Pemuda Kalangan Hidupkan Semangat Kemerdekaan Lewat Lomba, Tari, hingga Teater Rakyat

Bagikan :

Gunungkidul – Suasana bulan Agustus di Dusun Kalangan, Kalurahan Ngipak, Kapanewon Karangmojo, terasa begitu semarak. Pemuda dan masyarakat setempat berkolaborasi menyusun rangkaian kegiatan peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia. Mulai dari lomba rakyat, pentas seni, hingga pementasan teater dengan nuansa sejarah lokal, seluruh kegiatan dirancang untuk membangkitkan kembali semangat kebersamaan dan cinta tanah air.

 

Sejak 10–22 Agustus 2025, warga Kalangan tumpah ruah mengikuti berbagai lomba 17-an. Kompetisi ini dibagi ke dalam tiga kategori: anak-anak, ibu-ibu, dan bapak-bapak. Anak-anak meramaikan lomba tradisional seperti balap karung, estafet tepung, balap kardus, hingga estafet air. Sementara ibu-ibu unjuk ketangkasan lewat lomba masukkan paku, kardus bola, hingga bola terong. Untuk bapak-bapak, ajang “voli plastik” menjadi daya tarik tersendiri karena sarat humor sekaligus adu strategi.

 

“Kami ingin seluruh warga, dari anak-anak sampai orang tua, merasa memiliki momentum kemerdekaan ini. Bukan sekadar lomba, tapi ruang kebersamaan, tempat tawa, dan simbol persatuan,” ujar Pratisna, atau akrab disapa Mas Sibag, selaku koordinator pemuda Kalangan.

 

Puncak perayaan hadir pada Sabtu, 23 Agustus 2025, ketika Forum Pemuda Kalangan menggelar Pentas Seni Kemerdekaan di Balai Padukuhan Kalangan. Acara dimulai pukul 19.30 WIB, menghadirkan penampilan putra-putri kebanggaan Kalangan dengan tarian tradisional seperti Tari Yen Esuk Sugeng Enjang, Tari Anak Indonesia, Tari Caping Ayu, Tari Jaranan, Tari Gugut Gunung, Tari Angguk Angglang, hingga Tari Angguk Manis. Tak ketinggalan penampilan musik, baca puisi, dan nyanyian yang semakin memperkaya atmosfer malam kebersamaan itu.

 

Yang membuat pentas kali ini istimewa adalah penampilan Teater Clumpring dengan lakon berjudul “Gerayak: Gerakan Rakyat Kelaparan”. Naskah ini diangkat dari kisah nyata perlawanan rakyat Gunungkidul tahun 1960, ketika paceklik dan gagal panen membuat masyarakat kelaparan. Saat itu, warga melakukan gerakan kolektif menentang korupsi pejabat yang menyalahgunakan bantuan pangan.

 

Pertunjukan “Gerayak” bukan hanya sekadar teater, melainkan refleksi sosial yang kuat. Para pemain seperti S. Harmanto, Upik, Andi, Icha, Niken, Manda, Wawang, Bandhan, Alka, Azahra, Suradi, dan Aisyah dengan iringan musik Sabita, Bambang, Gara, Fandi, Bayu, dan Rifqi, menampilkan perlawanan rakyat kecil yang menggugat ketidakadilan sekaligus menyuarakan pesan moral: jangan pernah abai pada penderitaan sesama.

 

Mas Sibag menegaskan, “Lewat teater ini kami ingin generasi muda belajar dari sejarah. Bahwa kemerdekaan bukan hanya hasil perjuangan melawan penjajah, tapi juga perjuangan rakyat melawan ketidakadilan, kemiskinan, dan keserakahan. Semoga pesan itu bisa sampai ke hati penonton.”

 

Selain pertunjukan seni, panitia juga menyiapkan doorprize menarik berupa kambing, bebek, ayam, dan hadiah lain. Hal ini semakin menambah antusiasme masyarakat untuk hadir sekaligus memperkuat tradisi guyub rukun yang menjadi ciri khas dusun.

 

Rangkaian kegiatan ini menunjukkan bahwa pemuda Kalangan mampu menghadirkan perayaan kemerdekaan yang tidak sekadar seremonial, tetapi juga mendidik, menghibur, sekaligus mencerahkan. Dari lomba rakyat yang meriah, tarian tradisional yang lestari, hingga teater rakyat yang penuh makna, semuanya menjadi wujud nyata semangat gotong royong yang diwariskan para pendiri bangsa.

 

“Kami percaya, kemerdekaan harus selalu dirayakan dengan cara yang mendekatkan kita sebagai warga, sekaligus mengingatkan tentang tanggung jawab sosial kita. Itulah makna perayaan 17-an di Kalangan tahun ini,” tutup Mas Sibag.(Hari)

 

Berita Terkini