
JOGJA BERKABAR – Kenaikan harga plastik belakangan ini ramai dibahas di Daerah Istimewa Yogyakarta. Banyak pelaku usaha mulai merasakan dampaknya.
Tapi di balik itu, ada sisi positif yang mulai terlihat. Kondisi ini justru bisa jadi momentum untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai yang selama ini sulit ditekan.
Kepala Dinas Perdagangan DIY, Yuna Pancawati, menyebut situasi ini seperti “titik balik paksa”. Artinya, keadaan yang mendorong perubahan lebih cepat.
Kenaikan harga plastik membuat banyak orang mulai berpikir ulang soal kemasan. Tidak hanya soal biaya, tapi juga dampaknya ke lingkungan.
Berikut beberapa dampak positif dan langkah yang mulai dilakukan:
Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai
Harga plastik yang makin mahal bikin pelaku usaha mulai mengurangi penggunaannya. Mereka pelan-pelan beralih ke bahan lain yang lebih ramah lingkungan. Ini jadi langkah kecil yang dampaknya bisa besar kalau dilakukan bersama.
Mendorong kemasan berbahan alami
Disperindag DIY mendorong UMKM untuk menggunakan kemasan dari bahan dasar alam. Misalnya kertas, daun, atau bahan lain yang lebih mudah terurai. Selain lebih ramah lingkungan, tampilannya juga bisa lebih menarik.
Desain kemasan jadi lebih sederhana tapi bernilai
Biaya kemasan yang naik bisa diakali dengan desain yang lebih minimalis. Tapi tetap punya nilai jual. Produk justru bisa terlihat lebih premium dan beda dari yang lain.
Bimtek dan edukasi untuk pelaku UMKM
Disperindag siap memberikan bimbingan teknis soal eco-design. Jadi pelaku usaha tidak jalan sendiri. Mereka dibantu supaya bisa menyesuaikan kemasan tanpa mengurangi kualitas produk.
Akses ke produsen kemasan ramah lingkungan
UMKM juga akan dihubungkan langsung dengan produsen kemasan lokal. Tujuannya supaya harga bisa lebih terjangkau. Bahkan ada skema pembelian bersama supaya biaya bisa ditekan.
Promosi produk ramah lingkungan
Produk dengan kemasan ramah lingkungan akan mendapat ruang promosi khusus, salah satunya lewat aplikasi SiBakul Jogja. Ini bisa menarik konsumen yang lebih peduli lingkungan.
Di lapangan, perubahan ini sudah mulai terasa. Seorang penjual jajanan keliling, Yanti, mengaku sekarang mulai mengurangi plastik. Dia lebih sering pakai kemasan yang bisa dipakai ulang. Lebih hemat juga dalam jangka panjang.
Hal serupa juga dilakukan pedagang di Pasar Beringharjo. Salah satunya Ida Chabibah. Dia aktif mengingatkan pembeli untuk bawa tas sendiri. Bisa pakai karung goni atau tas kain yang bisa dipakai berkali-kali.
Perubahan ini memang tidak instan. Butuh waktu dan kebiasaan baru. Tapi langkah kecil seperti ini bisa jadi awal yang baik.
Kenaikan harga plastik memang terasa berat di awal. Tapi kalau dilihat lebih jauh, ini bisa jadi kesempatan untuk berubah ke arah yang lebih baik.
Lingkungan lebih terjaga, dan pelaku usaha juga bisa tetap berkembang dengan cara yang lebih kreatif.***