
Bantul, (jogjaberkabar) – Polres Bantul memperketat pengawasan dan patroli siber untuk mencegah tawuran antarkelompok remaja selama Ramadan. Polres Bantul sebut kedua kelompok remaja ini sudah saling menantang di media sosial sebelum tawuran.
Kasi Humas Polres Bantul, AKP I Nengah Jeffry Prana Widnyana mengungkapkan bahwa beberapa bentrokan antarkelompok remaja di Bantul berawal dari komunikasi di media sosial. Ia mencontohkan fenomena awal puasa tahun ini, di mana terjadi rentetan peristiwa tawuran yang tidak hanya terjadi di Bantul, tetapi juga merembet ke Kulonprogo.
“Banyak kejadian tawuran yang diawali dari unggahan atau percakapan di media sosial. Ini menjadi perhatian serius bagi kami,” jelas Jeffry.
Salah satu insiden yang viral di media sosial adalah pelemparan batu di Galur, Kulonprogo, pada Senin (3/3/2025). Dalam narasi yang beredar di medsos, disebutkan bahwa aksi itu dilakukan oleh kelompok dari arah Bantul menuju Brosot. Sebelumnya, pada Minggu (2/3/2025), bentrokan juga terjadi di Jalan Samas dan Jalan Parangtritis, Bantul
Untuk mencegah kejadian serupa, Jeffry mengimbau orang tua dan pihak sekolah** agar lebih aktif dalam mengawasi anak-anak mereka. Pihaknya meminta orang tua untuk tidak membiarkan anak-anak keluar rumah tanpa pengawasan, terutama pada malam hari.
” Jika perlu, cek histori media sosial mereka agar bisa mendeteksi potensi keterlibatan dalam aksi tawuran,” tegasnya.
Kapolres Bantul, AKBP Novita Eka Sari, menegaskan bahwa pihaknya akan meningkatkan patroli di jam-jam rawan guna mengantisipasi aksi tawuran yang kerap terjadi di wilayah hukumnya.
“Kami akan memperkuat sistem patroli pada jam-jam rawan, terutama dini hari hingga subuh. Patroli ini sudah berjalan dan akan terus kami tingkatkan,” ujar Novita, Selasa (4/3/2025).
Menurutnya, langkah ini diambil untuk mencegah remaja menjadi pelaku maupun korban tawuran. Selain patroli fisik, Polres Bantul juga melakukan patroli siber guna mendeteksi potensi tawuran yang kerap dimulai dari interaksi di media sosial.
Terkait kejadian di Jalan Samas dan Jalan Parangtritis, Polres Bantul telah mengamankan beberapa remaja yang terlibat. Mereka menjalani pembinaan bersama orang tua, perangkat desa, serta pihak sekolah.
“Kami akan mencatat sekolah mana saja yang siswanya sering terlibat dalam tawuran. Nantinya, mereka akan mendapat pengawasan dan pembinaan lebih lanjut,” tambahnya.
“Sekolah perlu membangun komunikasi efektif dengan orang tua dan masyarakat. Orang tua juga harus mendukung program pencegahan kenakalan remaja. Sementara itu, masyarakat bisa berperan aktif dalam mengawasi lingkungan sekitar dan segera melaporkan aktivitas remaja yang mencurigakan,” pungkasnya.
