
Gunungkidul, (Jogjaberkabar.com) – Tradisi nyadran atau ruwahan kembali digelar masyarakat Padukuhan Gangsalan, Kalurahan Nglindur, Kapanewon Girisubo, Kabupaten Gunungkidul. Kegiatan yang berlangsung khidmat ini menjadi salah satu bentuk pelestarian adat sekaligus penghormatan kepada leluhur yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Nyadran di Gedhong Karang sendiri dikenal sebagai salah satu agenda budaya yang masih dijaga kuat oleh masyarakat setempat. Selain menjadi tradisi tahunan dalam menyambut bulan Ruwah atau menjelang Ramadan, nyadran juga menjadi sarana mempererat kebersamaan warga, memperkuat nilai spiritual, serta sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah kehidupan yang diberikan.
Gedhong Karang merupakan salah satu lokasi yang dianggap sakral dan memiliki nilai sejarah tinggi. Tempat ini kerap disebut sebagai petilasan kuno di wilayah Kalurahan Nglindur. Masyarakat setempat mengenalnya sebagai Petilasan Ki Ageng Gedhong Karang, yang berlokasi di Padukuhan Gangsalan Lor, Kalurahan Nglindur, Girisubo, Gunungkidul.
Keberadaan petilasan tersebut diyakini menyimpan jejak sejarah leluhur yang dahulu memiliki peran penting dalam perjalanan budaya dan spiritual masyarakat setempat. Oleh sebab itu, tradisi nyadran yang digelar di lokasi ini tidak hanya sekadar kegiatan seremonial, namun juga menjadi bentuk penghormatan terhadap sejarah dan warisan leluhur yang telah ada sejak lama.

Dihadiri Wakil Bupati Gunungkidul hingga Trah Keraton
Nyadran atau ruwahan di Gedhong Karang tahun ini dilaksanakan pada Kamis Pon (5/2/2026). Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Gunungkidul Joko Parwoto, serta Wayah Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, R. M. Kukuh Hertriasning yang lebih akrab disapa Ndoro Aning, hadir bersama Ndoro Sari.
Tak hanya itu, kegiatan juga dihadiri oleh Panewu Girisubo, jajaran perangkat Kalurahan Nglindur, tokoh masyarakat, juru kunci petilasan, serta warga dari Padukuhan Gangsalan Lor dan Gangsalan Kidul yang tampak antusias mengikuti rangkaian acara.
Kehadiran berbagai tokoh penting tersebut semakin menambah semarak sekaligus menegaskan bahwa tradisi nyadran Gedhong Karang bukan sekadar agenda lokal, namun juga menjadi bagian dari kekayaan budaya Gunungkidul yang patut dijaga bersama.
Wabup Gunungkidul Apresiasi Kekompakan Warga
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Gunungkidul Joko Parwoto menyampaikan apresiasi tinggi terhadap masyarakat Kalurahan Nglindur, khususnya warga Padukuhan Gangsalan yang masih konsisten melestarikan tradisi ruwahan atau nyadran di Gedhong Karang.
Ia juga mengaku kagum dengan antusiasme warga yang hadir dan terlibat aktif dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, tradisi seperti ini harus terus dijaga karena menjadi identitas budaya yang berharga bagi Gunungkidul.
“Acara dan antusiasnya luar biasa. Kedepan harus lebih kompak serta wilayah ini jika ditambah dengan konservasi lingkungan juga akan menambah nilai yang ada di sini,” imbuh Joko Parwoto, Kamis (5/2/2026).
Wabup juga menekankan bahwa pelestarian budaya harus dibarengi dengan pelestarian lingkungan. Ia menilai kawasan Gedhong Karang memiliki potensi besar tidak hanya sebagai tempat sakral budaya, namun juga bisa dikembangkan sebagai kawasan yang memiliki daya tarik wisata sejarah dan budaya apabila dikelola dengan baik.
Ndoro Aning Terharu Lihat Semangat Pelestarian Tradisi
Di lokasi yang sama, Wayah Sri Sultan HB VIII, R. M. Kukuh Hertriasning (Ndoro Aning) mengaku terharu dengan kekompakan masyarakat, pihak kalurahan, hingga juru kunci yang terus menjaga tradisi ruwahan di Gedhong Karang.
Ia menilai tradisi ini tidak sekadar ritual tahunan, tetapi menjadi simbol penting bahwa masyarakat Gunungkidul masih memiliki kesadaran kuat untuk menjaga akar budaya dan menghormati para pendahulu.
“Semangat ini harus dijaga dan tetap dilestarikan mengingat zaman yang semakin modern dan juga generasi muda yang harus tetap mengetahui jejak para leluhur yang ada,” imbuh Ndoro Aning.
Menurutnya, tantangan terbesar tradisi lokal saat ini adalah perubahan zaman yang semakin cepat. Jika tidak dijaga dengan serius, generasi muda bisa kehilangan pengetahuan tentang sejarah dan nilai budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur.
Ndoro Aning berharap kegiatan seperti nyadran Gedhong Karang bisa terus menjadi media edukasi budaya, terutama bagi anak-anak muda agar tidak tercerabut dari akar tradisi.
Rangkaian Nyadran Berlangsung Khidmat
Rangkaian acara nyadran Gedhong Karang berlangsung dengan penuh kekhidmatan. Warga tampak membawa berbagai ubarampe dan sajian tradisional yang disiapkan sebagai bagian dari prosesi ruwahan.
Nuansa religius bercampur dengan suasana budaya terasa kuat. Masyarakat mengikuti jalannya acara dengan tertib, sambil memanjatkan doa-doa sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan permohonan keselamatan bagi seluruh warga.
Tradisi nyadran ini juga menjadi momentum untuk mempererat persaudaraan antarwarga. Gotong royong tampak jelas mulai dari persiapan acara, penataan lokasi, hingga pelaksanaan prosesi yang dilakukan bersama-sama tanpa memandang perbedaan.
Bagi masyarakat Nglindur, nyadran bukan sekadar tradisi, melainkan bagian dari kehidupan yang mengajarkan kebersamaan, kesederhanaan, dan rasa hormat terhadap sejarah.
Mahasiswi KKN UNS Kagum Ikuti Nyadran Pertama Kali
Salah satu peserta yang turut hadir dalam kegiatan tersebut adalah Bernandeta Agya, mahasiswi KKN dari Universitas Sebelas Maret (UNS). Ia mengaku baru pertama kali mengikuti tradisi nyadran dan merasakan pengalaman yang begitu berkesan.
Bernandeta mengungkapkan kekagumannya terhadap kekayaan kearifan lokal yang ada di Gunungkidul, khususnya di Gedhong Karang. Ia juga merasakan suasana sakral yang begitu kuat selama prosesi berlangsung.
“Sangat kagum dan juga merasakan kesakralan upacara adat nyadran yang ada di sini. Ternyata kearifan lokal di Gunungkidul luar biasa,” pungkasnya.
Menurutnya, tradisi seperti ini menjadi pelajaran penting bagi generasi muda, terutama mahasiswa pendatang, untuk lebih memahami budaya lokal dan menghargai warisan leluhur yang masih dijaga hingga saat ini.
Tradisi Nyadran Jadi Identitas Budaya Gunungkidul
Nyadran Gedhong Karang menjadi bukti bahwa masyarakat Gunungkidul masih memegang kuat tradisi dan nilai budaya. Di tengah arus modernisasi, kegiatan ruwahan ini tetap berdiri kokoh sebagai pengingat bahwa budaya lokal tidak boleh hilang begitu saja.
Tradisi nyadran juga dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga jati diri masyarakat Jawa, khususnya di wilayah pesisir selatan Gunungkidul. Melalui ritual doa bersama, ziarah, serta kebersamaan warga, tradisi ini bukan hanya menjaga hubungan manusia dengan Tuhan, namun juga menjaga hubungan manusia dengan leluhur dan alam sekitar.
Dengan adanya dukungan dari pemerintah daerah serta perhatian dari tokoh-tokoh budaya, masyarakat berharap tradisi nyadran di Gedhong Karang dapat terus berjalan dan bahkan berkembang menjadi salah satu ikon budaya yang memperkuat identitas Kalurahan Nglindur di mata publik.
Kekompakan masyarakat, semangat gotong royong, serta kesadaran menjaga warisan leluhur menjadi modal utama agar Nyadran Gedhong Karang tetap lestari dari generasi ke generasi.