Sri Mulyani Kritik Target Lifting Migas Nasional Belum Tercapai

Bagikan :

Menteri Keuangan Sri Mulyani “menyenggol” Menteri ESDM Bahlil Lahadalia terkait capaian lifting minyak Indonesia yang belum mencapai target. Dalam Konferensi Pers APBN KiTA di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (17/6), Sri Mulyani mengungkapkan bahwa lifting minyak Indonesia per Mei 2025 hanya mencapai 567 ribu barel per hari. Angka ini berada di bawah asumsi APBN 2025 sebesar 605 ribu barel per hari.

Sri Mulyani berharap Menteri ESDM dan SKK Migas dapat meningkatkan produksi minyak mentah agar target tersebut dapat tercapai. Ia menekankan pentingnya peningkatan produksi untuk mencapai target lifting minyak di atas 600 ribu barel per hari. Hal ini penting mengingat dampaknya terhadap pendapatan negara.

Capaian lifting minyak tahun lalu juga menunjukkan hasil yang kurang memuaskan. Realisasi lifting minyak pada tahun lalu sebesar 579,7 barel per hari, masih di bawah target yang ditetapkan sebesar 635 barel per hari. Kegagalan mencapai target ini tentu menjadi perhatian serius pemerintah.

Analisis Situasi Lifting Minyak Indonesia

Rendahnya capaian lifting minyak ini tidak terlepas dari beberapa faktor. Selain faktor internal seperti teknologi dan investasi di sektor hulu migas, kondisi global juga turut berpengaruh. Salah satu faktor eksternal yang signifikan adalah harga minyak dunia yang fluktuatif.

Asumsi harga minyak dalam APBN 2025 adalah US$82 per barel. Namun, harga minyak dunia pada akhir periode (eop) berada di US$62,75 dan rata-rata tahun berjalan (ytd) mencapai US$70,05. Artinya, harga minyak masih berada di bawah asumsi APBN.

Situasi geopolitik global, khususnya perang antara Israel dan Iran di Timur Tengah, juga turut memperburuk ketidakpastian harga minyak dunia. Konflik ini berpotensi meningkatkan volatilitas harga dan mengganggu rantai pasokan energi global.

Tantangan dan Strategi Peningkatan Lifting Minyak

Pemerintah perlu mengambil langkah-langkah strategis untuk meningkatkan produksi minyak mentah. Investasi dalam teknologi eksplorasi dan eksploitasi minyak bumi yang lebih modern dan efisien sangat penting. Selain itu, perlu adanya kerjasama yang lebih erat antara pemerintah, perusahaan migas, dan SKK Migas.

Peningkatan investasi dalam energi terbarukan juga menjadi hal yang perlu dipertimbangkan sebagai strategi jangka panjang. Diversifikasi energi dapat mengurangi ketergantungan pada minyak bumi dan meningkatkan ketahanan energi nasional.

Selain lifting minyak, capaian lifting gas juga perlu diperhatikan. Realisasi lifting gas per Mei 2025 sebesar 987,5 ribu barel setara minyak per hari, juga berada di bawah asumsi APBN 2025 sebesar 1.005 ribu barel setara minyak per hari. Pemerintah perlu menganalisis penyebab rendahnya capaian ini dan mencari solusi yang tepat.

“Lifting gas (realisasi per Mei 2025) di 987,5 ribu barel setara minyak per hari, di bawah asumsi kita 1.005 ribu barel setara minyak per hari. Ini adalah sesuatu yang juga harus kita lihat,” ujar Sri Mulyani.

Perlu adanya evaluasi menyeluruh terhadap strategi dan kebijakan yang telah diterapkan untuk mencapai target lifting minyak dan gas. Transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan sektor migas juga perlu ditingkatkan untuk memastikan efektivitas program peningkatan produksi.

Kesimpulannya, pencapaian target lifting minyak dan gas bumi merupakan tantangan besar yang memerlukan kerjasama dan strategi komprehensif dari seluruh pemangku kepentingan. Perlu adanya inovasi, investasi, dan koordinasi yang optimal untuk mencapai target yang telah ditetapkan dan memastikan ketahanan energi nasional.

Berita Terkini