
Bantul, (jogjaberkabar)– Bupati Bantul, Abdul Halim Muslich, memberikan kesan positif setelah mengikuti retret selama delapan hari di Akademi Militer (Akmil) Magelang, yang berlangsung dari 21 hingga 28 Februari 2025. Menurutnya, kegiatan ini memiliki nilai yang sangat berharga, terutama dalam membangun semangat kebersamaan di antara kepala daerah dari seluruh Indonesia.
“Selama delapan hari ini, kesan yang saya dapatkan sangat positif. Retret ini mampu menyatukan Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, semua kepala daerah bertemu dan saling mengenal. Itu yang paling mahal,” ujar Abdul Halim.
Menurutnya, materi yang diberikan dalam retret memang penting, tetapi yang lebih berharga adalah tumbuhnya kesadaran kolektif tentang tantangan yang dihadapi Indonesia di tengah dinamika global.
“Kita diprovokasi bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja. Blok-blok ekonomi dan militer baru terus bermunculan, menjadikan posisi Indonesia semakin tertantang. Hubungan internasional sangat dinamis, di mana kawan bisa menjadi lawan, dan sebaliknya,” jelasnya.
Ia menyoroti berbagai tantangan geopolitik yang dihadapi Indonesia, seperti ketegangan di Laut China Selatan, posisi Indonesia dalam BRICS dan G20, serta ancaman persaingan ekonomi dan militer global.
“Jika kita tidak siap, kita benar-benar bisa dilibas secara ekonomi dan militer. Oleh karena itu, daerah harus kompak dan memiliki kebersamaan dengan pemerintah pusat,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Abdul Halim juga memanfaatkan momen retret untuk mengenalkan potensi Bantul kepada kepala daerah lain. Ia bertemu dengan bupati dan wali kota dari berbagai daerah, termasuk Kapuas dan Poso, yang berbagi informasi tentang sumber daya alam di wilayah mereka.
“Misalnya, mereka menceritakan potensi rotan di daerahnya, sementara Bantul adalah konsumen rotan untuk industri kerajinan serat-seratan. Ini peluang kerja sama yang bisa kita kembangkan bersama,” ujarnya.
Selain itu, ia juga bertukar pengalaman tentang keberhasilan dalam penanganan stunting, pengentasan kemiskinan, dan investasi, yang dinilainya sebagai wawasan berharga untuk diterapkan di daerah masing-masing.
Bupati Bantul menilai retret ini sangat-sangat positif, bahkan jika diberi nilai dari 0-10, ia memberikan skor 9. Dibanding pembekalan terpisah, ini jauh lebih intensif. Tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membentuk fisik, mental, dan spiritual.
Ia menyoroti pola disiplin yang diterapkan selama retret, seperti bangun pagi, salat subuh, olahraga, sarapan, dan masuk kantor tepat waktu. Menurutnya, kebiasaan ini adalah pembentukan karakter pemimpin daerah, agar tetap kuat secara fisik dan mental dalam menjalankan tugasnya.
“Retret ini adalah penggemblengan yang luar biasa. Saya berharap pola hidup yang terbentuk selama di sini bisa terus dijalankan setelah kembali ke daerah masing-masing,”kata dia.