
JOGJA BERKABAR – Dalam diskursus spiritual Islam, sering kali muncul pertanyaan mengapa ujian berupa kesempitan hidup justru dipandang lebih positif oleh para ahli makrifat dibandingkan dengan limpahan kenikmatan. Fenomena batin ini dibahas secara mendalam oleh M. Nur Kholis Setiawan saat membedah hikmah ke-84 dari Kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah as-Sakandari. Menurut beliau, terdapat rahasia keselamatan yang besar di balik kondisi sulit atau yang dalam istilah sufistik disebut sebagai qabd.
Melalui kanal YouTube resminya, Prof. M. Nur Kholis Setiawan menjelaskan bahwa bagi orang-orang yang telah dianugerahi makrifat (Arifun), kondisi sulit bukanlah sesuatu yang harus ditakuti secara berlebihan. Sebaliknya, mereka justru menaruh kewaspadaan yang jauh lebih tinggi ketika berada dalam fase kelapangan atau bast.
Paradoks Ketakutan Kaum Arifun
Salah satu poin menarik yang disampaikan oleh M. Nur Kholis Setiawan adalah perbedaan cara pandang antara manusia awam dengan para Arifun. Jika kebanyakan orang merasa cemas saat tertimpa kesulitan, para kekasih Allah justru merasa lebih khawatir saat segalanya berjalan terlalu lancar.
Beliau mengutip teks asli Al-Hikam untuk memperkuat argumen ini:
“Orang-orang yang arif, ketika mereka diberi kelonggaran atau keleluasaan, justru lebih khawatir atau lebih takut dibandingkan dengan ketika mereka mendapatkan kesempitan.”
Ketakutan ini bersumber dari kesadaran bahwa dalam kondisi sempit, ego atau hawa nafsu manusia cenderung melemah, sehingga ruang untuk bersikap sombong menjadi tertutup. Sebaliknya, saat kondisi lapang, pintu-pintu kelalaian terbuka lebar.
Kesulitan sebagai Benteng dari Hawa Nafsu
Mengapa kondisi sulit disebut lebih menjamin keselamatan? M. Nur Kholis Setiawan memaparkan bahwa kelapangan hidup sangat identik dengan berperannya hawa nafsu. Saat seseorang merasa memiliki segalanya, ada kecenderungan kuat untuk merasa bangga diri dan terjebak dalam kegembiraan yang melampaui batas.
Dalam penjelasannya, beliau menyebutkan:
“Kelonggaran atau keleluasaan itu identik dengan berperannya hawa nafsu yang akan mengantarkan kepada rasa bangga, rasa senang, atau happy yang mungkin kemudian terjadi sesuatu yang berlebih.”
Ketika seseorang berada dalam kesempitan, ia secara alami akan merasa butuh kepada Tuhannya. Ketergantungan inilah yang menjaga seorang hamba agar tetap berada dalam jalur keselamatan spiritual. Kesulitan memaksa manusia untuk tetap rendah hati dan senantiasa bersandar pada kekuatan Allah, bukan pada kemampuan diri sendiri.
Risiko Terpeleset di Masa Lapang
Berdasarkan referensi dari kitab Lathaiful Minan yang dikutip oleh beliau, suasana lapang digambarkan sebagai tempat yang licin bagi keimanan seseorang. Beliau menegaskan bahwa sangat sedikit orang yang mampu menjaga adab atau tata krama kepada Allah ketika mereka sedang berada di puncak kenyamanan.
“Suasana yang lapang ini acap kali menjadi tempat terpelesetnya banyak orang. Orang yang tadinya pandai bersyukur, sering bertakarub, tapi kemudian ketika terus-menerus berada dalam suasana yang lapang, acap kali menjadi lupa diri.”
Inilah alasan utama mengapa kondisi sulit dianggap lebih aman. Dalam kondisi sulit, potensi untuk melakukan pelanggaran tata krama kepada Allah jauh lebih kecil. M. Nur Kholis Setiawan menekankan bahwa “suasana yang sulit itu lebih dekat kepada wujudnya keselamatan” (walqobtu aqrabu ila wujudis salamati).
Sebagai penutup, M. Nur Kholis Setiawan mengajak kita untuk tidak berburuk sangka kepada Allah saat menghadapi masa-masa sulit. Jika kita mampu melihat dengan kacamata iman, kesulitan tersebut sebenarnya adalah cara Allah untuk memproteksi hamba-Nya agar tidak tersesat oleh tipu daya hawa nafsu yang sering muncul di masa jaya.
Beliau mengingatkan bahwa banyak orang yang lulus saat diuji dengan kesulitan, namun justru banyak yang gagal dan lalai ketika diuji dengan otoritas, rezeki melimpah, dan waktu luang. Dengan demikian, kondisi sulit adalah momentum terbaik untuk melakukan muhasabah dan memperkuat ikatan spiritual dengan Sang Pencipta demi mencapai keselamatan yang sejati.