahnya. Tradisi ini sering dijadikan momentum untuk:

  • Mengumpulkan masyarakat dalam majelis doa dan dzikir.
  • Meningkatkan kesadaran akan pentingnya berdoa dan memohon perlindungan Allah.
  • Mengingatkan manusia bahwa hidup penuh dengan ujian sehingga perlu selalu waspada dan memperbanyak amal saleh.

Dari sisi sosial, Rebo Wekasan juga menjadi ajang mempererat silaturahmi antarwarga, karena biasanya disertai dengan kegiatan berbagi makanan atau sedekah bersama.

Apa yang Bisa Dilakukan Umat Islam pada Malam Rebo Wekasan?

Bagi umat Islam, malam Rebo Wekasan bisa dijadikan kesempatan untuk memperbanyak ibadah. Beberapa amalan yang bisa dilakukan antara lain:

1. Memperbanyak doa

Rasulullah SAW bersabda: “Doa adalah ibadah.” (HR. Tirmidzi). Maka, memperbanyak doa memohon perlindungan dari segala musibah sangat dianjurkan, kapan pun dan di hari apa pun.

2. Shalat sunnah

Umat Islam bisa melaksanakan shalat sunnah dua rakaat atau lebih dengan niat memohon keselamatan dan perlindungan Allah.

3. Membaca Al-Qur’an dan dzikir

Membaca Surah Yasin, Al-Fatihah, atau dzikir seperti istighfar dan shalawat adalah amalan yang baik dilakukan, baik di malam Rebo Wekasan maupun hari lainnya.

4. Sedekah

Memberi bantuan kepada sesama adalah bentuk ikhtiar menolak bala. Rasulullah SAW bersabda: “Sedekah dapat menolak bala.” (HR. Thabrani).

Dengan melakukan amalan-amalan tersebut, malam Rebo Wekasan bisa menjadi momentum untuk memperbanyak kebaikan tanpa harus terikat pada keyakinan tertentu yang tidak memiliki dasar dalil.

Keyakinan bahwa malam Rebo Wekasan adalah hari turunnya bala tidak ditemukan dalam Al-Qur’an maupun hadis. Meski demikian, tradisi ini tetap hidup di tengah masyarakat sebagai simbol kewaspadaan dan pengingat agar manusia semakin dekat dengan Allah.

Hal yang terpenting, umat Islam meyakini bahwa musibah atau rahmat hanya terjadi atas izin Allah, bukan karena penentuan waktu tertentu.

Dengan menjadikan malam Rebo Wekasan sebagai momen memperbanyak doa, ibadah, dan amal saleh, tradisi ini bisa bernilai positif sekaligus memperkuat keimanan.

***

Berita Terkini