Yogyakarta memiliki potensi besar dalam pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Apalagi UMKM menyerap lebih dari 70% tenaga kerja di Provinsi DIY.
Menyadari potensi tersebut, Majelis Ekonomi & Pariwisata PCM Mantrijeron dan Lazismu Mantrijeron telah sukses berkolaborasi melaksanakan seminar bisnis sekaligus meluncurkan program inkubator dengan tajuk “Seminar Bisnis dan Kick Off Inkubator Kewirausahaan UMKM Mantrijeron” yang berlangsung di Hotel Matahari Yogyakarta, Minggu (10/6/2024).
Acara tersebut dihadiri sekitar 70 pelaku UMKM di Kemantren Mantrijeron bertujuan agar para peserta seminar mendapatkan keterampilan guna mengembangkan usaha mereka.
Koordinator Majelis Ekonomi dan Pariwisata PCM Mantrijeron, Havri Ahsanul Fuad mengatakan bahwa kegiatan ini sebenarnya sudah diinisiasi dari lama.
“Kami melihat di Mantrijeron ini banyak potensi ekonomi terutama dari kalangan ibu-ibu dan anak muda tapi itu masih belum terkelola dengan baik, makanya kita mendorong melalui kolaborasi inilah untuk bisa mengembangkan ekonomi”, katanya kepada wartawan disela-sela acara.
“Setelah ini, akan ada assessment dan juga seleksi bagi para peserta yakni ada 20 UMKM yang dipilih. Kemudian kita dampingi, kita berikan training pelatihan untuk membantu mereka mengembangkan usaha. Dan juga nanti utamanya adalah kita berikan penguatan modal bagi para UMKM”, sambungnya.
Fuad menambahkan, pada program inkubator ini akan berjalan selama 6 bulan pada Juni-Desember.
“Sementara segmentasi peserta adalah warga sekitar yang sudah punya usaha satu tahun, berusia minimal 20 tahun maksimal 50 tahun, dan usahanya masih kelas mikro 1 dengan omset di bawah satu juta rupiah perbulan,” tambahnya.
Adapun terkait untum dana program tersebut disebutnya Havri telah dirancang akan menggunakan dana sekitar 150 juta rupiah.
Disamping itu, salah satu pemateri dalam seminar ini yakni
Asri Meikawati Hazim selaku founder Chocolate nDalem mengatakan, dengan adanya program ini, diharapkan para pelaku UMKM dapat lebih siap menghadapi tantangan bisnis dan mampu meningkatkan daya saing mereka di pasar.
“Pesan dari saya adalah salah satunya bagaimana dalam menjalankan usahanya mereka ini tetap mendengarkan konsumen agar usahanya tetap bertahan. Kemudian adalah adaptasi harga”, ucapnya.
Lanjut Asri menekankan, dirinya juga berharap pelaku UMKM tersebut terus mencoba inovasi baru. Dirinya mencontohkan ketika pandemi, usahanya turun sampai 60 persen, mau tidak mau jika ingin bertahan ia harus mengubah sistem penjualannya dari yang semula offline saja kini merambah juga menjadi online.
“Kita juga berkendala kok, kemarin masa pandemi turun 60% kita mau nggak mau harus pindah dari offline ke online lewat digital marketing. Jadi pintar-pintarnya melakukan adaptasi dam harus dilakukan secara konsistensi, meski memang hal ini menjadi tantangan secara pribadi dalam berwirausaha tapi cara ini pasti dapat bertahan untuk di masa depan nanti”, tandasnya.
Selain founder Chocolate nDalem, dua orang pemateri lainnya yakni Nuryanto Hari Murti selaku founder Labpratorium Kampung Ternak, dan IHeru Budi Setiawan selaku founder CV Empat K. kewirausahaan untuk UMKM.