
JOGJA BERKABAR – Kecelakaan lalu lintas kembali terjadi di jalan tol dan kali ini melibatkan artis Diva Mara Hefri Siregar. Insiden ini terjadi di Tol Jagorawi arah Bogor dan diduga kuat dipicu oleh microsleep.
Kejadian tersebut langsung menyita perhatian publik karena menyoroti bahaya kelelahan saat berkendara jarak jauh, terutama di jalan tol yang suasananya cenderung monoton.
Peristiwa ini terjadi pada Sabtu, 7 Februari 2026, sekitar pukul 17.00 WIB. Mobil Honda City yang dikemudikan Diva Mara melaju di Km 24 wilayah Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Di tengah perjalanan, mobil tersebut menabrak pembatas jalan hingga terbalik. Tak lama setelah itu, kendaraan tersebut kembali tertabrak truk boks dari arah belakang.
Akibat kecelakaan ini, dua orang dilaporkan mengalami luka-luka dan langsung mendapatkan penanganan medis.
Menurut keterangan kepolisian, kecelakaan ini diduga berawal dari kondisi pengemudi yang mengalami microsleep.
Plt Kanit Gakkum Satlantas Polres Bogor, Ipda Ares Rahman, menyampaikan bahwa hilangnya kendali kendaraan terjadi dalam waktu sangat singkat.
Namun, dampaknya besar dan berbahaya. Dalam hitungan detik saja, situasi bisa berubah drastis.
Microsleep sendiri adalah kondisi ketika pengemudi tertidur sangat singkat tanpa disadari. Durasi tidurnya bisa hanya beberapa detik.
Tapi di kecepatan tinggi, waktu sesingkat itu sudah cukup untuk membuat kendaraan keluar jalur. Jalan tol yang lurus dan minim gangguan visual sering kali mempercepat kondisi ini.
Training Director Real Driving Centre, Marcell Kurniawan, menjelaskan bahwa microsleep umumnya muncul karena kelelahan dan kurangnya variasi saat berkendara.
Saat tubuh lelah, kewaspadaan turun perlahan. Banyak pengemudi merasa masih sanggup melanjutkan perjalanan, padahal kemampuan respons sudah jauh menurun.
Menurutnya, kondisi fisik dan mental seharusnya sudah dijaga sejak sebelum perjalanan dimulai.
Marcell juga menekankan pentingnya tidur cukup sebelum berkendara. Kurang tidur dan memaksakan diri di balik kemudi bisa sangat berisiko.
Untuk perjalanan jauh, ia menyarankan adanya pengemudi pengganti. Selain itu, berhenti dan istirahat secara rutin juga sangat membantu menjaga fokus.
Pendapat serupa disampaikan Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia, Sony Susmana. Ia mengatakan bahwa microsleep tidak datang tiba-tiba. Ada prosesnya.
Biasanya diawali dengan mata berat, sulit fokus, dan respons yang melambat. Posisi duduk yang statis dalam waktu lama membuat otak kehilangan rangsangan, sehingga lebih mudah lelah.
Sony menyarankan pengemudi tidur enam hingga delapan jam sebelum perjalanan. Waktu mengemudi idealnya dibatasi maksimal tiga jam sebelum berhenti.
Saat singgah di rest area, sebaiknya tidak hanya duduk diam. Lakukan gerakan ringan agar tubuh kembali segar. Jika kantuk sudah berat, tidur singkat selama 30 hingga 60 menit jauh lebih aman dibanding memaksakan diri.
Kecelakaan yang dialami Diva Mara menjadi pengingat penting bagi semua pengemudi. Microsleep terlihat sepele, tapi risikonya nyata.
Menjaga kondisi tubuh bukan cuma soal kenyamanan, tapi juga soal keselamatan diri sendiri dan orang lain di jalan.***