
JOGJA BERKABAR – Ramadan di Yogyakarta selalu identik dengan berburu makanan untuk berbuka puasa. Menjelang waktu magrib, banyak orang mulai keluar rumah mencari takjil atau makanan hangat. Suasana jalan juga berubah jadi lebih ramai dari biasanya.
Banyak kuliner khas Jogja yang sering diburu saat Ramadan. Sebut saja gudeg, bakpia, atau sate klathak.
Tapi di balik makanan populer itu, ada satu hidangan khas yang sebenarnya juga sering dicari warga lokal saat bulan puasa. Namanya sayur lombok ijo.
Kuliner ini memang tidak selalu masuk daftar makanan yang sering dibicarakan wisatawan. Tapi buat warga Jogja, sayur lombok ijo sudah sangat familiar. Rasanya sederhana. Tapi justru itu yang membuatnya terasa cocok dimakan saat berbuka.
Sayur lombok ijo biasanya dijual di warung makan rumahan, angkringan, atau warung nasi rames di Jogja. Saat Ramadan, menu ini sering jadi pilihan karena rasanya hangat dan tidak terlalu berat di perut.
Berikut beberapa hal menarik tentang sayur lombok ijo yang membuatnya banyak dicari saat bulan puasa.
Kuah santan yang gurih tapi tetap ringan
Sayur lombok ijo punya kuah santan berwarna kekuningan. Rasanya gurih dengan aroma bumbu yang cukup kuat.
Meski menggunakan santan, kuahnya biasanya tidak terlalu kental. Jadi masih terasa ringan saat dimakan setelah seharian berpuasa.
Isiannya sederhana tapi nikmat
Isi utama sayur ini biasanya tahu, tempe, dan cabai hijau besar. Kadang juga ditambah kacang panjang atau potongan ayam.
Bumbunya memakai bawang merah, bawang putih, lengkuas, daun salam, dan sedikit gula jawa. Perpaduan rasanya gurih, manis, dan sedikit pedas.
Cabai hijau yang jadi ciri khas
Hal yang paling mudah dikenali dari sayur ini tentu saja cabai hijaunya. Potongannya cukup besar dan terlihat jelas di dalam kuah. Meski terlihat banyak, rasa pedasnya biasanya tidak terlalu kuat. Justru memberikan sensasi hangat yang pas saat berbuka.
Sering jadi lauk nasi rames Jogja
Di banyak warung makan Jogja, sayur lombok ijo sering dijadikan pelengkap nasi rames. Lauknya bisa dipadukan dengan telur bacem, ayam goreng, atau tempe garit. Kuahnya kemudian disiram sedikit di atas nasi hangat.
Banyak dijual di warung kecil dan pasar tradisional
Menu ini mudah ditemukan di warung makan sederhana. Banyak juga pedagang yang menjualnya di pasar tradisional sejak sore hari. Saat Ramadan, beberapa orang sengaja datang lebih awal supaya tidak kehabisan.
Cocok untuk menu buka puasa
Setelah seharian menahan lapar, makanan yang hangat biasanya terasa lebih nyaman di perut. Sayur lombok ijo punya rasa yang tidak terlalu kuat tapi tetap kaya bumbu. Itu sebabnya banyak orang memilih menu ini sebagai hidangan berbuka.
Di Jogja, makanan sederhana sering justru punya rasa yang sulit dilupakan. Sayur lombok ijo jadi salah satu contohnya. Tampilannya mungkin tidak terlalu mencolok. Tapi rasanya selalu berhasil bikin kangen.
Saat Ramadan tiba, menu seperti ini kembali dicari banyak orang. Tidak hanya warga lokal, tapi juga perantau yang sedang berada di Jogja.
Sepiring nasi hangat dengan sayur lombok ijo sering terasa cukup untuk menutup hari puasa dengan nyaman.***