
Sleman, (jogjaberkabar) – Gunung Merapi masih menunjukkan aktivitas vulkanik pada Jumat (11/4) dini hari. Dalam periode pengamatan pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, tercatat sebanyak tujuh kali guguran lava meluncur ke dua arah berbeda dengan jarak maksimum mencapai 2.000 meter.
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Agus Budi Santosa, menyampaikan bahwa empat kali guguran terpantau mengarah ke hulu Kali Krasak, sementara tiga lainnya ke arah Kali Sat/Putih.
“Jarak luncur maksimum tercatat sejauh 2.000 meter. Aktivitas ini masih dalam kategori wajar untuk kondisi Merapi saat ini yang berada pada Level III atau Siaga,” ujar Agus dalam keterangannya.
Secara visual, gunung terlihat jelas hingga kabut 0-III dengan asap kawah bertekanan lemah berwarna putih, intensitas sedang, dan ketinggian 150 meter dari puncak. Cuaca di sekitar Merapi terpantau berawan dengan suhu udara berkisar antara 17,7 hingga 20 derajat Celsius dan kelembaban mencapai 99 persen.
Dalam periode tersebut juga tercatat aktivitas kegempaan, di antaranya 19 kali gempa guguran, satu kali gempa frekuensi rendah, serta 31 kali gempa hybrid atau fase banyak.
BPPTKG mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas di kawasan rawan bencana, khususnya di sektor selatan-barat daya yang mencakup Sungai Boyong (hingga 5 km), Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng (hingga 7 km), serta sektor tenggara seperti Sungai Woro (hingga 3 km) dan Sungai Gendol (hingga 5 km). Potensi bahaya berupa guguran lava, awanpanas, serta lontaran material vulkanik masih dapat terjadi sewaktu-waktu.
Agus juga mengimbau warga agar mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan serta mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik. Jika terjadi peningkatan signifikan, status aktivitas Merapi akan segera ditinjau kembali.