
JogjaBerkabar.com – Sebanyak 83 tukik Penyu Lekang dilepas ke Samudra Hindia dari Pantai Wediombo, Kabupaten Gunungkidul, Senin (3/8/2026), setelah berhasil diselamatkan dari sarang yang berada di jalur keluar-masuk wisatawan. Tukik-tukik tersebut merupakan bagian dari 108 butir telur yang ditemukan tim SAR Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah I saat memantau lokasi peneluran penyu.
Pelepasan tukik dipimpin Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih bersama Kapolres Gunungkidul dan jajaran pejabat lainnya. Proses penyelamatan dilakukan untuk menghindari risiko tukik terinjak wisatawan maupun kehilangan arah akibat aktivitas di kawasan pantai, sekaligus menjadi bagian dari upaya konservasi Penyu Lekang di Pantai Wediombo.
Momen mengharukan itu bukan sekadar prosesi pelepasan satwa liar. Di balik keberhasilan tersebut, tersimpan kisah panjang tentang naluri alam, ketelitian petugas, dan perjuangan menyelamatkan kehidupan sebelum semuanya terlambat.
Sekitar satu setengah bulan lalu, tim SAR Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah I lebih dulu menemukan tanda-tanda kedatangan seekor penyu indukan. Satwa laut itu naik ke Pantai Wediombo pada malam hari untuk bertelur. Seperti naluri yang diwariskan selama ribuan tahun, sang induk sengaja membuat sejumlah jejak palsu di atas pasir guna mengelabui predator agar tidak menemukan lokasi sarang sebenarnya.
Koordinator SAR Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah I, Sunu Handoko, mengatakan timnya terus memantau perkembangan sarang tersebut. Bahkan, petugas telah memperkirakan waktu telur-telur itu akan menetas.
“Sebetulnya prediksi menetasnya sudah lewat beberapa hari. Namun tadi tiba-tiba ditemukan satu ekor tukik yang sudah muncul di sekitar pantai,” kata Sunu, Senin (3/8/2026).
Kemunculan seekor tukik itu langsung mengubah suasana. Tim SAR segera menyisir kawasan pantai dengan mengikuti jejak-jejak halus di atas pasir. Pencarian tersebut akhirnya membuahkan hasil. Petugas menemukan sarang utama yang menyimpan 108 butir telur Penyu Lekang.
Namun, temuan itu sekaligus menghadirkan ancaman serius.
Sarang berada tepat di jalur utama keluar-masuk wisatawan Pantai Wediombo. Jika dibiarkan, tukik-tukik yang mulai menetas berisiko terinjak pengunjung atau kehilangan arah akibat aktivitas manusia yang ramai.
Tim SAR tidak menunggu lebih lama. Petugas segera mengevakuasi seluruh isi sarang. Dari 108 telur yang ditemukan, sebanyak 83 tukik berhasil keluar dalam kondisi hidup. Sementara itu, sebagian telur lainnya gagal menetas dan ditemukan telah membusuk di dalam pasir.
Keberhasilan penyelamatan tersebut mendapat perhatian langsung dari Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih. Bersama Kapolres Gunungkidul dan jajaran pejabat lainnya, Bupati memimpin pelepasan puluhan tukik menuju laut lepas.
Satu per satu tukik diletakkan di atas pasir. Mereka tidak langsung dimasukkan ke air laut. Cara itu sengaja dilakukan agar tukik mengenali habitat alaminya melalui suara ombak, aroma laut, hingga kontur pantai yang akan menjadi “kompas alami” ketika suatu hari nanti mereka kembali untuk bertelur.
“Ini bagian dari konservasi dan pengembangan wisata minat khusus di Wediombo. Kita lepaskan di pasir terlebih dahulu agar mereka bisa mendengarkan suara ombak pertama kali untuk kembali ke habitatnya,” ujar Endah.
Keberhasilan penetasan Penyu Lekang di Pantai Wediombo juga menjadi catatan penting. Selama dua tahun berturut-turut pada masa kepemimpinannya, kawasan pantai ini kembali menjadi lokasi penyu bertelur dan menetas secara alami.
Namun, keberhasilan tersebut juga menjadi pengingat bahwa sektor pariwisata harus berjalan seiring dengan upaya konservasi.
Endah menilai Pemerintah Kabupaten Gunungkidul perlu segera menyusun regulasi zonasi kawasan pantai. Menurutnya, habitat penyu membutuhkan suasana yang gelap, tenang, dan minim gangguan.
Cahaya lampu pada malam hari maupun kebisingan aktivitas wisata dapat mengganggu orientasi tukik ketika menuju laut. Karena itu, pemerintah mulai mengkaji pembagian kawasan pantai berdasarkan fungsi, mulai dari wisata keluarga, wisata religi atau syariah, hingga kawasan konservasi yang memiliki perlindungan lebih ketat.
“Tukik akan takut apabila kawasan konservasinya terdapat sinar lampu ataupun keributan. Mereka membutuhkan pantai yang tenang sesuai habitatnya,” tegasnya.
Saat matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, satu demi satu tukik akhirnya berhasil mencapai bibir pantai. Ombak pertama datang menyambut mereka, lalu membawa tubuh-tubuh kecil itu menghilang ke luasnya Samudra Hindia. (ef linangkung)