Kementerian Pekerjaan Umum dan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) berkolaborasi untuk mempercepat pembangunan infrastruktur strategis di pesisir utara Jawa Tengah. Proyek Jalan Tol Semarang-Demak Seksi 1, ruas Kaligawe-Sayung sepanjang 10,64 km, telah mencapai progres fisik 44,26 persen pada 12 Juni 2024. Proyek ini sangat penting karena memadukan fungsi transportasi dan pengendalian banjir.
Jalan tol ini, yang dibangun di atas laut, berfungsi sebagai jalur alternatif dan sekaligus terintegrasi dengan sistem tanggul laut raksasa (Giant Sea Wall). Integrasi ini merupakan solusi jangka panjang untuk mengatasi masalah banjir rob yang sering melanda Semarang dan sekitarnya. Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menekankan bahwa konsep ini dirancang untuk menjawab tantangan wilayah tersebut.
“Jalan tol ini mengurangi beban lalu lintas di Jalan Pantura Jawa yang sudah sangat padat dan sering mengalami kemacetan,” kata Menteri Dody Hanggodo dalam keterangan tertulis pada 17 Juni 2024. Kehadiran infrastruktur ini diharapkan meningkatkan mobilitas regional dan mengurangi kemacetan di koridor Semarang-Demak, yang selama ini menjadi titik rawan kepadatan lalu lintas di Jalan Pantura.
Detail Proyek Tol Semarang-Demak Seksi 1
Konstruksi Tol Semarang-Demak Seksi 1 dibagi menjadi tiga paket pekerjaan. Paket 1A, dikerjakan oleh Hutama Karya (HK) dan Beijing Urban Construction Group (BUCG), telah mencapai progres fisik 65,92 persen. Paket 1B, ditangani oleh Pembangunan Perumahan (PP), Wijaya Karya (WIKA), dan China Road and Bridge Corporation (CRBC), memiliki progres 42,97 persen. Sedangkan Paket 1C, oleh Adhi Karya-Sinohydro, baru mencapai 22,77 persen.
Tol Semarang-Demak memiliki total panjang 26,95 km, terbagi dalam dua seksi. Seksi 1 (Kaligawe-Sayung) sepanjang 10,64 km berada di atas laut, sementara Seksi 2 (Sayung-Demak) sepanjang 16,31 km berada di daratan dan sudah beroperasi sejak 25 Februari 2023. Keberadaan Seksi 2 yang telah beroperasi memberikan gambaran manfaat dari proyek ini secara keseluruhan.
Sistem Pengendalian Banjir Terintegrasi
Selain pembangunan jalan tol terintegrasi dengan tanggul laut, Kementerian PU juga membangun sistem pengendali banjir Tenggang-Sringin Tahap 1 untuk mendukung penanganan rob di Kota Semarang. Sistem ini mencakup pembangunan 6 unit rumah pompa dengan kapasitas total 81 m3/detik dan tanggul sungai sepanjang 10,53 km.
Infrastruktur ini diharapkan mengurangi risiko banjir di area seluas 4.429 hektare, meliputi 3 kecamatan (Pedurungan, Gayamsari, dan Gemuk), melindungi 254.546 jiwa (119.781 KK). Proyek ini merupakan contoh sinergi antara pembangunan infrastruktur dan mitigasi bencana.
Kolam Retensi Sebagai Penunjang
Sebagai bagian integral dari proyek ini, dibangun pula dua kolam retensi di Tol Semarang-Demak Seksi 1C, dilengkapi dengan rumah pompa air. Kolam Retensi Terboyo seluas 189 hektare, dengan tanggul sepanjang 6,55 km, memiliki 6 unit pompa air axial vertical (5 m3/detik) dan 2 unit pompa submersible (500 liter/detik).
Kolam Retensi Sriwulan, seluas 28 hektare dan tanggul sepanjang 2,10 km, dilengkapi dengan 4 unit pompa axial vertical (5 m3/detik) dan 2 unit pompa submersible (500 liter/detik). Kolam retensi ini berperan penting dalam mengurangi volume air yang masuk ke pemukiman warga.
Proyek Tol Semarang-Demak menjadi contoh pengembangan infrastruktur berkelanjutan yang terintegrasi. Proyek ini tidak hanya meningkatkan mobilitas, tetapi juga mengatasi masalah lingkungan yang dihadapi masyarakat pesisir. Semoga proyek ini dapat menjadi model pengembangan infrastruktur serupa di daerah lain yang menghadapi tantangan serupa.