
JOGJA BERKABAR – Mukit Hendrayatno, Ketua Umum PPJAI sekaligus pengusaha sukses di berbagai lini bisnis, mendorong jamu tradisional naik kelas melalui digital marketing, kolaborasi kampus, hingga penguatan UMKM bersama Ethos Kreatif Indonesia.
Nama Mukit Hendrayatno semakin dikenal luas sebagai sosok pengusaha sukses yang mampu meramu tradisi dengan inovasi modern.
Melalui berbagai lini bisnis, mulai dari industri jamu, Klinik Yayasan Amal Bunda, hingga penguatan UMKM bersama PT Ethos Kreatif Indonesia, Mukit menunjukkan bahwa warisan leluhur dapat menjadi motor penggerak ekonomi jika dikemas secara profesional dan berbasis teknologi.
Jamu, Warisan Nusantara yang Naik Kelas
Sebagai Ketua Umum Perkumpulan Pelaku Jamu Alami Indonesia (PPJAI), Mukit Hendrayatno menegaskan bahwa jamu bukan hanya sekadar minuman tradisional, melainkan bagian dari industri bernilai ekonomi tinggi.
Dalam kegiatan Sinergitas Pentahelix 2025 di Purbalingga, ia menyampaikan bahwa digital marketing menjadi kunci penting untuk memperluas pasar jamu di era modern.
Menurut Mukit, industri jamu telah menyerap lebih dari 15.000 tenaga kerja, mulai dari petani, peternak, hingga tenaga pemasaran.
Ia menekankan bahwa 90 persen bahan baku jamu masih berasal dari lokal, sehingga keberadaannya turut mendukung kemandirian ekonomi nasional.
Mukit juga konsisten menolak penggunaan Bahan Kimia Obat (BKO) dalam produk jamu karena membahayakan masyarakat dan tidak berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa jamu harus tetap berpijak pada bahan alami agar kepercayaan konsumen tetap terjaga.
Digitalisasi UMKM Bersama Ethos Kreatif Indonesia
Selain berkiprah di industri jamu, Mukit Hendrayatno juga menjabat sebagai Komisaris Utama PT Ethos Kreatif Indonesia (Ethos). Melalui perusahaan ini, ia aktif mendorong digitalisasi UMKM agar lebih kompetitif di era pasar online.
Kolaborasi nyata dilakukan bersama Pemerintah Kabupaten Banyumas dengan menghadirkan pelatihan gratis bagi para pelaku UMKM.
Program ini mengajarkan strategi digital marketing praktis, mulai dari pemanfaatan TikTok hingga penjualan berbasis media sosial. Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, bahkan menganugerahi Mukit gelar “Bapak UMKM Digital Marketing Banyumas 2025” atas kontribusinya.
Dalam setiap kesempatan, Mukit selalu menekankan bahwa kunci sukses digital marketing terletak pada keunikan produk dan konsistensi konten, bukan sekadar teknologi atau peralatan mahal.
Kolaborasi dengan Kampus dan Dunia Pendidikan
Mukit Hendrayatno juga aktif menjalin kerja sama dengan berbagai kampus, seperti Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), dalam mengembangkan riset dan regulasi pendidikan jamu.
Langkah ini bertujuan memperkuat dasar ilmiah jamu sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) sekaligus peluang ekonomi.
Melalui dialog interaktif, ia mendorong generasi muda untuk tidak hanya fokus pada pemasaran, tetapi juga memahami aspek legalitas produk, seperti izin edar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Dengan demikian, jamu Indonesia mampu bersaing secara sehat di pasar global.
Etawalin, Bukti Nyata Inovasi Produk Herbal
Kiprah Mukit juga tercermin dari dukungannya terhadap Etawalin, susu herbal berbasis susu kambing etawa dan racikan rempah seperti jahe, temulawak, serta kayu manis. Produk ini telah mengantongi sertifikasi BPOM dan halal, sehingga aman untuk dikonsumsi jangka panjang.
Etawalin tidak hanya menjadi produk kesehatan, tetapi juga sponsor dalam berbagai event olahraga nasional, termasuk Etawalin Dieng Run 2024 yang berhasil menarik ribuan peserta dari seluruh Indonesia.
Mukit berharap kegiatan semacam ini tidak hanya memperkenalkan produk lokal, tetapi juga mendongkrak sektor pariwisata dan ekonomi daerah.
Peran Sosial dan Kepemimpinan
Selain berfokus pada bisnis, Mukit Hendrayatno juga dikenal sebagai tokoh yang peduli pada kegiatan sosial. Melalui Yayasan Amal Bunda, ia menghadirkan layanan kesehatan gratis dan berbagai program pemberdayaan masyarakat.
Tidak hanya itu, Mukit juga dipercaya sebagai Wakil Ketua Bidang Ekonomi Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KB PII). Dalam perannya, ia menegaskan pentingnya membangun ekosistem bisnis yang sehat, berbasis nilai, serta mampu mengangkat UMKM agar naik kelas.
Kisah perjalanan Mukit Hendrayatno mencerminkan bahwa perpaduan antara tradisi dan teknologi dapat menciptakan peluang besar bagi perekonomian bangsa.
Dari jamu tradisional hingga digitalisasi UMKM, dari Etawalin hingga Klinik Yayasan Amal Bunda, ia berhasil membuktikan bahwa inovasi dan komitmen dapat membawa bisnis lokal bersaing di tingkat nasional, bahkan global.
***