
jogjaberkabar – Belakangan ini, jagat dunia maya diramaikan dengan sebuah tradisi budaya asal Indonesia yang mendadak menjadi viral di berbagai platform media sosial (medsos).
Tradisi tersebut yaitu Festival Pacu Jalur. Ini merupakan ajang balap perahu panjang khas Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Ria.
Namun, bukan sekadar perlombaan saja, melainkan sosok bocah kecil penari di ujung perahu yang kini menjadi ikon tren global ini.
Aksi anak laki-laki yang menari penuh semangat sambil menyeimbangkan tubuh di ujung perahu ini menciptakan gaya yang unik dan berenergi.
Gerakan tersebut lantas diberi nama “Aura Farming”, dan kemudian sukses dikenal warganet global.
Tidak butuh waktu lama hingga konten tersebut menyebar ke penjuru dunia, bahkan ditiru oleh para kreator konten dari berbagai negara.
Tapi satu pertanyaan muncul di benak banyak orang yaitu “Siapa sebenarnya nama bocah Pacu Jalur yang viral karena gerakan Aura Farming ini?”
Siapa Bocah Pacu Jalur yang Viral karena Aura Farming? Ini Namanya
Bocah kecil yang tampil menawan di video viral tersebut bernama lengkap Rayyan Arkan Dikha, atau akrab disapa Dikha.
Berbagai sumber mengungkap bahwa usianya baru 10 tahun. Ia pun berasal dari Kuansing, wilayah asli digelarnya tradisi Pacu Jalur.
Meski usianya masih belia, keberanian dan gaya unik Dikha di atas perahu telah menginspirasi dunia dan menciptakan tren budaya baru di medsos.
Dikha bukan hanya sekadar pendayung biasa. Ia menempati posisi istimewa sebagai Tukang Tari atau Anak Coki yaitu sosok penari yang bertugas menampilkan tarian sambil berdiri di ujung Jalur (perahu panjang).
Tugas ini tidak sembarangan, karena posisi tersebut menjadi ikon visual dalam setiap penampilan Pacu Jalur.
Melalui ekspresi wajah yang ceria, lambaian tangan yang energik, hingga goyangan tubuh yang ritmis, Dikha sukses menyita perhatian dunia.
Fenomena “Aura Farming” Viral di Medsos
Gerakan Dikha yang menari penuh percaya diri di atas perahu bukan hanya menghibur, tetapi juga menyampaikan pesan kuat tentang semangat, ketangguhan, dan keindahan budaya lokal.
Inilah yang kemudian diabadikan dalam istilah viral “Aura Farming” yang merupakan tren berjoget yang menunjukkan energi positif, kekompakan, dan kepercayaan diri.
Tren ini cepat menyebar di media sosial. Tidak hanya pengguna biasa, tapi juga tokoh-tokoh populer dan institusi ternama ikut terinspirasi.
Bahkan, klub bola besar asal Prancis, Paris Saint-Germain (PSG) ikut menampilkan gerakan Tukang Tari dalam unggahan mereka.
Tak cuma PSG, klub Serie A Italia, AC Milan juga meremaikan tren ini.
Dalam postingannya, nampak maskot klub yang meniru gerakan khas ala Anak Coki, membuat Pacu Jalur itu.
Kemudian, sejumlah influencer dari berbagai negara pun mulai ikut serta meniru gaya Dikha, menunjukkan bahwa tradisi lokal ini benar-benar menembus batas budaya dan geografis.
Peran Anak Coki dalam Festival Pacu Jalur
Dalam konteks Pacu Jalur, Anak Coki memiliki peranan penting.
Ia tidak hanya diposisikan sebagai penari yang bakal menarik perhatian penonton, tetapi juga sebagai penjaga semangat dan simbol kesatuan tim.
Posisi ini biasanya diisi oleh anak-anak karena tubuh mereka yang ringan bakal membuat perahu lebih seimbang dan bisa melaju lebih cepat.
Gerakan yang dilakukan Anak Coki juga memiliki makna tersendiri.
Misalnya, lambaian tangan ke arah sungai adalah bentuk penghormatan kepada alam, sementara gerakan tubuh yang lincah menggambarkan ketangkasan dan kerja sama dalam komunitas.
Rayyan Arkan Dikha
Jadi kesimpulannya, nama bocah Pacu Jalur yang viral adalah Dhika.
Ia dikenal setelah menari di atas perahu yang kemudian melahirkan tren “Aura Farming” di medsos.
Yang jelas, videonya kini masih ramai menjadi omongan dan diposting ulang oleh warganet dunia.***