Ratusan Hektare Lahan Pertanian di Gunungkidul Alami Kekeringan Berat dan Gagal Panen

Bagikan :

Ratusan lahan pertanian padi di Kabupaten Gunungkidul, mengalami dampak kekeringan akibat musim kemarau.

Setidaknya 420 hektare lahan pertanian di Gunungkidul dikatakan mengalami kondisi kekeringan berat hingga mengalami puso atau gagal panen.

Hal itu disampaikan Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul, Raharjo Yuwono. Dia membeberkan, tanaman puso akibat kekeringan di Semin mencapai 242 Ha, sementara di Ngawen 178 Ha sisanya secara sporadis tersebar di wilayah kapanewon lain.

Raharjo menjelaskan sebagian tanaman padi di Gunungkidul alami puso akibat ketiadaan pasokan air. Hal itu membuat para petani harus memangkas tanaman mereka yang belum waktunya panen. Mereka memanfaatkan jeraminya untuk pakan ternak.

Dia memperkirakan tanaman padi yang alami puso akan meluas mengingat musim penghujan masih lama.

“Kekeringan terjadi paling banyak di kapanewon Semin dan Ngawen yang berada di wilayah utara Gunungkidul,” ungkap Raharjo pada, Rabu (17/7/2024).

Hal itu lantaran, pada musim kedua tanam di Gunungkidul ternyata dampak kekeringan masih terasa karena kemarau datang lebih cepat yakni bulan Mei sudah tidak terjadi hujan. Akibatnya, kekeringan melanda pertanaman baik padi maupun jagung. Luas tanam existing pada musim tanam 2 di kisaran 7600 Ha.

“Sampai sekarang, data kami menyebutkan kekeringan saat ini mencapai total hampir 5% dari seluruh pertanaman padi yang ada,” katanya.

Menurutnya kondisi seperti itu sangat berpengaruh pada kebutuhan air irigasi pertanian. Pasalnya, beberapa lokasi pertanaman masih tersedia sumber air dan sebagian pertanaman juga tidak ada sumber air.

Ia menilai El Nino atau bencana kekeringan tidak hanya terjadi di Indonesia saja, namun juga melanda secara global di tahun 2024 ini. Dampaknya, musim tanam pun juga ikut mundur yang mana sampai Januari 2024 akhir baru terjadi curah hujan untuk permulaan musim tanam pertama di Gunungkidul.

Ia mengklaim cadangan pangan masih aman untuk jangka waktu satu tahun ke depan meski mengalami bencana kekeringan.

Hal itu terlihat pada hasil panen padi pada luasan 45.530 Ha mampu memproduksi 213.431 ton gabah kering giling (GKG) pada musim tanam I kemarin. Kemudian luas panen jagung mencapai 42.453 Ha dengan produksi 244.745 ton pipil kering.

“Cadangan pangan aman sampai satu tahun kedepan dengan catatan, hasil padi disimpan di rumah tangga petani sedang hasil jagung dijual,” terangnya.

Pihaknya juga telah mensiasati El Nino sejak jauh hari. Salah satunya, pemberian rekomendasi BBM solar bersubsidi untuk operasional pompa air tanah dalam. Rekomendasi itu, akan diberikan ke kelompok tani atau perkumpulan petani pemakai air (P3A) pengelola pompa irigasi.

“Harapannya tentu biaya yang dikeluarkan petani bakal lebih murah dan terjangkau petani,” ujarnya.

Pemerinrah juga menyalurkan pemberian bantuan pompa air dari Kementan sampai dengan Juli 2024 disalurkan 54 unit pompa air 3 inc dan 4 inch serta 6 inch. Pembangunan irigasi perpompaan dan irigasi perpipaan 42 unit sebagai salah satu mitigasi agar ke depan dampak kekeringan dapat diminimalisir.

Berita Terkini