Prof. M. Nur Kholis Setiawan Bongkar Rahasia di Balik Pemberian dan Penolakan Allah

Bagikan :
Prof. M. Nur Kholis Setiawan saat membahas tentang pemberian dan penolakan Allah. foto: youtube

JOGJA BERKABAR – Dalam perjalanan spiritual seorang hamba, sering kali muncul pertanyaan mengapa doa-doa tertentu dikabulkan dengan cepat, sementara yang lain seolah tertunda atau bahkan ditolak. Menjawab keresahan ini, pakar studi Islam Prof. Dr. M. Nur Kholis Setiawan memaparkan sebuah perspektif sufistik yang mendalam melalui kajian Kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah as-Sakandari. Ia menjelaskan bahwa baik pemberian maupun penolakan adalah cara Allah “memperkenalkan diri” kepada manusia.

Dalam ulasan Hikmah ke-95, Prof. Nur Kholis menekankan bahwa setiap interaksi Allah dengan hamba-Nya memiliki tujuan tunggal, yaitu agar hamba tersebut mengenali sifat-sifat Tuhan secara utuh. Konsep ini mengajarkan bahwa pemberian bukan sekadar soal materi, dan penolakan bukan berarti pengabaian.

Manifestasi Kebaikan dalam Pemberian

Menurut Prof. Nur Kholis, ketika Allah menganugerahkan sesuatu, baik itu kekayaan, jabatan, maupun kesehatan, Allah sebenarnya sedang menunjukkan sisi kebaikan-Nya (birruhu). Pemberian ini sering kali datang tanpa diminta, sebagai bentuk kasih sayang yang melimpah,.

Ia menjelaskan bahwa pemberian tersebut harus dimaknai sebagai upaya Allah agar hamba-Nya melihat sifat Maha Memberi dan Maha Lembut-Nya.

“Tatkala Allah menganugerahkan sesuatu kepada kita, maka Allah sedang mempertunjukkan kemahakuasaan Allah dalam hal kebaikan Allah kepada hamba-Nya,” ujar Prof. Nur Kholis dalam penjelasannya.

Lebih lanjut, Ia menambahkan bahwa jabatan atau rezeki yang diberikan adalah tanda bahwa Allah ingin hamba-Nya menjadi lebih bermanfaat dengan otoritas yang dimiliki. Namun, kesadaran ini penting agar manusia tidak lupa diri saat berada di puncak keberhasilan.

Hikmah di Balik Penolakan: Perlindungan Sang Pencipta

Sisi lain yang sering sulit diterima oleh manusia adalah ketika keinginan tidak kunjung terwujud. Prof. Nur Kholis menjelaskan bahwa penolakan atau pencegahan (man’u) dari Allah sebenarnya adalah manifestasi dari sifat Maha Perkasa-Nya (qohrohu) yang bertujuan untuk melindungi hamba tersebut,.

Ada kalanya manusia meminta sesuatu yang jika dikabulkan justru akan merusak dirinya. Misalnya, seseorang yang saleh mungkin akan menjadi lalai jika tiba-tiba diberikan kekayaan yang luar biasa. Dalam konteks inilah, penolakan adalah bentuk kasih sayang yang tersembunyi.

“Ketika Allah itu mencegahmu tidak menganugerahkan kepada kita… itu juga harus dimaknai secara positif bahwa Allah tuh sayang kepada kita. Kita mungkin enggak kuat memikul tanggung jawab itu,” ungkap Prof. Nur Kholis menekankan pentingnya perspektif positif terhadap setiap kegagalan.

Konsep “PDKT” Tuhan kepada Hamba-Nya

Inti dari Hikmah ke-95 ini, menurut Prof. Nur Kholis, adalah istilah muta’arifun ilaika, yang berarti Allah sedang memperkenalkan diri-Nya. Ia menggunakan analogi modern untuk menggambarkan hubungan ini sebagai proses “pendekatan” atau PDKT dari Sang Pencipta kepada makhluk-Nya.

Dengan bahasa yang lugas, Ia menyampaikan, “Dalam dua kondisi tadi, mutaarifun ilaika. Sedang memperkenalkan diri Allah kepada kalian atau Allah sedang mempertunjukkan kepada kita. Kita sedang dalam bahasa anak-anak muda sekarang sedang didekati; sedang PDKT, kira-kira begitu.”.

Melalui dua kondisi yang kontradiktif, memberi dan menolak, Allah ingin manusia tidak hanya mengenal-Nya saat senang, tetapi juga mengakui kekuasaan-Nya saat menghadapi rintangan. Ini adalah sebuah proses identifikasi agar manusia mampu mendekatkan diri dengan sifat-sifat ketuhanan, seperti menjadi pemaaf dan lembut dalam kehidupan sehari-hari,.

Konsistensi Husnuzan dalam Setiap Ketetapan

Mengakhiri penjelasannya, Prof. M. Nur Kholis Setiawan mengingatkan agar setiap hamba memiliki sikap yang konsisten, yaitu selalu berprasangka baik (husnuzan) kepada Allah. Penundaan sebuah anugerah bukanlah tanda bahwa Allah mengabaikan doa, melainkan Allah sedang menjamin pemberian tersebut dalam bentuk dan waktu yang paling tepat menurut pandangan-Nya, bukan pandangan hamba,.

Sering kali manusia menginginkan “A”, namun Allah memberikan “B” karena itulah yang terbaik untuk keberlangsungan spiritual manusia tersebut. Dengan kesadaran ini, seorang hamba diharapkan memiliki ketenangan batin dalam menghadapi dinamika kehidupan, karena ia tahu bahwa di setiap peristiwa, Allah sedang hadir memperkenalkan diri-Nya.

Berita Terkini