Gunungkidul Punya TBG, Tapi Apakah Senimannya Punya Ruang?

Bagikan :
taman budaya gunungkidul

Di tengah geliat perkembangan seni dan pariwisata di Kabupaten Gunungkidul, kehadiran Taman Budaya Gunungkidul (TBG) menjadi napas baru yang menyatukan denyut kebudayaan lokal dengan semangat keterbukaan dan partisipasi. Berdiri sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah Dinas Kebudayaan Gunungkidul, TBG tak sekadar menjadi ruang pertunjukan. Ia tumbuh sebagai simpul kultural, tempat seniman, masyarakat, dan wisatawan bisa bertemu dan mengalami kekayaan budaya Gunungkidul secara langsung.

Menurut Kepala UPT TBG, Nur Agus Basuki, Taman Budaya Gunungkidul dibangun untuk menjadi rumah bersama. “TBG terbuka untuk masyarakat, apalagi seniman. Kita berharap TBG digunakan secara maksimal untuk latihan, kreasi seni, atau menciptakan karya seni,” jelasnya.

Semangat inklusif ini menjadi fondasi penting dalam pengelolaan TBG—bahwa setiap individu dan kelompok seni berhak mengakses ruang ini tanpa batasan berlebihan, demi tumbuhnya ekosistem seni yang sehat dan produktif.

Fasilitas yang dimiliki TBG juga terbilang lengkap dan layak. Di antaranya terdapat auditorium megah di lantai tiga yang mampu menampung 998 kursi, menjadikannya salah satu panggung indoor terbesar di kawasan selatan DIY. Auditorium ini dirancang untuk berbagai pertunjukan besar, baik seni pertunjukan tradisional maupun kontemporer. Di luar ruangan, TBG juga memiliki amfiteater terbuka berkapasitas hingga 700 orang, tempat yang cocok untuk pertunjukan yang merayakan keterhubungan antara seni dan alam.

Menariknya, TBG tak hanya berfungsi sebagai pusat seni pertunjukan. Tempat ini juga dirancang untuk menjadi rest area bagi wisatawan, lengkap dengan sekitar 200 toilet atau pakiwan, menunjukkan kesiapan infrastruktur untuk mendukung keramaian dan aktivitas lintas segmen. Dengan posisi strategis di jalur wisata, TBG diharapkan menjadi titik singgah sekaligus titik temu antara wisata dan budaya lokal.

Dalam hal program, TBG juga aktif menyelenggarakan agenda rutin. Setiap bulan, TBG menggelar pentas seni berkala sepanjang tahun, menampilkan berbagai jenis kesenian daerah. Program ini tidak hanya menjaga keberlangsungan tradisi, tetapi juga membuka ruang tampil bagi seniman-seniman muda serta komunitas-komunitas lokal yang selama ini berkarya di ruang-ruang kecil.

“Kami konsisten menampilkan berbagai kesenian daerah secara rutin,” kata Nur Agus.

Namun, sebagaimana diakui oleh berbagai pelaku seni, TBG masih menghadapi tantangan dalam hal pemanfaatan ruang dan fleksibilitas akses. Banyak seniman menyuarakan harapan agar TBG lebih membuka diri untuk kegiatan non-formal seperti latihan rutin, diskusi, atau proses kreatif lainnya tanpa harus melalui prosedur perizinan yang berbelit. Ini sejalan dengan harapan UPT sendiri agar TBG digunakan secara maksimal, tidak hanya untuk event resmi, tetapi juga untuk proses kreatif harian yang membentuk atmosfer kebudayaan yang hidup dan bergairah.

Taman Budaya Gunungkidul pada akhirnya bukan sekadar bangunan. Ia adalah simbol ikhtiar kolektif untuk menjadikan budaya sebagai poros pembangunan daerah—tempat seniman bisa tumbuh, masyarakat bisa belajar, dan wisatawan bisa memahami bahwa Gunungkidul bukan hanya indah secara alam, tetapi juga kaya secara budaya.

 

Lukas Priyo Arintoko: TBG Harus Jadi Rumah
Bersama Seniman Gunungkidul

Bagi Lukas Priyo Arintoko, seniman asal Gunungkidul, Taman Budaya Gunungkidul (TBG) menyimpan potensi besar sebagai pusat denyut kehidupan kesenian di wilayah selatan Yogyakarta. Namun menurutnya, potensi itu masih belum tergarap secara maksimal. Dalam pandangannya, TBG seharusnya menjadi rumah bersama, ruang terbuka tempat para seniman bisa berproses, berkarya, dan berjejaring tanpa sekat birokrasi yang membatasi.

“Kalau bicara soal bersinggungan langsung dengan prasarana TBG, saya pribadi belum total, belum sepenuhnya berproses di semua lini wilayah itu. Dadi saya belum total ‘bersetubuh’ dengan TBG,” ujarnya sambil tertawa. Meski demikian, ia tak ragu mengungkapkan harapannya terhadap pengelolaan dan pemanfaatan TBG ke depan.

Salah satu perhatian Lukas adalah kondisi panggung auditorium TBG yang menurutnya bisa lebih dioptimalkan secara teknis. Ia membayangkan sebuah sistem tata lampu dan properti panggung yang lebih fleksibel dan profesional, serupa dengan yang ada di Taman Budaya Yogyakarta (TBY).

“Harapan saya di panggung auditorium itu atasnya ada ‘para-para’, semacam susunan besi dan papan untuk penataan lampu, properti, dan sebagainya. Ya, hampir mirip dengan TBY,” tuturnya.

Namun, lebih dari sekadar soal teknis panggung,Lukas menyimpan harapan besar agar TBG benar-benar terbuka sebagai ruang
proses. Ia ingin TBG menjadi tempat di mana seniman bisa datang, berlatih, dan berkarya kapan saja tanpa harus melalui proses perizinan yang rumit. Baginya, TBG bukan hanya ruang pertunjukan, tapi juga laboratorium seni yang hidup dan
terus berdenyut.

“Harapan saya, TBG bisa menjadi tempat untuk
berproses kesenian—latihan musik, tari, melukis, dan lain-lain—tanpa perlu izin. TBG terbuka untuk proses berkesenian,” tegasnya.

Lebih jauh, Lukas juga menyarankan adanya ruang sekretariat khusus di TBG untuk forum-forum kesenian Gunungkidul. Ruang ini
bisa menjadi pusat koordinasi komunitas seni seperti forum tari, forum ketoprak, forum musik, dan sebagainya. Menurutnya, forum-forum ini kelak bisa berperan sebagai kurator internal untuk menyeleksi dan menjaring talenta maupun sanggar yang akan tampil di TBG. Dengan begitu, dinamika seni Gunungkidul bisa lebih terorganisasi dan berkelanjutan.

“Biar TBG menjadi semakin rame dan gayeng, karena banyak aktivitas di sana,” katanya dengan semangat.

Meski semua yang ia ungkapkan masih sebatas
harapan, Lukas menegaskan bahwa itu bukan keluhan. “Monggo, tapi ini bukan keluh kesah. Lebih ke keinginan saja. Biar TBG gayeng lan regeng,” ujarnya dengan logat khas Gunungkidul. Ia percaya, semakin banyak seniman dilibatkan, maka semakin maksimal pula fungsi dan peran TBG sebagai simpul budaya lokal.

Di akhir perbincangan, Lukas menyampaikan harapan agar Dinas Kebudayaan Gunungkidul lebih terbuka dalam membuka dialog dengan
para pelaku seni. Menurutnya, ruang-ruang diskusi informal, sekadar kumpul bareng dan ngobrol tentang kesenian, bisa menjadi langkah awal membangun ekosistem budaya yang sehat dan inklusif.

“Harapannya, Dinas membuka pintu dan mempersilakan teman-teman untuk berproses kesenian di TBG. Atau paling tidak, ngumpul bareng dan ngobrol tentang kesenian,” pungkasnya.

Barbara Sri Suhartanti: TBG Seharusnya Jadi
Pusat Proses Berkesenian di Gunungkidul

Bagi Barbara Sri Suhartanti, seniman tari yang
telah lama berkecimpung dalam dunia seni pertunjukan di Gunungkidul, keberadaan
Taman Budaya Gunungkidul (TBG) merupakan sebuah anugerah yang sangat berarti.
Ia melihat TBG sebagai ruang yang ideal bagi para seniman untuk menampilkan
karya mereka, sekaligus menjadi wadah pengembangan kreativitas seni, khususnya
bagi pelaku seni lokal.

“Bagi saya, TBG itu bermanfaat sekali, Mas. Karena seni dan budaya akhirnya punya ruang atau tempat untuk mempertunjukkan
karya-karya para seniman Gunungkidul, terutama seni tari,” ungkap Barbara saat
ditemui .

Sebagai seniman dengan latar belakang seni tari, Barbara merasa bahwa fasilitas seperti TBG sangat penting untuk menunjang eksistensi dan perkembangan seni pertunjukan di daerah.

Namun di balik apresiasinya terhadap keberadaan TBG, Barbara tak menampik adanya sejumlah kendala yang dihadapinya maupun para pelaku seni lainnya. Salah satu persoalan utama yang disorotnya adalah
terbatasnya akses untuk menggunakan berbagai area di kompleks TBG, seperti
gazebo, Maero Kaca, maupun teater arena. Meskipun tempat-tempat tersebut sangat
potensial untuk kegiatan berkesenian, penggunaannya terbentur berbagai aturan
birokratis yang tidak fleksibel.

“Ada aturan-aturan tertentu, entah dari birokrasi atau apa, yang membuat area TBG tidak bisa digunakan secara maksimal. Misalnya, gazebo, Maero Kaca, atau teater arena itu tidak bisa digunakan untuk proses
berkesenian setiap saat,” ujarnya.

Barbara membayangkan, TBG seharusnya menjadi ruang yang hidup. Ia memiliki harapan besar agar tempat ini bisa dipenuhi oleh
aktivitas seni yang dinamis setiap harinya. Anak-anak yang berlatih teater, menari, dance, vokal, hingga pantomim—semuanya dapat berproses secara terbuka dan mendapat perhatian masyarakat. Menurutnya, aktivitas seperti itu justru akan menjadi daya tarik tersendiri bagi publik untuk mengenal dunia seni lebih dekat.

“Bayangan saya, area TBG itu bisa dipakai untuk berproses. Ada anak-anak yang berlatih teater, menari, dance, vokal, pantomim, dan sebagainya. Itu kan salah satu daya tarik. Agar masyarakat tahu dan paham, kalau mau belajar seni ya pusatnya di TBG. Karena kalau di sanggar-sanggar itu kan terbatas,” jelasnya.

Barbara menyampaikan semua itu bukan sebagai bentuk kritik semata, tetapi sebagai harapan tulus agar ekosistem seni di Gunungkidul bisa tumbuh lebih baik. Ia percaya, jika TBG mampu membuka diri sebagai ruang proses yang inklusif dan berkelanjutan, maka Gunungkidul akan menjadi lumbung seniman yang tidak hanya produktif berkarya, tetapi juga mampu menarik
perhatian lebih luas, baik dari dalam maupun luar daerah.

“Sekadar harapan,” ucapnya sambil tersenyum,
menutup pembicaraan dengan nada yang sederhana namun sarat makna.(Hari)

Berita Terkini