Dari Aceh Hingga Madura, Inilah Tradisi Unik yang Dilakukan Masyarakat Indonesia Saat Terjadi Gerhana Bulan

Bagikan :
Tradisi Unik Saat Gerhana Bulan di Indonesia yang Masih Dilestarikan Hingga Sekarang

JOGJA BERKABAR – Gerhana bulan selalu menarik perhatian, bukan hanya karena fenomenanya yang langka tapi juga karena berbagai tradisi unik yang muncul di masyarakat.

Di Indonesia, setiap daerah punya cara berbeda untuk merespons gerhana. Beberapa tradisi diwariskan turun-temurun dan masih dilakukan hingga sekarang.

Meski zaman modern sudah banyak mengubah cara pandang, tradisi ini tetap menjadi bagian dari budaya yang menarik untuk diamati.

Tradisi Unik Saat Gerhana Bulan

Salat gerhana di Aceh dan Jawa

Di banyak daerah, terutama yang mayoritas Muslim seperti Aceh dan beberapa kota di Jawa, orang berkumpul untuk melakukan salat khusus saat gerhana.

Salat gerhana ini dianggap momen untuk berdoa, memohon keselamatan, dan bersyukur atas ciptaan Allah. Biasanya dilakukan di masjid atau lapangan terbuka, dan melibatkan seluruh warga.

Menabuh alat musik tradisional di Bali dan Lombok

Di Bali, masyarakat Hindu memiliki tradisi menabuh gamelan atau kentongan saat gerhana bulan. Tujuannya adalah mengusir roh jahat atau pengaruh buruk yang dipercaya muncul saat bulan tertutup bayangan bumi.

Di Lombok, ritual serupa juga dilakukan dengan gong atau kentongan untuk melindungi desa dari energi negatif.

Ritual keluarga di Sumatera Barat

Di beberapa kampung Minangkabau, orang tua mengajak anak-anak mengelilingi rumah sambil membaca doa atau melakukan ritual sederhana saat gerhana.

Tradisi ini dimaksudkan agar anak-anak ikut merasakan momen gerhana dan belajar tentang kepercayaan leluhur, sekaligus memperkuat ikatan keluarga.

Membunyikan meriam atau letupan kecil di Madura

Di Madura, masyarakat kadang membunyikan meriam tradisional atau letupan kecil untuk menandai puncak gerhana.

Cara ini dipercaya bisa “mengusir” bahaya dan memberi perlindungan bagi kampung atau keluarga. Tradisi ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan biasanya melibatkan seluruh warga desa.

Mengamati bulan dan memberi nama khusus di Yogyakarta

Selain ritual, orang-orang di Yogyakarta punya tradisi lebih santai, yaitu mengamati gerhana bersama keluarga atau tetangga.

Kadang mereka memberi nama khusus pada gerhana yang terlihat unik, seperti “bulan merah” atau “bulan hilang”. Aktivitas ini sekaligus menjadi momen edukasi bagi anak-anak tentang fenomena alam.

Pantangan dan larangan di Sulawesi Selatan

Di beberapa daerah di Sulawesi Selatan, masyarakat percaya ada pantangan tertentu saat gerhana. Misalnya, tidak keluar rumah, tidak menanak air, atau tidak tidur terlalu siang.

Meskipun terdengar aneh bagi sebagian orang, tradisi ini dianggap bagian dari warisan budaya dan cara menjaga keharmonisan dengan alam.

Mengabadikan momen dengan foto atau video di seluruh Indonesia

Di era modern, banyak orang menambahkan tradisi baru, yaitu mengabadikan gerhana dengan foto atau video menggunakan HP atau kamera.

Ini menjadi kombinasi antara budaya lama dan teknologi, sekaligus cara untuk membagikan momen langka ke media sosial atau keluarga.

Tradisi masyarakat Indonesia saat terjadi gerhana bulan menunjukkan bagaimana alam dan budaya saling terkait.

Dari salat gerhana di Aceh dan Jawa, tabuhan alat musik tradisional di Bali dan Lombok, ritual keluarga di Sumatera Barat, hingga meriam di Madura, semuanya memiliki makna tersendiri.

Tradisi ini mengingatkan kita untuk menghargai fenomena alam sekaligus melestarikan budaya.

Meskipun zaman sudah berubah, tradisi unik ini tetap hidup dan memberi warna tersendiri setiap kali gerhana terjadi, sekaligus menjadi cara masyarakat menyatukan rasa kagum, hormat, dan kebersamaan.***

Berita Terkini