
JogjaBerkabar.com – Jogja Expo Center (JEC) dipenuhi suasana haru dan kekhidmatan pada Selasa malam (18/11/2025) ketika ratusan orang dari berbagai latar belakang berkumpul dalam Haul ke-7 Ambar Polah.
Acara yang mengusung tema Nyanyian Rakyat itu bukan sekadar seremonial tahunan, tetapi perjumpaan emosional antara keluarga, sahabat, hingga penggemar yang ingin mengenang sosok seniman berjiwa kritis tersebut.
JEC yang pada malam itu dipadati oleh pengunjung menjadi bukti kuat bahwa nama Ambar Polah tetap dikenang dan dirindukan.
Peringatan ini terasa semakin istimewa dengan penampilan Opick, penyanyi religi yang dikenal luas. Ia membawakan empat lagu, termasuk ‘Shollu Ala Muhammad’ dan ‘Ya Maulana’, yang menghadirkan nuansa syahdu sekaligus menguatkan semangat doa bersama untuk almarhum.
“Mudah-mudahan kita bersama tidak hanya di sini, tetapi juga di Surganya Allah nanti,” ucap Opick, menegaskan kembali semangat kebersamaan yang menjadi ciri khas perjalanan hidup Ambar Polah.
Karya-Karya yang Menggema Sebagai Kritik Sosial
Tujuh tahun setelah kepergiannya, karya-karya Ambar Polah tetap hidup dan relevan di tengah masyarakat. Karyanya yang paling dikenal—Kusni Kasdud, Kongkalikong, dan Nyanyian Rakyat menjadi simbol perlawanan terhadap situasi politik Orde Baru sekaligus medium suara publik yang tidak mampu menyampaikan kritik secara langsung.
Sebagai seniman, Ambar Polah berani menyuarakan ketidakadilan melalui seni yang lugas namun mengena, menjadikannya ikon penting dalam dunia seni perlawanan di Indonesia.
Nilai-nilai yang ia tanamkan lewat karya-karyanya bahkan kini menjadi referensi generasi baru yang terus belajar tentang keberanian dan kepekaan sosial.
Istrinya, Mursupriyani atau Yani, mengenang sosok almarhum dengan penuh cinta dan penghormatan.
“Beliau merupakan inspirasi saya. Saya hanya tahu, bahwa beliau patut saya cintai apa adanya. Kamulah inspirasi yang selalu hadir,” ujar Yani, mengungkapkan rasa kehilangan yang tetap ia rasakan.
Perjalanan Multitalenta: Dari Seniman, Aktivis Kreatif, hingga Penggerak Ekonomi
Di balik reputasinya sebagai seniman kritik sosial, Ambar Polah dikenal memiliki perjalanan hidup yang penuh ketekunan. Ia memulai langkahnya sebagai pelaku bisnis kecil, mulai dari usaha barang antik, bekerja sebagai pemandu wisata, hingga menemukan jalannya pada industri furnitur dan kerajinan yang kemudian membesarkan namanya.
Konsistensinya mengembangkan industri kreatif membawanya menduduki sejumlah posisi penting, seperti Ketua Asmindo DIY, Ketua DPP Asmindo Indonesia, hingga menjadi perwakilan Indonesia di kancah ASEAN dan global sebagai Ketua AFIC dan CAFA.
Jejak perannya tidak hanya berpengaruh di lingkup seni, tetapi juga di dunia usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Perwakilan KADIN DIY, Robby Kusumaharta, menyampaikan harapannya agar semangat Ambar Polah terus menjadi inspirasi bagi pegiat UMKM.
“Semoga karya-karyanya membuat kita berkomitmen untuk bergerak membangun ekonomi UMKM, dan ekonomi kreatif,” ujarnya.
Warisan yang Melampaui Zaman
Kehadiran ratusan orang dalam haul tersebut menjadi cerminan luasnya pengaruh yang ditinggalkan Ambar Polah. Dari kritik sosial yang menggugah kesadaran publik hingga kontribusinya terhadap perkembangan industri kreatif, sosoknya telah menjadi tokoh berjasa bagi banyak orang.
Ambar Polah bukan hanya dikenang sebagai seniman, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi, pemimpin organisasi, dan pribadi yang mampu memberikan semangat bagi masyarakat. Tujuh tahun berlalu, namun jejak warisannya tetap hidup di hati banyak generasi.***